ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
MELANJUTKAN CERITA


__ADS_3

" Selamat malam minggu, sayang." Sapa Endro sambil mendongakkan sedikit kepalanya ke ruang makan.


" Om Endro...?" Nummi terlihat begitu antusias ketika mendengar dan menampak wajah lelaki paruh baya itu di balik pintu.


Nummi Bergegas bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Endro dengan begitu kuat.


"Om keterlaluan... Pergi, nggak pamit dulu Sama Nummi." Sungutnya Seraya melepaskan pelukannya.


" Iya maaf... Om bener-bener terburu-buru, Sayang. Habis salat Subuh, Om langsung berangkat. Mereka bahkan sudah menunggu Om di luar." Ujar Endro membela dirinya dari amukan manja gadis itu.


"Mereka siapa?"


"Maha siswa dari Fakultas Pertanian. Mereka butuh bantuan Om untuk tugas kuliah mereka." Ujar Endro menjelaskan kebenarannya.


"Kenapa Om tidak ajak, Nummi?" Sungutnya kembali. Dia seakan tertarik dengan apa yang baru saja didengarnya dari Endro.


"Mereka begitu mendadak menghubungi Om, subuh tadi. Padahal janji mereka pukul sembilan. Jika sesuai rencana, Om akan jemput kamu terlebih dahulu selepas dari pabrik. Tapi bahkan, pekerjaan di pabrik saja tadi dihandel oleh Pak Mazni." Tutur Endro tampak merasa bersalah.


"Hmmm, begitu... Ya sudah... Kali ini Nummi maafkan, Om. Lain kali tidak akan." Ujarnya masih bernada kecewa.


"Hehe... Iya, Sayang." Cengir Endro.


"Sekarang Om mandi gih... Nummi akan tunggu Om Disini."


"Kalau kamu lapar, makan aja duluan."


"Nggak mau... Nummi akan tunggu Om." Elaknya Ketus.


"Iya, iya... Om akan bergegas. Untung sudah salat Isya tadi. Ya Sudah... Om ke kamar dulu ya." Pamit Endro dan kemudian disahuti anggukan kepala Nummi.


Pak Harun dan Bi Hana ikut menyeringai melihat Nummi yang berperilaku layaknya putri kandung Endro. Dia begitu bahagia melihat wajah Endro yang sama sekali tidak tampak sedang bermuram durja seperti biasanya.


Mungkin, sepi salah satu yang membuatnya tampak lelah begitu. Dan hanya gadis itu yang mampu mengusir rasa sepinya.


*****

__ADS_1


Ketika makan malam mereka usai, Nummi dan Endro menghabiskan waktu mereka di ruang santai rumah itu.


Mereka masih hening untuk sesaat. Ada kebisuan yang sulit teratasi dalam suasana canggung diantara mereka.


Endro masih sesak, dia takut jika keceplosan mengatakan yang sejujurnya kepada gadis baru beranjak remaja itu. Sedangkan Nummi, dia ingin mendengar kembali kelanjutan kisah lelaki paruh baya itu.


Dia semakin penasaran dengan hal baru yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Mungkin siapa pun dari keluarganya. Bahkan Ayah dan Bundanya sekalipun.


"Apa seharian ini membosankan bagimu, sayang." Endro akhirnya memulai percakapan dan memecahkan keheningan yang tercipta sebelumnya diantara mereka berdua.


"Tidak juga kok, om." Pak Harun mengajak Nummi untuk berkebun di sekitar pekarangan rumah. Hmmm menyenangkan... " Sahutnya sungguh terlihat gembira untuk itu.


"Baguslah..."


"Eits... Bukan berarti harus setiap hari ya, Om." Potong gadis itu dengan cepat. "Bahkan cerita Om belum selesai. Waktu libur Nummi hanya tinggal seminggu lagi padahal." Nummi berdumel sendiri.


Endro cengengesan mendengarnya. Dia mengacak-acak anak rambut Nummi yang terlihat menggemaskan baginya. Ditambah pula dengan raut cemberut di wajah gadis itu membuatnya semakin menggila untuk mencubiti pipinya.


"Oooommm...!" Nummi mulai merasa tidak nyaman.


"Ayo, Om... Cerita lagi..." Pinta Nummi mulai merengek.


"Memangnya kemarin sampai dimana?" Tanya Endro terlihat pasrah.


"Sampai perpisahan Om dengan Bibi Mentari di padang ilalang belakang sekolah." Sahut Nummi begitu cepat. Dia begitu hafal setiap detailnya tentang cerita Endro.


"Hmm... Iya." Endro mangut-mangut seolah mengingat kembali hal yang dilupakannya.


"Om mengingatnya?"


"Ingat, Sayang..."


"Kalau gitu lanjut sekarang ya, Om. Nummi sudah kengen Bibi Mentari." Pintanya semakin merengek.


"Iya... Om lanjut sekarang." Sahut Endro mengabulkan permintaan gadis itu. Dia menghela nafasnya, dan mengatur udara yang masuk ke dalam tubuhnya itu sebelum melanjutkan untuk bercerita kembali tentang hidupnya."Dulu Om sempat kuliah, hanya saja tidak sampai jadi sarjana. Om berhenti di semester ke enam."

__ADS_1


"Semester ke enam, Om?" Nummi terbelalak mendengar pengakuan Endro.


Endro mengangguk. Dia menampakkan sedikit senyumannya yang terasa berat di bibirnya itu.


"Sayang sekali padahal..." Gumam Nummi tak percaya.


"Iya. Sayang sekali. Tapi jika Om memilih untuk melanjutkan kuliah, maka Om mengingkari janji Om terhadap Mentari." Ucapnya begitu getir. Wajahnya terlihat sendu kala itu.


"Semenjak Om kuliah, tidak sekalipun Om mendengar kabar tentangnya. Tetapi sekalinya Om diberitahukan kabarnya, Om begitu terpukul.


Om langsung pulang untuk mengetahui bagaimana keadaan dirinya. Om dapat membayangkan, bagaimana sakit dan ketakutan dirinya saat itu.


Hidupnya hanya derita. Dia tumbuh menjadi gadis yatim piatu penuh luka. Keadaan membuatnya terbelenggu dan tidak bisa keluar dari deritanya itu, kecuali jika bersama Om.


Mereka bukan orang tua Mentari yang sebenarnya, tapi mereka bertindak sebagai orang tua tamak yang mengharapkan panaik ketika anak gadisnya dipersunting seorang pemuda.


Tidak hanya orang tua angkatnya itu. Kakak angkatnya juga mempersulit dirinya. Dia berusaha menggagalkan pernikahan kami, agar dirinyalah yang akan Om nikahi."


Endro tampak emosional ketika mengingat kembali kisah di masa lalunya. Rasa sakit kembali menggerayang jantung hatinya. Rasanya begitu perih. Dia mencoba bersandar agar air matanya tidak tumpah. Dia tidak ingin gadis di sampingnya itu mengetahui rasa sakitnya, agar gadis itu tak lagi-lagi merasa bersalah.


Dia juga sudah bertekad untuk menceritakan semuanya kecuali perasaannya terhadap Desri. Perempuan yang pernah membuat hatinya merasakan hal aneh, dan dia juga lah ibu dari gadis itu.


Dia tidak ingin dikira pengkhianat dan terlalu naif untuk hal itu.


Pikiran Endro kembali melayang pada saat dirinya bergegas pulang untuk Mentari kala itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2