
Shubuh itu, Mentari terbangun lebih awal. Meskipun begitu, dia sama sekali tidak beranjak dari tempat tidurnya. Dia berbaring menyamping menghadap ke arah Endro. Matanya yang sayu tak berhenti memandang lekat ke wajah Endro yang tertidur nyaman di sampingnya.
Mentari tersenyum. Dia terlihat damai menatap wajah teduh Endro yang terlelap pulas saat itu.
Ketika suara mengaji terdengar dari Mushala sebelum adzan shubuh berkumandang, Endro mengerjapkan matanya sedikit demi sedikit secara perlahan. Pemandangan pertama yang disaksikannya saat itu adalah wajah tenang istrinya yang sedang tersenyum seakan menunggu dirinya terbangun.
"Selamat pagi, Sayang." Sapa Mentari yang masih tak berhenti menatap wajah Endro.
"Pagi juga, Sayang." Sahut Endro sembari menggeliat kecil. "Kamu kenapa begitu memandangiku? Seakan tidak ada lagi waktu di lain kali." Tanya Endro dengan suara garau khas bangun tidurnya.
"Mungkin saja begitu. Kita manusia 'kan tidak ada yang tahu waktu Sedetik pun, misteri di depan kita." Tutur Mentari datar tanpa kesengajaan dalam mencari-cari kata. Dia terlihat santai menjawab pertanyaan Endro.
"Hmm... Kamu benar, sayang." Sahut Endro Seraya bangkit dan duduk. Dia menarik tangan Mentari untuk ikut duduk bersamanya, saling berhadapan satu sama lain di atas tempat tidur itu.
"Sayang... Wajah kamu kok begitu cerah, ya? Berbinar dan berkilauan. Aku seakan melihat bintang-bintang dalam pandangan mataku ke wajah cantikmu itu." Ungkap Endro terlihat serius. Dia tidak terlihat seakan menggoda atau pun merayu istrinya. Apa yang diucapkannya, adalah sebenarnya dengan apa yang dilihatnya saat itu.
Mentari tak menyahut. Dia hanya tersenyum mendengar ucapan Endro. Bahkan dia tidak terlihat tengah tersipu ataupun malu-malu. "Kamu bahkan boleh memandangiku dengan sepuasnya pagi ini, Sayang." Tawar Mentari Seraya memegang kedua pipi Endo dengan telapak tangannya.
Endro sedikit meringis. "Sayang... Tangan kamu kok dingin begini? Kamu sakit, heh?" tanya Endro Seraya mengambil dua tangan Mentari yang masih melekat di pipinya. Dengan cemas, Endro mengusap-usap tangan istrinya itu untuk memberikan kehangatan dari tangannya sendiri.
Mentari tersenyum, dia menggeleng membantah dugaan Endro. Matanya sama sekali tidak berkedip melihat raut kecemasan di wajah suaminya itu.
Mentari menahan tangan Endro yang sibuk menggesek-gesekkan telapak tangannya yang terasa dingin oleh Endro. "Sudah azan, Sayang. Ayo kita Shalat." Ajak Mentari.
"Tapi kamu beneran tidak sakit, Sayang?" Tanya Endro masih terlihat mengkhawatirkan Mentari.
"Aku tidak apa-apa. Cuacanya yang begitu dingin, Sayang. Makanya tangan dan kaki aku dingin."
"Kaki kamu juga dingin?" Tanya Endro lagi terperangah.
"Hu'um... Tapi nggak apa kok."
"Benar?"
"Iy-ya..." Angguk Mentari lagi meyakinkan Endro. "Ya sudah. Ayok..." