ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
MENEMUKANNYA


__ADS_3

Senja itu, Endro pulang dalam keadaan kesal. Dirinya sangat merasa dipermainkan oleh keluarga Alex. Meskipun begitu, hatinya masih tidak tenang karena belum mengetahui dimana sebenarnya keberadaan Mentari.


Hatinya masih gundah gulana, pikirannya kacau dan dia tidak bisa berpikir jernih saat itu. Entah mengapa sejak ia memutuskan untuk tidak lagi kuliah, emosional di dalam dirinya tidak terkendalikan. Ditambah lagi saat dia menemukan Mentari dalam keadaan menyedihkan kala itu.


Dia tidak percaya dengan ucapan Juwita. Tapi tidak ada alasan lain bagi Mentari untuk meninggalkan acara pernikahan itu, bukan?. Pikirnya...


Entah kenapa, Endro berpikir Mentari begitu gegabah dengan melarikan diri karena merasa tidak enak kepada dirinya dan Ayahnya. Padahal, dia telah melakukan lebih jauh lagi dari sekedar menyerahkan tanah itu.


"Semua akan baik-baik saja, End." Tangan Kamil mengusap lembut pundak Endro. Dia berusaha menangkan putranya yang dilanda kekacauan saat itu.


Endro tidak menyahut, dia hanya sedikit tersenyum untuk menanggapi ucapan ayahnya itu.


"Ayah mau kemana?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Ayah mau ke kebun sebentar. Kebun kita hari ini tidak jadi jatuh ke tangannya Alex, belum tentu nanti. Jadi Ayah putuskan untuk meninjau kesana terlebih dahulu..."


"Kebun itu tidak akan pernah jatuh ke tangan siapa pun Ayah. Dia hanya akan tetap milik Ayah." Potong Endro cepat.


"Tidak, End. Selagi belum ada kabar dari Mentari, Ayah akan tetap optimis untuknya. Dia pasti menghilang bukan karena kabur." Bantah Kamil begitu yakin.


"Baiklah... Terserah Ayah." Ujar Endro menyerah. "Bolehkah aku ikut?"


"Tentu... Ayo pergi bersama. Bukankah kamu juga telah lama tidak kesana?" Ajak Kamil menyetujui permintaan putranya.


Endro mengangguk. Dia bangkit dan mengikuti ayahnya yang telah bergerak lebih awal ke luar rumah.


*****


Setelah berkendara melewati beberapa kilo perjalanan, Endro dan Ayahnya sampai di kebun yang mereka maksud. Endro menatap panjang ke arah perkebunan itu. Entah apa yang dipikirkannya saat melihat tumbuhan-tumbuhan subur di dalam kebun garapan ayahnya itu.


"Ayah..." Panggil Endro membuat urung kamil untuk turun dari mobil tua miliknya.

__ADS_1


"Humm? Ada apa?" Tanya Kamil menatap wajah kusut putranya.


"Ayah kan memiliki ratusan hektar tanah peninggalan kakek, tetapi kenapa hanya tanah ini yang ayah jadikan kebun? Apa tanah-tanah yang lain tidak sesubur tanah ini?" Endro begitu penasaran dengan jawaban yang akan diberikan oleh ayahnya. "Dan apa karena tanah ini yang paling subur, maka Pak Alex menginginkan tanah ini?"


"Tidak... Bukan begitu sebenarnya. Semua tanah peninggalan kakekmu subur-subur, Nak. Hanya saja, Ayah tidak punya cukup biaya untuk menjadikan semuanya perkebunan."


"Tapi kenapa memilih tanah yang jauh dari rumah, Yah. Bukankah ini juga akan memakan biaya untuk Ayah. Belum lagi bensin untuk mobil, waktu dan tenaga ayah juga terkuras karenanya." Ujar Endro masih bingung.


"Benar sekali, End. Hanya saja, disini lebih dekat dengan persediaan air yang banyak. Pembuatan pupuk organik pun lebih mudah dan terjangkau di daerah sini. Banyak yang bisa Ayah manfaatkan untuk membuat tanah ini lebih subur lagi dan menghasilkan panen yang berkualitas.


Jika suatu hari nanti kita telah mampu dan memiliki modal yang cukup, Ayah akan menjadikan semua tanah-tanah milik kakek sebagai perkebunan. Dan pastinya menggunakan jasa para pengangguran di kota ini.


