
"Endro..." Panggil Mentari lirih. Mereka masih saja duduk berselonjoran di atas pasir tepian danau itu.
"Humm..." Sahut Endro dengan pelan.
"Ayo kita kembali. Nanti yang lainnya akan mencari kita..." Ajak Mentari.
"Baiklah... Tapi kamu harus janji dulu denganku." Pinta Endro bersyarat.
"Janji apa?" Alis milik gadis berwajah pucat itu pun mengkerut dibuatnya.
"Setiap satu jam sekali, kamu harus absen kepadaku. Unjuk diri..." Perintah Endro tegas.
"Hahhh?" Mulut Mentari melongo. "Kenapa mesti begitu?"
"Ya... Aku hanya mau memastikan, kalau kamu baik-baik saja." Ujar Endro.
"Hufhhh... Ada-ada saja nih, orang..." Ujar Mentari. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya mengabaikan perintah Endro. Mentari bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan Endro yang merasa dikacangin.
"Berjanjilah...!" Seru Endro lagi seraya ikut bangkit dari duduknya.
Mentari kembali menghentikan langkahnya. "Iya... Iya... Bawel..." Sahutnya dengan terpaksa tanpa menoleh lagi. Diam-diam, mereka tersenyum tanpa satu sama lain mengetahuinya.
Sebelum mereka kembali ke perkemahan, Endro mengemaskan kayu yang telah disisiknya tadi. Sementara itu, Mentari mengambil jerikennya yang sudah dipenuhi air.
*****
Sesuai janjinya, setiap satu jam sekali, Mentari selalu menampakkan diri di depan Endro. Diam-diam, tanpa di ketahui siapa pun, Mentari bahkan sampai unjuk gigi memperlihatkan wajahnya kepada lelaki itu.
__ADS_1
Endro menyeringai senang. Di dalam hatinya, ada sebuah kepedihan jika melihat senyuman di wajah gadis itu. Pedih jika mengingat hari, dimana Mentari dipukuli oleh Alex. Dan waktu akan selalu menunggu untuk hal itu.
Sudah lewat waktu isya kala itu, mereka membuat api unggun disana. Dan seluruh warga sekolah yang ikut, akan duduk melingkari api yang menyala di hadapan mereka.
Beberapa siswa dan siswi diantara mereka, bergantian memberikan hiburan. Ada yang bernyanyi, berpuisi, comedy dan banyak antraksi lainnya yang mereka tampilkan.
"Bagaimana kalau kita mendengarkan lagu yang akan dibawakan Endro.Dengar-dengar, dia kan jago bermain gitar." Ujar salah seorang dari mereka.
Endro tercengang. Dia sempat menolak, namun salah seorang dari mereka bersorak menyebut namanya.
"Endro... Endro... Endro..." Ya, dia adalah Mentari. Mentari menyemangati sembari menepuk-nepuk tangannya. Dan yang lainnya pun mengikuti.
"Endro... Endro... Endro..."
Karena suara Mentarilah yang dia dengar pertama kali, akhirnya Endro pun maju. Dia menjinjing gitar yang memang sengaja dibawanya dari rumah. Gitar yang dibuat sendiri oleh ayahnya, ketika ia masih duduk di bangku SMP kala itu.
"Ayo dong, End... Buat apa kamu membawa gitar, jika tidak ditunjukkan kepada kami cara memainkannya." Ujar salah seorang lagi diantara mereka mendesaknya. Tampak sekali mereka penasaran dan juga tidak sabaran.
Endro mengatur nafasnya perlahan. Dia duduk di kursi yang telah di sediakan dan mengatur posisinya agar merasa nyaman ketika memainkan alat musik sederhana yang dipeganginya itu.
Tangan Endro mulai memetik senar gitarnya.
"Huuu... Bagus End..." Sorak-sorai mereka kembali terdengar. Tepuk tangan meriah menyambut suara musik yang keluar dari setiap petikan jari-jemarinya terhadap senar gitar itu.
Menatap indahnya senyuman di wajahmu...
Semua terdiam dan terpukau, ketika pertama kali mendengar suara Endro menyanyikan lagu miliknya Ungu 'Tercipta Untukku'.
__ADS_1
Ketika sampai di chorus lagu. Air mata Mentari mengalir. Entah apa yang dirasakannya kala itu. Dia seakan-akan merasakan kesungguhan lelaki itu terhadapnya dari balik lagu yang dibawakan oleh Endro malam itu.
Aku ingin engkau slalu...
Hadir dan temani aku...
Di setiap langkah yang meyakiniku...
Kau tercipta untukku...
Sepanjang hidupku...
Tidak hanya Mentari, banyak dari mereka yang begitu menghayati luahan hati Endro. Meski mereka sama sekali tidak mengerti dan menyadari hal yang sebenarnya.
Tepuk tangan mereka kembali terdengar meriah, mereka begitu puas dengan penampilan Endro di hadapan mereka.
Sejenak, Endro melirik ke arah Mentari. Dia tersenyum dan mengisyaratkan agar gadis itu mengusap air matanya.
Mentari yang mengerti akan isyarat itu menganggukkan kepalanya, dia membalas senyuman dari Endro. Mentari mengusap air matanya yang telah membanjiri pipinya sedari tadi.
.
.
.
.
__ADS_1
.'