
"Apa yang terjadi, Sayang?" Tanya Arkhan begitu sabar kepada istrinya.
"Endro demam, Sayang. Dia begitu merindukan istrinya, sampai-sampai dia rela hujan-hujanan di pemakaman. Dan melihat kondisi seperti itu, Nummi kita menjadi khawatir dan merasa bersalah sekali saat ini." Ujar Desri memberitahukan apa yang diceritakan putrinya tadi lewat telepon.
"Lalu... Bagaimana keadaan Endro sekarang, Sayang?" Tanya Arkhan lagi ikut cemas.
"Kata Nummi, Bi Hana dan Pak Harun sudah memberikannya minuman hangat. Mungkin Nummi benar-benar merasa bersalah, hingga dia sampai sesenggukan gitu, Sayang. Kamu kan tahu sendiri bagaimana Nummi. Dia pasti juga sangat mengkhawatirkan Endro." Tutur Desri menenangkan suaminya yang juga tampak khawatir mendengar kondisi mantan pengawalnya itu.
"Sudah... Kamu tidak usah khawatir begitu, Sayang. Ayo kita tidur. Endro dan Nummi pasti baik-baik saja, kok. Palingan Nummi sekarang juga sudah mulai tidur lagi." Ajak Desri kepada suaminya yang masih tampak tertegun.
Arkhan tersenyum meski sedikit dipaksakannya. Dia mengangguk dan berbaring menghadap ke arah Desri.
*****
Matahari hampir menyetarai puncak kepala. Siang itu panasnya terlalu menyengat, sehingga Nummi berbalik hendak masuk ke dalam rumah. Mungkin menyalakan kipas di dalam rumah lebih baik baginya daripada harus duduk di teras yang semakin lama semakin mengancam kulit tipisnya, karena panas Mentari telah mencapai setiap sudut ruang terbuka di sana.
Belum sepenuhnya tubuh Nummi menghilang di balik pintu rumah, sedan milik keluarga Ghani yang begitu ia hapal suara mesinnya tiba-tiba masuk ke dalam pekarangan rumah minimalis sederhana itu hingga langkahnya ikut terhenti karenanya.
Terlihat sepasang suami istri turun dari dalam mobil itu.
"Ayah... Bunda..." Panggil Nummi dengan mata membulat menyambut kedatangan mereka yang tidak lain Arkhan dan Desri. Kedua telapak tangannya sejajar menutupi mulutnya yang sedikit ternganga. Dia terkejut. Seakan-akan kejutan yang tidak terduga dari mereka yang datang, ternyata Ayah dan bundanyalah.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum bidadarinya Ayah..." Sapa Arkhan menyambut hamburan tubuh putri satu-satunya itu.
"Wa'alaikumussalam Ayah..." Sahut Nummi ketika masih berada dalam pelukan Arkhan. Dia sedikit merengut dengan kedatangan orang tuanya yang begitu tiba-tiba. Tapi wajahnya tidak bisa berbohong dari kebahagiaan yang saat itu ia rasakan.
"Hemm... Sepertinya Nummi kami hanya rindu ayah saja. Bundanya sampai-sampai dicuekin begini." Ucap Desri memanyunkan bibirnya berlagak bersungut.
Nummi melepaskan diri dari pelukan Ayahnya dan segera berpindah ke pelukan Bundanya. "Siapa bilang? Nummi juga rindu Bunda, kok." Belanya.
"Benneeer?" Goda Desri seolah tidak percaya.
"Bunda iih... Beneran loh, Bund?" Sahut Nummi memaksa agar bundanya percaya.
"Humm... Oh ya Bund. Kok Ayah sama Bunda datangnya hari ini? Bukannya sabtu lusa kata Bunda ya?" Tanya Nummi sembari melangkah masuk ke dalam rumah bersama ayah dan bundanya.
"Awalnya begitu, Sayang." Nummi menoleh ke samping kirinya. Di situ Ayahnya yang menyahut. "Tapi karena Ayah sudah menyelesaikan pekerjaan Ayah dengan cepat, jadi keberangkatan kami kesini juga dipercepat, Nak."
Desri mengangguk membenarkan penjelasan suaminya itu kepada putri mereka. "Kamu kok semakin gemuk saja, Sayang?" Tanya Desri sambil mencubiti pipi tembem Nummi dengan gemes.
"Iiih Bunda... Masa iya Nummi gemuk? Ayaaah..." Nummi seakan mengadu kepada Arkhan karena tidak terima dibilang gemuk oleh Bundanya.
"Enggak... Enggak... Anak ayah langsing begini, masa dibilang gemuk sih Bund..." Arkhan membela Nummi yang merengek kepadanya minta pembelaan.
__ADS_1
Desri menyeringai.
"Oh ya sayang... Gimana kabar Om 'mu?" Tanya Arkhan ketika telah duduk di dalam rumah. Dia memutar pandangannya celingak-celinguk kesana-kemari untuk mencari sosok Endro.
"Ada di kamar Beliau, Yah. Kasihan Om. Suhu tubuh Om bahkan tadi paginya masih panas..." Cerita Nummi tentang kondisi Endro.
"Ayah dan Bunda menemui Om 'mu dulu ya, Sayang." Pamit Arkhan kemudian bangkit seraya menggamit tangan Desri untuk mengajak istrinya itu.
"Oh... Ya udah, Yah, Bund... Ayah sama Bunda masuk aja duluan, biar Nummi bikinkan minum ke belakang. Sekalian mau kasih tahu Bi Hana dan Pak Harun. Mereka pasti senang dengan kedatangan Ayah dan Bunda..." Ujar Nummi juga ikut pamit.
"Iya, Sayang..." Sahut orang tuanya hampir bersamaan.
.
.
.
.
.
__ADS_1