ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
SANG PENGAWAL


__ADS_3

Endro menjatuhkan dirinya berlutut di atas gundukan tanah Pusara yang bernisan kan Mentari, nama almarhum istrinya. Dia memeluk erat batu nisan itu dengan tubuh yang berguncang, tersedu-sedu. Nafasnya terlihat sesak karena sesenggukan yang tak tertahan lagi olehnya.


Dia terlihat menyedihkan untuk seseorang yang terkenal kaku, Acuh dan dingin. Dia selama itu menyimpan keraguan di dasar hatinya. Tidak percaya diri kepada satu cintanya.


Huk... Huk... Uuuuhk...


Lututnya melemah, tubuhnya lelah. Sekarang dia tersimpuh dan tersandar di nisan putih yang hampir usang tertanam lebih dua puluh tahunan lamanya.


"Aku bodoh... aku bener-bener bodoh..." Makinya berkali-kali untuk dirinya sendiri. Entah apa yang membuat dia meratap seperti itu di sana.


Kata mereka, cinta sejati arkhan dan Desri hadir berkat Tuhan lewat diriku. Aku percaya itu... Cinta mereka Abadi, sejati dan selamanya.


Desri yang begitu mencintai Arkan mulai dari seluruh kepribadian buruk suaminya itu, hingga sifat kedewasaannya yang kadang sering berubah-ubah. Hanya dengan satu sisi di dalam diri Desri, yaitu kepercayaan...


Begitupun sebaliknya, Arkhan mencintai Desri meski dia tidak akan lagi mendapatkan sesuatu yang besar dari istrinya itu setelah Nummi, putri mereka terlahir ke dunia.


Tetapi mereka memiliki satu kekuatan yang mengutuhkan cinta mereka, Sayang. Ya, kepercayaan tadi.


Seperti halnya kamu yang juga memiliki kepercayaan itu terhadapku, sayang. Sehingga kamu pergi tanpa rasa takut meninggalkan aku sendiri di dunia ini.


Coba kamu pikir... Jika seandainya Cintaku bukan untukmu, Lalu kenapa aku masih bertahan sampai saat ini? Kenapa aku seakan tidak bisa menggantikan kamu dengan siapa pun di dunia ini, Mentari?


Saat ini aku bertanya, karena aku tidak memiliki kepercayaan itu sebelumnya.


Aku bodoh sebelumnya, Mentari. Tapi sekarang, kesadaran membuatku semakin mengenal kebodohanku itu...


Bodoh karena menganggap bahwa aku tidak pernah mencintaimu... Bodoh karena menganggap pernikahan kita hanya karena ikrar yang mesti aku penuhi...


Berkali-kali Endro menciumi batu nisan yang dipeluknya saat itu, berharap dirinya menciumi istrinya sendiri.

__ADS_1


"Mentari... Jangan siksa aku seperti ini, Sayang. Aku sekarang sudah memiliki keberanian untuk mengatakannya. Mengatakan bahwa aku memiliki kepercayaan diri. Percaya bahwa aku hanya mencintaimu seorang....


Maaf...


Maaf, Mentari...


Maaf...


Maaf telah terlambat mengatakannya...


Huk... Huk... Uh hhh..." Endro terisak menyesali dirinya. Menangis sejadi-jadinya di samping pusara istrinya itu. Meluahkan segala sakit yang selama itu bersuruk di dalam dadanya.


Waktu maghrib sudah hampir. Guruh pun mulai terdengar menggelegar, membelah langit yang kian menggelap. Dia masih enggan meninggalkan tanah yang menghimpit jasad Mentarinya itu.


Rintik gerimis bahkan tidak membuatnya bangkit. Dia lelah menangis, hingga hujan deras membuatnya betah berlama-lama di sana. Kilat dan petir sama sekali tidak membuatnya takut.


Tap... Tap... Tap...


Seorang gadis memayunginya dari belakang. Endro terperangah dalam diamnya. Dia menengadahkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi. Dia masih tetap dalam diamnya.


Meski begitu, sang gadis tetap enggan untuk memulai menyapa dirinya. Gadis itu hanya memerhatikannya dengan iba dan sedikit kecewan.


"Nu-Nummi?" Ucapnya gugup. Tampak getaran yang sulit dia hentikan di bibirnya yang menghitam karena kedinginan.


"Ka-kamu ngapain datang kesini, Sayang?" Tanya Endro merasa bersalah melihat kekecewaan di wajah pucat gadis itu.


"Om tahu? Nummi mengumpulkan banyak keberanian untuk berlari agar bisa datang ke sini." Sungut Nummi.


"Maafin Om, Sayang. Om sangat merindukan Mentari..." Aku Endro lirih.

__ADS_1


"Tidakkah Om ingin memeluk Nummi?" Tanya gadis itu meminta. Dia terlihat takut sebenarnya.


"Tapi Om basah, Nak..." Bantah Endro.


"Nummi takut, Oom..." Rengeknya mulai menangis.


"Tapi, Sayang..." Belum sempat Endro kembali menolak, Nummi menjatuhkan payungnya dan segera menghamburkan dirinya ke tubuh Endro yang kuyup.


"Nummi juga merasakan sakitnya jika memikirkan bagaimana perasaan Om sekarang. Nummi memang tidak pernah melewatinya. Tapi kisah hidup Om memiliki latar suasana yang menyedihkan, dan Nummi larut ke dalamnya."Nummi melepaskan dirinya dari tubuh Endro.


"Bukankah Bunda adiknya, Om?" Tekan Nummi lagi terdengar kecewa.


Endro terpaku. Kata-kata yang sering diingatkan Desri terhadapnya, sempat ia lupakan dalam kurun waktu yang dia sendiri tidak tahu.


"Berarti aku ini keponakannya Om, bukan?" Tanya Nummi lagi dengan tatapan yang begitu lekat ke manik, dalam kelopak mata Endro yang tak bergeming.


"Om?" Paksa Nummi masih terdengar berharap menunggu sahutan dari bibir Endro.


Anggukan kecil menggerakkan kepala Endro yang kaku. "Bunda 'mu adiknya Om, Sayang..." Sahut Endro mengabulkan harapan Nummi. "Kamu keponakan, Om." Sambungnya lagi.


Senyum kebahagiaan mulai mengembang di bibir gadis itu. Sepertinya, memang hanya itu yang dia harapkan. Sebuah pengakuan dari lelaki asing pada puluhan yang lalu bagi almarhum Opanya. Tapi saat itu, Endro telah menjadi orang terdekatnya, terpenting bagi keluarganya. Dialah Endro, sang pengawal.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2