
Hari pertama Endro berada di kos-kosan tempatnya menetap. Pertama pula baginya berpisah jauh dari Ayahnya, semenjak Ayahnya itu bebas dari penjara.
Benar, yang ada di dalam benaknya saat itu adalah Mentari. Entah bagaimana keadaan gadis itu. Yang jelas baginya, pasti gadis itu sangat menderita.
Hari terus berlalu. Endro sering berbagi kabar dengan ayahnya lewat ponsel mini miliknya. Tanpa kamera. Hanya lewat suara, dia menceritakan semua yang dilaluinya selama kuliah disana.
Sesekali dia menanyakan Mentari. Pernahkah gadis itu berkunjung menemui Ayahnya?. Tapi tanya hanya menyisakan tanya tanpa jawaban. Meski selalu terjawab 'tidak pernah', oleh ayahnya.
Karena pertanyaan itu akan berganti dan bersarang di benaknya. Bagaimanakah kabarnya? Apa dia baik-baik saja? Apa penderitaan dan siksaan yang dia terima telah membunuh kekuatan penantiannya?
Entahlah...
Setiap libur semester pun, Endro juga tidak pernah berjumpa dengan Mentari. Jika hendak menemuinya secara langsung pun, Endro akan cemas. Dia takut kalau Mentari akan mendapatkan hukuman dari keluarga angkatnya itu, apabila ia ketahuan nantinya.
Beberapa kali juga, Endro mencoba mencarinya di tepian danau. Tempat mereka pernah berkemah terakhir kali. Tapi tidak ada perubahan. Disana bahkan sudah tidak ada lagi kotak surat kepunyaan gadis itu.
Endro bingung harus apa. Bukan dia melupakan janjinya, hanya saja dia tidak ingin lagi-lagi berjanji tanpa kepastian. Jika satu waktu membuatnya menepati janji itu, maka saat itulah dia akan menemui Mentari. Begitulah tekadnya.
Dia tidak berbohong, dan dia juga tidak mau untuk ingkar.
Di suatu waktu, ketika Endro telah memasuki semester ke enam kuliahnya. Hari itu Endro menghabiskan waktunya berada di bangku taman kota. Dia masih memikirkan keadaan Mentari. Bahkan Nini pun tidak pernah lagi bertemu dengan gadis itu, dan itu untuk waktu yang telah lama.
Seorang gadis dengan seragam putih abu-abu melintasi jalanan kota. Gadis itu mampu mengalihkan kan pikirannya yang kacau saat itu.
__ADS_1
Sang gadis memapah seorang nenek-nenek. Sepertinya untuk membantu nenek itu menyeberangi jalanan yang padat oleh kendaraan. Kebutuhan, waktu itu jamnya makan siang untuk orang-orang kantoran.
Rambut panjangnya tergerai indah6 dengan poni sealis yang menambah keimutan di wajah gadis itu. Senyum indah di bibirnya membuat kecantikan alami Gadis itu semakin terlihat jelas.
Mata Endro tak berhenti memandanginya. Tanpa Endro sadari, bibirnya ikut tersenyum melihat keceriaan dan ketulusan sang gadis.
"Desri..." Panggil salah seorang gadis lainnya dari seberang jalan. Dia juga memakai seragam yang sama. Namun, seragamnya itu telah dipenuhi berbagai warna cat dan coret-cemoret pena. Sepertinya mereka habis merayakan kelulusan mereka.
Setelah sang Nenek pergi, gadis yang dipanggil Desri membalas lambaian tangan temannya.
"Ayo kesini...!" Serunya setengah berteriak.
Temannya itu menyeberang dengan begitu hati-hati ke arahnya. "Ah... Kamu tidak seru, Des. Padahal, aku mau kasih tanda tanganku di bajumu." Sungut temannya itu. Wajahnya terlihat cemberut menatap gadis yang bernama Desri.
"Lalu? Apa kamu mau memberikan baju bekasmu ini ke orang lain?." Tanya temannya lagi terlihat kebingungan.
"Kalau iya, memangnya kenapa?"
"Ih... Kalau mau kasih itu, yang bagus."
"Ini kan masih bagus... Sayang kan?"
"Yang baru gitu..." Protes temannya lagi tak berujung.
__ADS_1
"Nggak mesti yang baru. Yang penting bermanfaat dan layak. Lagian banyak dari mereka yang tidak mampu, malah membeli baju bekas untuk dipakainya ke sekolah, kok."
"Ya lah... Bicara sama peri, tak akan menang kalau bahas soal kebaikan." Ketus temannya sambil terus mengekori Desri.
Jantung Endro serasa berdetak tidak karuan, ketika wajah Desri melintas di hadapannya. Kata-kata gadis itu mampu membuatnya sejenak melupakan dirinya.
Sayangnya, sang gadis sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Sementara, temannya malah terpukau dan bahkan hampir tersandung karena terus saja menoleh dan memerhatikan Endro yang duduk di bangku taman itu.
"Kamu hati-hati dong..." Tegur Desri seraya menahan tubuh temannya yang hampir tersungkur di belakangnya.
Temannya itu tampak membisikkan sesuatu kepada Desri sambil menunjuk-nunjuk ke arah Endro. Endro yang paham, segera menundukkan kepalanya dan berpura-pura tidak melihat mereka.
Desri menoleh, hanya saja dia tidak melihat dengan jelas wajah Endro. Dia kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan temannya yang seperti kecentilan disana.
"Cantik..." Gumam Endro, setelah kembali memerhatikan Desri yang sudah menjauh dari posisinya saat itu.
.
.
.
.
__ADS_1