ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
RENCANA LICIK


__ADS_3

Setelah kepergian polisi dari rumahnya Kemil, Alex menampakkan amarahnya yang sempat dia tahan sejak tadi. Dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi hendak dilayangkannya ke pipi Mentari. Namun dengan cepat Endro menahannya.


"Jangan pernah coba-coba lagi, untuk memukul Mentari. Apalagi di hadapan saya." Ujar Endro garang. Dia begitu berani kepada Alex. Terlepas dari usianya yang telah beranjak dewasa, dia tidak ingin lagi melakukan kesalahan yang sama seperti sebelumnya. Hanya bisa mengintip dari kejauhan, tanpa bisa berbuat apa-apa untuk melindungi gadis itu.


Alex menghentakkan lengannya yang ditahan Endro dengan begitu keras.


"Awas kalian..." Ancam Alex. Dia kemudian berlalu meninggalkan rumah Kamil dengan menyimpan kemarahan yang memuncak di dalam hatinya. Tapi untuk saat itu, dia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa untuk membawa Mentari pergi bersamanya.


Air mata Mentari berderai membasahi pipinya. "Aku minta maaf. Tak seharusnya aku memberi Ayah, Nini dan kamu beban. Aku tidak mengapa kok, End. Jika ucapanmu tadi hanya untuk mengikuti caraku."


"Maksud kamu?" Tanya Endro bingung.


"Aku tahu. Kamu tidak sebenarnya akan menikahiku, bukan?"


"Siapa bilang? Aku bicara yang sebenarnya."


Tidak hanya Mentari, Kamil juga menatap putranya dengan raut penuh tanda tanya.


"Lalu bagaimana dengan kuliahmu?" Mentari merasa tidak enak mendengar keyakinan dan kepastian yang diberikan Endro kepadanya.


Endro melangkah ke arah ayahnya. Dia menatap lekat wajah lelaki yang tampak tua dan lelah itu dengan begitu dalam.


"Ayah... Apa Ayah Ridho?"


"Tentu, Nak. Ayah sangat meridhoimu dan mendukung keputusanmu. Asal suatu hari nanti, kamu bisa bahagia dengan keputusanmu itu. Tanpa berbalik dan menyesalinya.


Dan juga, meski Ayah hanya baru beberapa kali bertemu Mentari, Ayah telah merasa sayang tehadapnya. Ayah ingin kamu menikahinya, End" Tutur Ayah.

__ADS_1


"Apa Ayah tidak marah jika aku berhenti kuliah?" Tanyanya lagi begitu berat.


"Ayah tidak marah. Tapi tanyakan pada hatimu, Nak."


"Endro akan menikahi Mentari secepatnya, Yah." Ujar Endro dengan hati yang mantap.


Nini merasa lega mendengar percakapan dua lelaki itu. Dia sangat terharu dengan kasih sayang yang mereka miliki untuk gadis malang di depannya. Nini segera meraih tubuh Mentari dan memeluk gadis itu dengan erat.


*****


"Apa, Pak? Menikah? Mereka akan menikah???" Juwita sangat terkejut mendengar cerita dari ayahnya. Rasa tidak sukanya muncul setelah mendengar kabar itu.


"Lalu Bapak menolaknya kan, Pak? Bapak tidak menyetujuinya, Kan?" Tanyanya lagi.


"Memangnya kenapa, hah? Kamu menyukai lelaki kurang ajar itu?" Alex masih terlihat geram jika mengingat kejadian di rumah Kamil tadi.


"A-aku... Aku hanya tidak mau kalau Mentari menikah terlebih dahulu dariku." Sahut Juwita gugup. Dia sepertinya juga tidak ingin jika orang tuanya mengetahui tentang ketertarikannya terhadap ketampanan Endro.


"Pak... Bukankah ini bagus. Berarti kita bisa meminta tanah yang waktu itu kamu mau. Itung-itung sebagai mahar." Ujar Lita dengan ide cemerlangnya. Dia menghasut suaminya itu untuk menyetujui Mentari menikah dengan Endro.


Wajah Alex langsung berbinar mendengar penuturan istrinya. Dia menyeringai licik seakan mendapatkan hadiah undian.


"Betul juga idemu, Buk. Aku bahkan tidak kepikiran sampai kesana. Kita bisa kaya lagi, buk. Semua peninggalan orang tua Mentari telah ludes. Dan kita tidak perlu mengeluarkan uang seperser pun untuk mendapatkan tanah itu." Alex membenarkan ucapan istrinya.


Mereka tertawa terbahak-bahak membayangkan kemenangan yang akan mereka terima.


"Tapi apa Kamil akan mau memberikannya kepada kita, Buk? Sedangkan waktu itu saja aku membelinya, dia tidak mau melepaskan tanah itu. Sekarang lepas percuma-cuma hanya demi Mentari?

__ADS_1


Apa kamu yakin, Buk?" Alex kembali ragu.


"Kita coba saja, Pak. Sepertinya anaknya Kamil begitu menyukai Mentari. Bahkan dia rela datang kesini untuknya. Tapi jika Kamil menolaknya, itu artinya mereka harus merelakan Mentari kembali kepada kita." Ujar Lita kembali meyakinkan Alex.


"Benar juga... Tidak dapat emas yang itu, emas yang ini masih ada..." Alex kembali menyeringai. Dia benar-benar yakin dengan rencananya.


.


.


.


.


.


Saya ngg tau enak atau nggak enaknya pas kalian baca..


ini novel yg terlalu sulit untuk saya dari novel2 sebelumnya.


Endingnya yang menyedihkan dan ceritanya yang tidak masuk akal terkadang...


tapi saya akan tetap menulis sampai tamat...


tetap dukungan nya ya teman2


kritik, usulan dan saran

__ADS_1


terimakasih


Salam satu layar...


__ADS_2