Semua butuh proses, End. Dulu kebun ini juga belum seluas sekarang. Tapi, tahap demi tahap, tanah yang dijadikan perkebunan sudah mulai luas." Tutur Kamil panjang lebar.


Endro terdiam seakan mengerti dengan ucapan ayahnya. Dirasa pertanyaan putranya telah terjawab, Kamil turun dari mobil itu dan masuk ke dalam perkebunannya.


"Ayah begitu hebat... Aku janji, Yah. Aku akan berusaha dengan giat untuk mewujudkan keinginan Ayah." Gumam Endro berikrar dengan dirinya sendiri. Matanya tak henti menatap punggung ayahnya yang lama kelamaan menghilang di balik tanaman di dalam perkebunan milik Ayahnya itu.


"Endroooooo..." Baru saja Endro turun, pekikkan yang berasal dari suara Ayahnya terdengar mengejutkan dirinya. Tanpa pikir panjang, Endro berlari mengejar ke arah suara ayahnya berasal.


Dia begitu panik jika terjadi sesuatu terhadap Ayahnya disana. Namun ketika ia sampai di posisi Ayahnya berada, matanya mendapati Mentari yang tergeletak tidak sadarkan diri. Posisinya dengan tangan dan kaki masih terikat, dan mulut yang terbekap.


Mentari terlihat kucel dan kotor. Tangan dan lututnya juga dipenuhi goresan luka-luka. Wajah Mentari juga terlihat begitu pucat saat itu.


"Mentari..." Suaranya terdengar getir saat menyebutkan nama Mentari. "Apa yang terjadi, Yah?"


"Entahlah, End. Ayah sudah menemukannya dalam keadaan seperti ini disini. Lebih baik sekarang kita bawa dia pulang." Ujar Kamil terdengar bergetar.


"Iya, Yah." Sahut Endro seraya mengangkat tubuh Mentari yang lemah setelah melepaskan tali yang mengikat tangan, kaki dan mulut Mentari.


^^^^^

__ADS_1


Kamil mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia membiarkan Endro duduk di belakang untuk mendekap gadis malang itu.


Ketika mereka sampai di rumah Nini, Kamil memanggil nini dan memintanya untuk ikut bersama mereka.


Nini yang merasa tidak tau apa-apa hanya menurut dengan bingung setelah menggembok pintu gubuknya itu.


"Yaa Allah... Mentari?" Nini membekap mulutnya yang ternganga. "Apa yang terjadi kepada Mentari, Nak Endro?" Pekik Nini terdengar histeris ketika menoleh ke belakangnya. Ya, kebetulan Nini diminta duduk di depan oleh Kamil.


"Endro juga tidak tahu, Ni. Tadi awalnya Ayah menemukan Mentari di kebun dalam keadaan tangan, kaki dan mulut terikat." Jawab Endro.


"Astaghfirullah... Pasti semua itu ulahnya mereka. Mereka yang telah membuat Mentari seperti ini." Ucap Nini terdengar begitu geram. Air matanya berlinangan dan siap tumpah saat itu juga.


Kamil terus mengendarai mobilnya hingga sampailah mereka ke rumah sederhana yang dihuni oleh dirinya dan Endro.


Endro membawa turun Mentari dengan menggendongnya masuk ke dalam rumah. Dia menjadi merasa bersalah karena sempat berpikiran buruk terhadap Mentari tadinya.


Dan gadis malang itu malah tidak berdaya saat ditemukannya. Entah sejak kapan, tapi yang dia rasa, tubuh gadis itu terasa dingin dan lemah.


Endro membawa Mentari ke dalam kamarnya yang sebelum itu pernah dihuni oleh Mentari beberapa hari. Dia meminta Nini untuk mengganti pakaian Mentari dan membersihkan tubuh dan luka-luka gadis itu.


Melihat kondisi Mentari yang menyedihkan, Endro merasa sangat menyesal karena sempat mengbaikannya. Tidak mempercayainya. Dan bahkan tidak berniat untuk mencarinya. Dan hal yang paling memalukan bagi dirinya, sempat bimbang karena percaya dengan ucapan Juwita yang mengatakan Mentari kabur dari pernikahannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2