
Setelah menerima telepon dari ayahnya, Endro bergegas langsung pulang ke kota tempatnya tinggal. Sesuatu telah terjadi. Hal yang membuatnya panik dan tergesa-gesa.
Beruntung kala itu Bus menuju kesana masih belum berangkat. Dia tak henti-henti mengkhawatirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Hatinya terasa panas dan pilu.
Bertahanlah Mentari...
Aku akan membebaskan kamu dari mereka. Tak perduli apa... Yang penting kamu.
*****
Siang itu, di tengah terik yang menyengat ubun-ubun, Mentari berlarian di sepanjang jalanan kasar yang berkerikil tajam. Telapak kakinya yang telanjang terlihat kotor dan menyembab. Ada bercak-bercak darah disana. Telapak kakinya yang terluka tak lagi dirasainya. Yang dia ingin saat itu, bagaimana lari sekencang-kencangnya.
Berkali-kali dia mencoba mengusap pipi lembutnya yang basah karena air bening yang mengalir dari matanya itu. Muka pucatnya dilapisi bedak yang agak menor. Sedangkan rambutnya tergerai acak-acakan membuatnya tampak semakin menyedihkan saat itu.
Jalanan lengang tak membuatnya takut. Dia hanya ingin terus berlari dari kejaran orang-orang jahat yang hendak memangsa dirinya. Lebih dari binatang buas, dia tampak takut dengan sesuatu yang ada di belakang dirinya.
Mungkin saat itu tiada siapa-siapa yang terlihat sedang mengikutinya. Tapi berkali-kali dia menoleh ke belakang, menandakan bahwa dia tengah berlari dari sebuah kejaran.
Sebuah rumah sederhana menjadi tujuannya untuk bersembunyi. Dia semakin mempercepat ayunan kakinya ke rumah itu. Rumah yang tampak sunyi dari depannya, namun sebenarnya berpenghuni. Seorang lelaki paruh baya tengah mengasah parang miliknya di samping rumah itu.
Lelaki paruh baya itu tampak fokus, sehingga dirinya tidak menyadari kedatangan Mentari.
"Ayaahh..." Panggil Mentari mengiba. Derai air matanya tak tertahankan. Mengalir terus tanpa henti.
Lelaki paruh baya itu menghentikan pekerjaannya. Dia mendongakkan kepalanya dan mencari tahu siapa sosok perempuan yang telah memanggilinya ayah dengan suara getir yang mendayu.
"Mentari?" Dia berdiri menyambut kedatangan Mentari dengan tatapan bingung.
"Ayah..." Mentari semakin tersedu. Nafasnya tersengal. Perlahan, dia mengahamburkan dirinya ke dalam pelukan lelaki itu.
"Ayah... Tolong Mentari, Yah. Hiks...Hiks...Hiks..." Dia begitu emosianal dalam dekapan lelaki paruh baya itu.
"Mentari... Ada apa, Nak?" Tanyanya bingung. Dia tampak panik melihat kondisi gadis itu. Lelaki paruh baya itu tidak lain adalah Kamil, Ayahnya Endro.
"Mentari takut, Yah. Tolongin Mentari..." Pintanya sesengukkan.
"Assalamu'alaikum..." Belum sempat Mentari menjawab pertanyaan Kamil, seseorang yang tidak lain adalah Nini datang kesana. Dia membawa sebuah rantang di tangannya.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam..." Sahut Kamil. Sedangkan Mentari yang tidak tahu siapa karena tidak melihat kedatangan Nini, dia segera bersembunyi di balik punggung Kamil.
Nini juga begitu, Beliau bahkan belum sempat melihat wajah Mentari. "Siapa dia, Kamil?" Tanya Nini penasaran.
"Oh... Dia Mentari, Bu. Temannya Endro. Kamil rasa, ibu mengenalinya." Sahut Kamil.
Mentari yang mendengar ucapan ayah Endro pun sedikit demi sedikit mengintip. Dia memastikan siapa yang datang kala itu. Mungkin sudah terlalu lama baginya, sehingga dia lupa dengan suara Nini.
"Nini?" Serunya cepat ketika telah melihat jelas wajah wanita tua itu.
"Mentari?" Pekik Nini tak kalah heboh melihat gadis yang memang telah lama dikenalinya.
