
Hari terus berlalu. Endro seringkali mengunjungi taman, tempat dirinya pertama kali melihat Desri. Entah mengapa, pikirannya hanya kepada gadis itu. Bahkan, dia mampu menghapus kekhawatirannya terhadap Mentari yang sama sekali tidak pernah lagi ia dengar kabarnya.
Akan tetapi, beberapa kali dia ke taman, dia sama sekali tidak menampaki wajah gadis itu lagi.
Raut kekecewaan tergambar jelas di wajahnya setiap ia hendak pergi meninggalkan taman itu.
Tapi memang benar, matanya selalu menemukan gadis itu. Hari itu merupakan penerimaan mahasiswa baru di Universitas tempatnya kuliah. Dan dia melihat gadis itu berada di Fakultas Perbisnisan dan Manajemen.
Senyumnya kembali merekah. Hanya saja, Endro tidak memiliki keberanian untuk mendekati Desri.
Desri terlihat seperti anak orang terpandang. Dia mengendarai mobil pribadinya.
Meski gadis itu adalah perempuan yang baik menurut penilaiannya, tapi Endro tahu diri sehingga dia hanya menatap dari kejauh.
Gadis itu selalu tampak ceria. Padahal, dengan yakin Endro menampaki kesedihan di matanya. Meski dia tidak tahu ada apa, tapi dia begitu yakin. Hanya saja, gadis itu terlihat pandai menyembunyikan perasaannya.
Aku berharap ini hanya kebetulan. Sesuatu yang datangnya sesaat, namun perginya begitu cepat.
Apakah ini yang dimaksud, Ayah? Kalau iya... Berarti aku telah dengan sengaja membuat pusara untuk perasaanku.
Aku tidak akan mungkin lupa dengan janjiku terhadap Mentari. Meski aku sadar, bahwa aku saat ini sedang jatuh dalam cinta yang sebenarnya.
Dan aku juga sadar, cinta yang sebenarnya tidak harus memiliki....
Aku tidak akan mengorbankan Mentari. Perempuan yang selalu melihatku, menemukan keberadaanku. Dan hidup dalam penderitaan selama menunggu kehadiranku.
__ADS_1
Jika umurnya panjang, maka akulah kebahagiaan di sisa usianya itu.
Desri tampak menangis di sudut taman kampus. Tempat yang cukup terasing dari keramaian. Mungkin kala itu dia ada masalah, dan hanya dirinya beserta Maha Kuasalah yang tahu.
Endro menatap sempurna dengan perasaannya kepada pundak Desri yang tampak bergetar hebat kala itu karena menangis sambil sesenggukan.
"Desri..." Seseorang menyeru gadis itu, ketika Endro juga berniat hendak menghampirinya. Terlihat sekali oleh Endro, Desri menyeka air matanya dengan cepat.
"Eh... An? Ada apa?" Tanyanya berusaha tersenyum.
"Kamu kenapa, Des?" Meski Desri telah berusaha menyembunyikannya, tapi temannya itu masih bisa melihat mata sembabnya yang memerah.
"Tidak apa-apa kok, An?" Elaknya semakin berusaha menutupi.
"Ah... Aku tau kamu, Des. Kamu pintar menyembunyikan perasaanmu. Apa ini ulah sepupumu lagi?"
Dering ponsel Endro terdengar berbunyi dari balik kantong celananya.
"Ayah?" Gumam Endro ketika melihat nama di layar ponselnya. Dia bergegas mencari tempat berteduh untuk menjawab panggilan dari ayahnya itu.
Sesuatu membuat Endro tampak tercengang. Entah kabar apa yang diterimanya kala itu.
"Ayaaaahhhh..." Suara pekikkan Desri seiring bunyi guntur menggelegar, membuatnya juga semakin tak berkutik. Dia ingat, mungki Desri seperti Mentariyang juga takut dengan petir.
Endro pergi meninggalkan taman itu dengan segera setelah melihat Desri dipeluk oleh temannya.
__ADS_1
*****
Suara petir menggelegar membangunkan kesadaran Endro dari bayangan masa lalunya.
"Nummi...!" Dia teringat akan gadis itu. Putri dari Desri dan Arkhan, yang sudah dianggapnya pula sebagai putri kandungnya.
Endro menoleh ke arah jam yang tergantung di dinding kamarnya. Saat itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Hujan yang awalnya hanya gerimis, tanpa disadarinya sudah menjadi badai yang menakutkan. Kilat dan guntur saling bersahutan membelah dan memecah langit kelam.
"Pasti Nummi akan terbangun. Dia juga sama, takut dengan bunyi petir." Ujar Endro semakin panik.
Tiba-tiba, lampu padam. Endro semakin megkhawatirkan gadis tujuh belas tahunan yang berlibur di rumahnya itu.
Endro bangkit hendak mencari ponselnya untuk menciptakan penerang di sekitarnya. Meski sedikit kepayahan dalam pencariannya, akhirnya Endro menemukan juga ponselnya di atas nakas samping tempat tidurnya di kamar.
Dengan bergegas, Endro langsung bergerak ke kamar Nummi. Dia mendengar isak gadis itu di dalam kamarnya.
"Nummi... Ini Om, Sayang!" Seru Endro sambil mengetuk pintu kamar yang dihuni Nummi.
"Om Endroooo... Nummi takuut." Isaknya semakin menjadi-jadi.
Endro segera membuka pintu kamar Nummi yang tidak terkunci. Dan dia menemukan gadis itu berpangku lutut di atas tempat tidurnya. Selimut tebal pun membaluti tubuhnya yang menggigil karena ketakutan.
Ingatan Endro kembali kepada Mentarinya. Gadis itu sama persis. Dia bahkan juga membekap telinganya karena ketakutan.
__ADS_1
Endro segera naik ke tempat tidur itu dan memeluk Nummi dengan erat. "Tenang, Sayang. Om ada disini menemanimu. Kamu jangan menangis, ya. Ayo tidur lagi." Endro kembali membaringkan tubuh Nummi yang belum terlalu pulih rasa takutnya di atas tempat tidur itu. Dia kemudian mengelus lembut pundak Nummi, hingga gadis itu kembali tertidur karenanya.