
ELLE WEDDING.
[Episode 25 ~ Tragedi Cinta Satu Malam]
Elle
" Kesini bisa? " kata orang di seberang sana yang membuatnya ternganga seketika.
" Hah? woy! Lihat donk sekarang udah tengah malam. " Katanya sewot, lagian kenapa harus menghubungi dia?
Kan bisa saja hubungi istrinya saja.
Ck, menyebalkan!
" Cih! Ini di Ibu Kota kalau loe lupa! Jam segini mah masih sore. " Kata orang di seberang sana tak kalah sewot.
" Bodo amat, gue nggak peduli... udah urusin sana temen loe, dan hubungi istrinya saja jangan hubungi gue lagi. " Katanya kesal.
Bagaimana mungkin ia keluar pada tengah malam hanya untuk menjemput pria ber istri?
" Woy! Jangan rese. " Ujar orang di seberang sana sambil diikuti suara gaduh.
" Kan jadi khawatir! "
" Woy buruan kesini,alamat gue kirim lewat chat bye!! " kata orang di sebrang sana dan memutuskan sambungan telepon sepihak.
Cih tidak sopan!
[*Suara kodok ~ pesan masuk]
AbangArsyaOn : Street Club, Senaya Ibu Kota*
Ah menyebalkan!
" Pergi tidak ya? " katanya bergumam dengan pelan.
" Atau aku hubungi istrinya saja ya? " katanya lagi sambil bergumam dan mondar-mandir di ruang keluarga.
" Tapi aku nggak punya nomor istrinya. " Katanya meringis saat mengingat karena memang benar ia tidak memiliki nomornya Akak Shaila.
Di tengah rasa gundah hatinya, antara pergi menolong atau tidak tiba-tiba suara pesan masuk muncul yang membuatnya langsung bergegas keluar dari rumah dan mengunci pintunya, naik ke dalam mobil dan tidak lupa untuk mengunci pintu pagar kembali dan tanpa pamit kepada Dea yang sedang tidur di rumah ia langsung melajukan mobilnya di daerah Senaya, Ibu Kota.
[*Suara kodok ~ pesan masuk]
AbangArsyaON : [Video] Woy buruan kesini, nih orang mulai jadi biang kerok*!
Sialan!
Setelah melihat video yang dikirim oleh Josh menggunakan nomor Abang Ars, ia langsung menuju ke street club tanpa mengganti bajunya, tapi bajunya cukup sopan kok!
Heh! Siapa yang pergi ke club menggunakan baju sopan?
Never ever (tidak pernah)
Dan ia juga menggunakan sendal jepit warna kuning, favoritnya!
--
" Ini bawa yang bener ye! " kata Josh setelah meletakkan Abang Ars di dalam mobilnya karena tidak mungkin ia membopong tubuh tinggi dan kekar Abang Ars sendiri right?
" Hati-hati. " Kata Josh dengan senyuman penuh arti.
__ADS_1
Ck, apaan sih!
Ia hanya mendengus melihat senyuman menyebalkan Josh.
Dan tanpa mengucapkan terimakasih ia langsung masuk ke dalam mobil dan melajukannya tanpa basa-basi ataupun permisi kepada Josh.
Bodoamat lah!
Walaupun di kaca spion mobilnya ia melihat Josh yang komat-kamit yang marah dengan perilakunya.
Pokoknya bodoamat.
Sekarang ia berfikir harus di bawa kemana Abang Ars?
Tidak mungkin balik ke rumahnya karena di rumahnya ada Dea, dan ia malas jika harus di tanyain begitu banyak pertanyaan.
Dan jika ia membawa Abang Ars ke rumah selama Abang Ars tinggal di Ibu Kota, ia tidak tau alamatnya?
Apakah orang mabuk bisa menjawab pertanyaan dengan benar?
Karena sekarang ia benar-benar kehabisan ide untuk hal seperti ini?
" Aduh semakin malam lagi. " Katanya saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
---
Ia meletakkan tubuh besar dan kekar Abang Ars di ranjang king size di sebuah apartemen yang terletak di kawasan elit di Ibu Kota.
Ia tidak tau apa yang sedang di pikiran Abang Ars sekarang karena Abang Ars sedang mabuk tapi masih teringat dengan jelas apartemennya bahkan beserta password-nya.
" Apartemen High Class, Pondok Resik Ibu Kota.
" Ah capeknya. " Katanya saat sudah meletakkan Abang Ars.
Dan ia tidak perlu mengganti baju Abang Ars karena ia malas dan juga itu dosa karena Abang Ars sudah ber istri lebih tepatnya bukan muhrim.
" Eh! " katanya tersentak kaget saat pergelangan tangannya di pegang erat oleh Abang Ars saat ia akan berbalik dan pergi dari sana juga.