Mentari segera berlarian mencapai posisi berdiri Nini. Dia segera merengkuh tubuh tua itu dengan begitu erat dan menangis sejadi-jadinya dalam dekapannya.
"Nini.... Hiks...Hiks...Hiks... Huu uuu Huu uuu" Mentari tersedu-sedu mendayu. Ada beban berat yang saat itu dipikulnya. Hanya saja, mereka tidak tahu apakah itu.
"Tenang, Nak... Tenang..." Ucap Nini sambil mengelus lembut pundak Mentari, dia berusaha menenangkan Mentari yang benar-benar tampak menyedihkan saat itu.
"Sebaiknya kita masuk saja ke dalam, Bu. Ajak Mentari untuk bercerita sambil makan siang. Pasti dia juga belum makan." Usul Kamil. Dia tidak tahan melihat kepedihan yang terpancar dari isak tangis Mentari.
Nini menurut. Dia membawa Mentari masuk ke dalam rumah Kamil.
"Sebenarnya ada apa, Nak?" Tanya Kamil yang sudah tidak sabar mengetahui kebenaran yang terjadi pada gadis itu.
"Mentari takut, Yah..." Lagi-lagi dia sesengukkan. Mungkin hal yang mengerikan dalam benaknya, kembali menggerayang pikirannya.
"Iya... Tapi kamu takut kenapa, Nak." Tanya Kamil tetap melunak.
"Tadi ada tamu yang datang ke rumah." Mentari memulai ceritanya di balik sesengukkannya yang masih terdengar.
"Lalu?" Tanya Kamil semakin penasaran.
"Bapak memanggil Mentari untuk melayani tamu itu dengan baik. Mentari pikir dengan dibuatkan minuman dan disuguhkan makanan adalah cara terbaik untuk melayaninya.
Tetapi tidak. Kak Juwita dan Ibu malah mendandani Mentari. Setelah itu, mereka mengunci Mentari di dalam kamar dan tidak membiarkan Mentari keluar dari sana.
Mentari takut.... Mentari berusaha cari jalan keluar, tetapi Mentari tidak menemukannya. Seluruh jendelanya memiliki terali dari besi.
__ADS_1
Tidak lama, tamu tadi terdengar hendak masuk ke dalam kamar. Dan Mentari segera bersembunyi di balik pintu kamar itu. Dia masuk dan memanggil-manggil nama Mentari dengan nada yang menakutkan. Dan di saat itulah Mentari bisa keluar dari sana.
Dia berteriak dengan keras mengatakan kalau Mentari kabur, dan hal itu membuat Bapak, Ibu dan Kak Juwita meradang.
Mentari memutuskan untuk keluar dari rumah dan berlari sejauh mungkin dari mereka. Mentari Ingat Endro... Mentari sangat merindukannya.
Makanya Mentari lari kesini. Karena... Jika seandainya Mentari pergi ke tempat Nini, mereka pasti akan menemukan Mentari dengan mudahnya. Ehhe eee.... Huk eeeee
Tolong Mentari... Endrooo..." Mentari terisak-isak begitu keras.
Nini segera memeluknya kembali. Dia menenangkan Mentari agar berhenti meratap.
Sedangkan Kamil, dia bahkan tidak tahu harus berbuat apa selain menatap iba gadis di depannya saat itu.
Tanpa pikir panjang lagi, Kamil segera keluar dari ruang makan. Dia mengambil ponselnya yang berada di atas meja ruang depan untuk menelepon Endro, putranya.
Tut... Tut... Tut...
Assalamu'alaikum, Yah... Terdengar jawaban Endro dari seberang.
"Wa'alaikumussalam, End... Apa kamu masih ingin mengetahui kabarnya Mentari?" Tanya Kamil tanpa berbasa-basi terhadap putranya itu.
Ayah bertemu dengannya?
"Dia ada disini, Nak. Dia begitu menderita dan terlihat menyedihkan." Suara Kamil terdengar memarau.
Ada apa dengan Mentari, Yah? Suara Endro terdengar panik dan begitu mengkhawatirkan gadis itu.
Kemudian Kamil menceritakan apa yang di didengarnya dari Mentari tadi kepada Endro. Tidak ada suara lagi kecuali Endro mengatakan bahwa dia akan segera pulang. Dan telepon pun berakhir.
.
.
.
.
__ADS_1
.