
"Mentariiii..." Suara seruan siswa mengejutkan dua insan yang tengah duduk saling berhadapan di ruang kelas mereka.
"Endroooo...?" Seorang siswi menyahuti seruan lelaki itu dengan berlagak menjadi Mentari. Wajah berbinar terlukis dari keduanya. Mereka begitu girang memerankan sosok Endro dan Mentari.
Mereka bukan mengejek. Tetapi dengan cara itulah mereka membuat kehebohan disana. Semenjak Endro bersikukuh untuk mencari Mentari yang hilang saat perkemahan, mereka jadi objek yang dijadikan sebagai Romeo dan Juliet oleh teman-teman mereka.
Teman-teman mereka juga begitu bangga terhadap cinta yang terlukis jelas di mata Endro untuk Mentari. Dan semenjak itulah Endro terang-terangan mendekati Mentarinya.
Endro tersenyum malu menatap aksi dua temannya yang memerankan dirinya dan Mentari di depan kelas. Ya, waktu itu sudah tidak ada lagi pembelajaran. Mereka hadir ke sekolah hanya untuk mengambil absen dan menyiapkan acara perpisahan sekolah.
Mentari tak kalah tersipu. Wajah pucatnya tiba-tiba bagai dialiri banyak darah. Dia tampak merona dengan pipinya yang memerah.
"Kalian seperti tidak ada kerjaan saja..." Hardik Mentari berlagak marah.
"Kami ingin menampilkan ini di panggung perpisahan kita nanti, Mentari. Tapi kami akan membuatnya seromantis mungkin." Ujar teman lainnya lagi. Mereka seakan benar-benar telah berencana sebelumnya, bahkan tanpa Endro dan Mentari sadari.
"Apa?" Endro dan Mentari terkejut seraya bangkit hampir bersamaan. "Kalian hanya bercanda, bukan?" Tanya Mentari kemudian. Dan Endro mengangguk menyetujui pertanyaan Mentari.
"Siapa bilang kami bercanda? Kami bicara yang sebenarnya kali, Mentari, End..." Sahut gadis yang baru saja memerankan Mentari di depan kelas itu.
"Kenapa kalian tidak bilang-bilang, hahh?" Tanya Mentari lagi tanpa mengurangi rasa keterkejutannya.
__ADS_1
"Awalnya sih kami ingin merahasiakanya dari kalian. Tapi sepertinya kami butuh contoh dari kalian, deh...
Begini... Pokoknya kami akan buat seperti sebenarnya terjadi. Lalu kami akan tambahkan musikalisasi puisi yang bertema perpisahan.
Endro, kamu bakalan bermain gitarnya. Dan Mentari yang membacakan puisi. Sisanya kami yang urus. Untuk lagunya, nanti kami akan bagikan. Kalian berdua tinggal tenang-tenang saja.
Bagaimana?" Tanya temannya itu. Dan yang lainnya ikut berlagak menantikan persetujuan Endro dan Mentari.
Endro dan Mentari saling pandang. Mereka seakan meminta pendapat satu sama lain.
"Baiklah... Dengan satu syarat." Ujar Endro akhirnya. Mentari menoleh ke arah Endro. Dia terperangah dengan persetujuan Endro, ditambah lagi lelaki itu mengajukan syarat pula.
"Apa syaratnya?" Tanya seorang temannya.
"Kita bukannya butuh latihan banyak ya untuk itu?" Tanya Endro lagi.
"Iya... Memang.." Sahut yang lainnya.
"Saya ingin surat izin resmi untuk latihan sampai sore..." Pinta Endro.
"Lah kenapa? Kita bahkan tidak butuh waktu sampai sore, End." Timpal seseorang.
__ADS_1
..."Kita butuh... Bukankan ini adalah persembahan terakhir kita buat guru-guru, adik-adik kelas dan bahkan orang tua atau wali murid nantinya? Jadi, kita harusnya memberikan penampilan luar biasa. Setidaknya di atas maksimal." Ujar Endro meyakinkan teman-temannya. Sedangkan Mentari hanya terpelongo mendengarkan penuturan Endro yang sama sekali tidak dimengertinya....
"Iya juga sih... Tapi kita bisa latihan dari pagi hingga siang hari. Seperti jam pelajaran biasanya kok, End." Tukas yang lainnya. Dan sebagian dari mereka menyetujui itu.
"Itu hanya akan membuat suasana ribut. Dan adik-adik kelas akan terganggu olehnya. Mereka juga harus belajar untuk menyiapkan ujian kenaikan kelas. Dan memangnya, kalian tidak ingin menghabiskan waktu bersama-sama sebelum perpisahan nanti.Kita tidak akan sering ketemu lagi loh. Memangnya kalian tidak akan melanjutkan cita-cita kalian keluar sana, hmm?. cari kerjaan, atau kuliah bagi yang mampu." Tutur Endro lagi. Dia berusaha menghasut teman-temannya untuk menyetujui ucapannya.
"Benar juga kamu, End. Tapi kita tidak butuh surat izin. Orang tua kitq pasti mengizinkan." Ujar salah seorang dari mereka.
"Iya... Kamu enak... Sedangkan aku? Ayahku pasti tidak akan mengizinkannya." Ujar Endro sedikit memelas.
"Huuu... Bilang sedari tadi. Kamu yang butuh, kami yang repot." Dengus mereka hampir bersamaan.
Endro cengengesan. Dia mengedipkan matanya ke arah Mentari.
"Ishh..." Mentari berlagak marah dengan tatapan membunuhnya. Dia baru menyadari, bahwa yang dilakukan Endro adalah untuk dirinya. Tapi, dia juga senang akan hal itu. Terbebas untuk beberapa saat dari penjara, jelamaan neraka dunia ciptaan keluarga angkatnya.
.
.
.
__ADS_1
.
.