Tapa mata Abang Ars masih tertutup, ah cuma mimpi.
Dengan perlahan ia melepaskan tangan Abang Ars dari pergelangan tangannya tapi yang terjadi malah tidak terduga.
" Oek! " kata Abang Ars memutahi pergelangan tangannya yang langsung membuatnya meringis jijik.
Dan dengan kasar ia menyentak, melepaskan genggaman tangan Abang Ars dari pergelangan tangannya dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan pergelangan tangannya.
" Ish menjijikkan! " katanya sebal sambil membasuh pergelangan tangannya dengan sabun dan air.
" Sekarang aku terjebak. " Katanya sebal saat sudah selesai mencuci pergelangan tangannya dan melihat ke arah ranjang yang terdapat Abang Ars yang masih mabuk dengan muntahan Abang Ars yang menyebar.
" Ah sungguh menyebalkan malam ini. " Gerutunya dalam hati.
Ia membopong Abang Ars untuk ke kamar mandi karena ranjang itu sungguh sudah berantakan dan kotor padahal tadi pas datang masih wangi dan rapi tapi semua itu tidak lagi saat Abang Ars tiduran di sana beberapa saat.
" Uh ya ampun beratnya. " Gerutunya dan mendudukkan Abang Ars di closed sambil membuka kemeja Abang Ars yang sudah terkena muntahan.
Dan dengan perlahan ia melepaskan kemeja itu dan mengelap tubuh Abang Ars dengan pelan.
" Uh kenapa sungguh panas? " kata Abang Ars dengan gelisah di barengi dengan keringat yang muncul di permukaan kulit.
" Ya ampun panasnya. " Kata Abang Ars lagi.
" Eh Abang mau apa? " katanya kaget saat melihat Abang Ars yang akan membuka celana.
__ADS_1
Emangnya tidak melihat ada ia?
" Elle? " kata Abang Ars dengan mata memicing.
" Eh masih ingat aku ternyata. " Gumamnya pelan.
" Elle? " kata Abang Ars sambil memegang kedua pipinya.
This is danger! (ini sangat gawat!)
" Eh Abang jangan seperti ini. " Katanya mencoba melepaskan tangan Abang Ars yang masih berada di pipinya.
" Elle. " Kata Abang Ars dengan secepatnya kilat menindihnya dan memandangnya dengan sorot mata sayu.
" Abang lepaskan. " Katanya meronta-ronta saat merasakan tangan Abang Ars bergerilya di sepanjang tubuhnya.
" Kamu nggak bakal bisa kabur dari ku lagi Ell. " Kata Abang Ars dengan senyuman menyebalkan nya.
Dan sebelum ia menjawab Abang Ars sudah membungkam mulut nya dengan sebuah ciuman yang bruntal, ciuman yang tergesa-gesa dan terasa sangat menyakitkan ini.
Dan dengan sekuat tenaganya ia mencoba melepaskan diri, namun nihil tenaganya kalah dengan Abang Ars yang tinggi dan kekar.
Ia masih mencoba meronta.
Jangan seperti ini.
Ia menangis dalam ketidakberdayaan ini, kenapa ia malah terjebak seperti ini tolong lah.
Ia bahkan memukul badan Abang Ars tapi sama sekali tidak berpengaruh.
---
Ia masih menangis, sekarang ia polos dengan selimut yang menutupi tubuhnya, inti tubuhnya terasa sakit karena kehormatannya sudah di ambil dengan paksa.
Dan dengan tenaga yang masih tersisa ia langsung meraih pakaiannya yang sudah sobek dimana-mana dan memakai nya dengan air mata yang terus jatuh dari matanya.
Ia bahkan tidak sudi menoleh ke arah ranjang di mana Abang Ars berada, dimana orang yang telah merenggut kehormatannya yang masih tidur setelah melampiaskan hasratnya.
Apakah sesakit ini?
Dan setelah selesai berpakaian ia langsung keluar dari apartemen itu dengan tangisan yang semakin deras dan semakin sesak dalam hatinya.
Seharusnya ia tidak boleh pergi begitu saja setelah di nodai.
Seharusnya ia harus meminta pertanggungjawaban.
Tapi ia tidak bisa melakukan itu karena Abang Ars sudah ber istri dan sebentar lagi akan menjadi seorang Daddy.
Lalu bagaimana dengan dirinya?
Dia memikul beban itu sendiri.
Niatnya hanya untuk menolong malah berkahir dengan malapetaka untuknya.
Adakah kebahagiaan untuknya suatu hari nanti?
Bahkan saat sudah dalam mobil ia hanya menangis, dan merasakan tidak mampu untuk menyetir pulang dan masih meletakkan kepalanya di setir mobil.
•
•
•
__ADS_1
Habis baca WAJIB TEKEN LIKE, VOTE dan komentar di bawah :(