
"Mentari... Mentari..." Terdengar kegetiran dari setiap nama istrinya yang muncul dari bibir pucatnya malam itu. "Mentari..." Lagi-lagi, Endro tampak gelisah dalam tidurnya. Dia terus mengigau, memanggil nama Mentarinya yang telah lama pergi meninggalkan dirinya dalam kesendirian.
Buliran bening mengalir tipis di sela-sela ruas tepi matanya yang masih terpejam. Malam itu, Endro terlelap di balkon kamarnya. Hujan di luar pun masih belum kunjung mereda kala itu.
"Mentariiii..." Dia tersentak. Nafasnya terdengar menderu kasar, tak beraturan.
Meski cuaca begitu dingin, namun dahi Endro terlihat mengkilat karena cairan keringat telah bersarang disana. Berkali-kali dia mengusap kasar wajahnya yang kusut dan terasa tidak nyaman oleh dirinya sendiri.
Endro sedikit menyeringai karena mendapati dirinya hanya sekedar bermimpi malam itu. Tapi Siapa yang tahu, seringainya itu berupa kepedihan yang sangat sulit untuk ia ungkapkan kepada siapa pun.
"Padahal hanya mimpi, tapi kenapa sakitnya begitu nyata?" Bisiknya sendiri. Dia meremas dada kirinya dengan tangan kanannya yang benar-benar terasa ngilu saat itu.
Photo Mentari yang semalam digenggamnya masih berada dalam pelukannya.
Dia kembali tersenyum melihat potret Mentari. "Maafkan aku, Mentari." Bisiknya ke photo itu. Meski dia tersenyum, tapi matanya tampak berkaca-kaca penuh kesedihan.
"Maafkan aku... Aku pantas merasakan sakit seperti ini. Aku terlalu serakah." Ungkapnya merendah merasa bersalah.
Kembali, dia mengusap kasar wajahnya dengan tangan kanannya. Pandangan Endro mengarah ke jam dinding yang bergelayut tepat di sana. "Pukul dua dini hari? Yaa Allah... Aku ketiduran disini." Gumamnya seraya bangkit. Dia segera melangkah menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Dengan hati-hati, Endro meletakkan photo Mentari ke atas nakas samping tempat tidurnya lagi. Dia perlahan merebahkan tubuhnya yang lelah di tempat pembaringannya itu. Ingatannya kembali ke gadis mungil di dalam mimpinya tadi.
Gadis mungil itu, anakku?~ Gumam Endro. Ah... Begitu manisnya kamu, Nak... Andai kita bisa bersama untuk waktu yang lebih lama...
"Nummi..." Endro tersentak dari lamunannya. Ingatannya mengarah kepada gadis tujuh belas tahunan yang saat itu menginap di rumahnya. "Bagaimana keadaannya? Apa saat ini dia ketakutan?" Endro tampak mencemaskan gadis itu. Dia kembali tersadar ke kehidupannya yang nyata dan penuh cerita. Gadis tujuh belas tahunan yang sudah seperti putri kandung dibuatnya.
Endro kembali bangkit dan keluar dari kamarnya hendak memastikan keadaan Nummi. Gadis yang persis seperti istrinya, takut mendengar suara petir.
Sesampainya di depan pintu kamar Nummi, dengan pelan-pelan, Endro menarik gagang pintu kamar yang ditempati Nummi itu. Dia sedikit mendongakkan kepalanya ke dalam kamar Nummi yang tidak terkunci.
Endro menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya ketika matanya mendapati Si Gadis Nummi telah bergelung di dalam selimut tebal.
Endro kembali menutup pintu kamar Nummi dengan pelan. Dia sudah merasa tenang melihat keadaan Nummi yang baik-baik saja saat itu.
Malam itu, setelah mimpinya tadi membuat ia terjaga, Endro sangat sulit memejamkan matanya kembali. Dia bahkan sudah menunaikan dua rakaat di tengah malam sekalipun.
Berkali-kali dia mencobanya, akan tetapi dia tetap tidak bisa untuk tertidur lagi.
^^^^^^
__ADS_1
Hujan mengantarkan sebuah pertanyaan ke dalam benakku. 'kenapa aku hidup dalam kesepian?'
Dia juga menakuti ku dengan kilat dan suara gunturnya yang bergemuruh sahut-bersahutan di angkasa sana.
Dan bahkan, dia juga menyakitiku dengan kiriman dinginnya yang menusuk hingga ke tulang belulangku.
Tapi satu yang menghibur darimu, hujan. Suara rintikan mu yang menerpa atap rumahku, telah menciptakan nada merdu penghalau kesunyian di dalam hidupku.
Kamu menyapaku, memberi salam Kedamaian lewat Irama itu dalam keterpurukan yang saat ini aku rasakan.
Dan lagi, kata mereka ada secercah harapan Setelah Kepergianmu. Mawar di depan rumahku yang sempat layu, dia akan terlihat subur kembali karena mu. Seperti indahnya sang pelangi yang muncul Setelah badaimu berlalu.
Dan aku aku menunggu saat itu.
.
.
.
__ADS_1
.
.