ELLE WEDDING Series

ELLE WEDDING Series
Bandara


__ADS_3


...ELLE WEDDING Series 2...


...Prahara Pernikahan...


...[Bandara]...


Elle


Ia sedang membereskan barang-barangnya yang akan ia bawa pulang ke Ibu Kota.


Sebenarnya ia tidak mempunyai banyak barang yang ia beli dan ia punya karena ia bukan tipe orang yang suka membeli barang yang tidak dibutuhkan, ia lebih memilih membeli skincare daripada baju ataupun hal sebagainya.


Sekarang ia sedang membereskan semua barang Ella, ternyata memiliki seorang bayi sangat repot karena membutuhkan ekstra perhatian dan juga banyak barang yang diperlukan untuk seorang bayi tapi walaupun seperti itu, ia tetap menikmatinya karena ia tidak sendiri karena ada Dea dan Tante Nana yang selalu membantu nya untuk semua keperluan Ella.


Ia juga berjanji akan memberikan yang terbaik untuk Ella, ia tidak ingin semua kepahitan yang ia alami saat masa kecil terulang pada Ella, ia tidak akan membiarkannya.


Cukup sampai pada dirinya saja jangan sampai Ella merasakan bagaimana menjadi anak yang miskin dan tanpa kasih sayang kedua orang tua.


Walaupun Ella hanya mempunyai dirinya sebagai orang tua tapi ia akan berusaha untuk membuat Ella mengerti, suatu hari nanti.


-


Ini sudah malam tapi ia masih belum bisa memejamkan matanya walaupun ia sudah lelah mengasuh Ella seharian, itu tidak membuatnya mengantuk.


Ia malah tidak merasa mengantuk sama sekali.


Apa karena besok ia akan pulang jadi membuatnya tidak mengantuk sama sekali.


Entahlah!


Semoga setelah pulang ke Ibu Kota, hidupnya akan kembali seperti semula dan Abang Ars juga kembali pada kehidupannya yang semula.


Mengingat Abang Ars!


Ia hanya bisa menghebuskan nafasnya perlahan karena ia juga merasa jengah dengan sikap Abang Ars yang ngotot untuk bertanggung jawab karena menurutnya, percuma juga.


Tanggung jawab Abang Ars sungguh percuma karena kehidupan Abang Ars sudah sangat sempurna, ia tidak ingin merusaknya.


Dan Sha?


Mengingat dia ia hanya bisa geleng-geleng kepala saat mengingat bagaimana Sha mendukung Abang Ars untuk menikahinya, walaupun Sha mengatakan padanya kalau dia ikhlas, ia tau dari hati Sha yang paling dalam, Sha juga terluka.

__ADS_1


Heh ayolah! Wanita mana yang rela di madu.


Ia sungguh yakin, Sha melakukan itu agar Abang Ars tidak selalu melamun dan jika Sha mau menyerah/cerai, dia tidak bisa karena sudah ada anak di antara mereka.


Ia tau Sha tidak ingin putranya tumbuh dengan keadaan keluarganya yang tidak lengkap apalagi silsilah keluarga mereka tidak ada yang bercerai selalu hidup harmonis.


Maka dari itu Sha mencoba ikhlas untuk menerima keadaan dan tetap optimis.


Ia hanya bergidik ngeri saat membayangkan semua itu.


" Semoga Abang Ars menyerah saja. " Katanya dalam hati.


Setelah mengatakan itu ia langsung melihat wajah Ella yang begitu sangat mirip padanya, ke bersyukur karena itu.


Mungkin ia akan merasa jengah kalau wajah Ella mirip Abang Ars karena ia yang mengandung dan ia yang di maki karena akan sangat tidak adil kalau Ella mirip Abang Ars.


Never ever (tidak akan pernah) !


Karena dari wajah Ella ia seperti melihat dirinya sendiri versi bayi.


" Selamat malam sayang. " Katanya sambil mencium kening Ella pelan dan memperbaiki selimut Ella lalu ia tidur dengan Ella yang ia peluk.


-


" Nggak ada Tan. " Katanya dengan pasti.


" Bye masa lalu. " Kata Dea dengan tidak tau malu karena suara Dea sungguh keras dan di depan juga ada supir yang hanya tersenyum sedikit melihat tingkah absurt Dea itu.


" Nggak usah teriak-teriak bocah! Anak gue lagi tidur. " Katanya pada Dea yang di balas hanya dengan cengengesan saja.


Ish!


" Ella anteng banget ya Ell. " Kata Tante Nana yang menatap Ella yang sedari tadi tidur di dekapan nya.


" Iya Tan, Ibu nya aja anteng apalagi anaknya. " Katanya dengan bercanda dan di balas dengan delikan oleh Tante Nana dan juga Dea.


Yeah!


Sisa perjalanan menuju Bandara di isi dengan obrolan ringan dan tertawa lepas tapi ia heran dengan supir yang ia sewa untuk mengantarnya hari ini ke Bandara, supir itu terlihat melihat Ella sesekali lewat kaca spion dan ia bisa melihat dengan jelas.


Ada apa ini?


Membuat hatinya tidak nyaman.

__ADS_1


-


Ia turun dari dalam mobil dan ia sangat terkejut saat melihat Abang Ars, Sha dan beberapa orang yang melihatnya turun dari mobil.


What's wrong? (Ada apa?)


Ia mencoba acuh dan tidak peduli, ia segera meminta Tante Nana dan Dea untuk membereskan koper mereka agar bisa cepat-cepat pergi dari hadapan Abang Ars yang sedari tadi menatap ke arahnya.


Sialan!


Ia memang tidak memberitahukan kepada Abang Ars kapan ia akan pulang ke Ibu Kota karena saat Abang Ars tanya ia hanya berkelit dan enggan untuk mengatakannya karena ia tidak mau Abang Ars nanti menghalanginya seperti sekarang.


Ish!


" Kamu pura-pura nggak lihat Abang ya dek. " Kata Abang Ars tepat dibelakangnya yang membuat ia tegang tapi ia mencoba acuh dan segera membereskan barang-barangnya.


" Ell, kamu bicara berdua dengan Ars dulu deh... Tante nggak nyaman karena diperhatikan sama sekitar kayak buronan aja deh. " Kata Tante Nana mendekat kearahnya dan berbicara sambil berbisik, ia langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar dan memang benar mereka di perhatikan orang sekitar karena ada polisi dan petugas Bandara.


Benar-benar ni orang!


Apalagi logat mereka yang tidak Malay menambahkan bahwa mereka orang asing yang sedang membuat ribut dengan warga asli sini dan berakhir seperti ini padahal kejadiannya bukan seperti itu.


" Kita bicara berdua. " Katanya pada Abang Ars yang sedang menatap tajam padanya dan di belakang ada Sha yang melihat mereka dengan tatapan entahlah...


" Nggak perlu, disini Abang cuma mau menjelaskan semuanya di hadapan semua orang. " Kata Abang Ars yang membuatnya kaget dan menganga seketika.


Abang Ars sedang bersikap angkuh!


" Apa Abang nggak malu, dilihat banyak orang begini? " tanyanya pelan dan mengedarkan pandangannya memang banyak orang yang melihat kearah mereka.


" Lebih baik dilihat banyak orang biar semuanya jelas daripada sembunyi-sembunyi dan kamu pasti selalu berkelit dek! Dan berkahir dengan sembunyi dan menghilang, seperti sekarang ini... Kamu mau pergi dan menghilang dengan tiba-tiba padahal saat Abang bertanya, kamu selalu saja berkelit tanpa mau mengatakan takut kalau kamu akan menyakiti orang lain, tapi sifat kamu yang berkelit juga menyakiti Abang dek, menyakiti Ella saat dia sudah dewasa nanti dan juga menyakiti diri kamu sendiri. " Kata Abang Ars dengan lancar di hadapan semua orang.


" Abang nggak usah ngawur ataupun ngaco ya, nggak usah bikin malu. " Katanya dengan pelan dan jengah apalagi saat ia menatap ke arah Abang Ars maka ia juga bisa melihat Sha yang sedang mengusap sudut mata yang keluar air mata.


Ia bisa melihat dengan jelas walaupun wajah Sha di tutupi dengan niqab.


Ah ya ampun!


" Cukup Abang! Kalau Abang nggak bisa di ajak ngomong baik-baik mendingan aku aja yang pergi, percuma juga ngomong sama orang yang lagi emosi. " Katanya dan ingin segera berbalik dan berharap bahwa semua yang terjadi saat ini segera berlalu tapi itu hanya angan-angan saja karena saat ia akan melangkah, suara Abang Ars terdengar dan mengatakan...


" Lihat kan? Sekarang pun kamu berkelit lagi karena apa? Karena kamu malu atau apa hm? " kata Abang Ars yang menghentikan langkahnya sejenak tapi itu tidak membuatnya menoleh dan setelah beberapa detik ia terdiam ia pun langsung melangkah lagi dengan pasti tapi suara Abang Ars terdengar lagi dan mengatakan...


" Aku adalah Ayahnya, tapi kenapa kamu mau menjauhkan bayi yang masih berusia dua hari itu dari Ayah kandungnya sedangkan Ibu kandungnya sendiri memiliki trauma, apakah bisa seorang Ibu yang memiliki trauma menjaga anak yang masih bayi? Apakah bisa seorang Ibu mendapatkan hak asuh anak kalau sang Ibu memiliki trauma? " kata Abang Ars dengan lancar dan lantang yang langsung saja membuat kaki terhenti melangkah dengan seketika dan di saat itu, orang-orang mulai berbisik-bisik dan ia pun memejamkan matanya seketika.

__ADS_1


-


__ADS_2