ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
AMBRUK


__ADS_3

Kenapa aku terus memikirkan dirinya? Apa mungkin Ayah benar? Bahwa aku telah jatuh hati terhadap dirinya?


Tapi apa yang membuat perasaan itu tumbuh? Jelas-jelas, dia hanyalah perempuan usil yang sering menghinaku.


Ataukah mungkin, aku hanya tertarik dengan masalahnya saja?. Sepertinya hanya aku, orang yang mampu melihat deritanya. Ya begitu... Aku yakin, ada sesuatu yang dia sembunyikan dari orang-orang di sekitarnya.


Begitulah setiap kali Endro memikirkan perasaannya. Dia bertanya kepada hatinya, apa benar dia jatuh hati kepada Mentari, tetapi pada akhirnya dia kembali menolak dan menepis kebenaran itu.


Siang itu, semua warga sekolah telah berangsur-angsur meninggalkan sekolahan setelah bel pulang berdentang beberapa kali, tempat mereka menghabiskan waktu dari pagi hingga siang harinya untuk saling berbagi ilmu disana.


Namun tidak dengan Mentari, gadis itu malah membiarkan kelas yang ditempatinya kosong terlebih dahulu. Setelah kosong, barulah dia mulai bergerak dan bangkit dari tempat duduknya. Untuk hari itu, tidak sekalipun dirinya beranjak dari bangku yang dia duduki. Mulai dari dia datang paginya, hingga jam pembelajaran berakhir.


Dengan perlahan, dia bangkit. Kedua tangannya bertumpu ke atas meja untuk menahan beban tubuhnya yang terlihat lemah.


Dia berkali-kali meringis. Matanya mengeluarkan cairan bening dari dalamnya. Di sorot wajahnya, seakan terpancar kepasrahan disana. Dengan terseok, dia melangkah dan berjalan meninggalkan ruang kelasnya itu.


Yaa Allah... Sakit...~ Ringis Mentari di dalam hatinya.


Endro yang kebetulan masih berada di sekalahan itu terpana, ketika matanya mendapati sosok Mentari yang tengah berjalan di koridor sekolah dengan lambat dan terlihat berhati-hati. Satu tangannya berpegangan di sepanjang dinding yang ia lewati.


"Dia kenapa?" Gumam Endro. Namun Endro sama sekali tidak berniat mendekati gadis itu. Dia hanya mengikutinya dari belakang dan memantau Mentari yang lemah dari kejauhan.


Namun semakin lama, tubuh Mentari semakin terlihat lemah. Endro mengalahkan kegengsiannya, dia berusaha mengejar Mentari.

__ADS_1


"Mentari..." Panggil Endro ketika dirinya hampir menyamai posisi Mentari. Mentari menghentikan langkahnya, namun dia tidak menoleh sama sekali ke belakang.


Nafasnya tersengal ketika telinganya mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Meski suara itu tidak acap terdengar, tapi dia begitu hafal dengan suara itu.


Mata dan hidungnya terasa perih seketika. Dengan sekuat tenaga, dia kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Dia mengabaikan panggilan Endro.


Endro tidak tinggal diam, dia semakin mempercepat langkahnya dan menarik lengan gadis itu. Mentari kembali menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" Tanyanya dengan memasang wajah sinis dan terlihat tidak menyukai Endro sama sekali.


"Ka-kamu kenapa?" Endro menatap lekat wajah ayu tak berdarah di hadapan matanya itu.


"Memangnya aku kenapa?" Tanya Mentari lagi semakin terlihat sinis. Dia menelan kasar ludahnya, agar aktingnya terlihat benar-benar pas.


"Apa pedulimu?" Bentak Mentari seraya menepis tangan Endro yang masih menahan lengannya. "Aku ini sering mengejekmu, tapi kenapa kamu masih seolah memperdulikanku? Kamu pikir, dengan begini aku akan berhenti?" Sambungnya semakin sinis.


"Aku tidak peduli denganmu yang telah sering mengejekku. Aku hanya kasihan dengan orang lain yang terlihat membutuhkan bantuanku." Jawab Endro datar.


"Siapa bilang aku sedang membutuhkan bantuan? Aku tidak menginginkan rasa kasihan darimu..." Maki Mentari lagi. Sorot matanya menampakkan sikap permusuhan dan kebencian kepada Endro.


Endro terdiam.


Mentari kembali melangkah dan meninggalkan Endro yang mencoba menahannya. Namun, baru beberapa langkah, Mentari ambruk. Beruntung Endro dengan sigap menahan tubuhnya. Hingga tubuh itu tidak mencapai pasir. Kala itu mereka hampir mencapai gerbang sekolah.

__ADS_1


Mentari tampak tidak sadarkan diri. Berkali-kali Endro memanggil-manggil namanya, namun Mentari tak kunjung bergeming.


"Yaa Allah... Apa yang terjadi dengan dirinya? Kenapa tubuhnya terasa panas sekali?" Gumam Endro panik.


Tanpa pikir panjang lagi, Endro mengangkat tubuh Mentari dan membawanya pergi dari sekolahan itu. Karena dia yakin, penjaga sekolah pasti sudah mengunci ruang UKS disana.


Rasa cemas membuat Endro merasa kelelahan. Apalagi Mentari tidak kunjung bangun, meski dia sudah menggendong gadis itu dengan jarak hampir sekiloan.


"Aku harus membawanya kemana? Aku bahkan tidak berani ke rumahnya, semenjak Ayah menolak untuk menjual tanah kepada pak Alex kala itu. Nanti, yang ada Pak Alex malah berburuk sangka kepadaku?" Gumam Endro bingung.


Kakinya tak berhenti melangkah, hingga dia menemui suat tempat yang tidak asing bagi matanya. Endro mulai sedikit tersenyum ketika mendapati tempat itu.


"Tenanglah, Mentari. Kamu pasti akan baik-baik saja." Ujarnya. Entah dia tengah menenangkan gadis yang tidak sadar di gendongannya, atau malah untuk menenangkan dirinya sendiri yang tidak berhenti merasa cemas sedari tadi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2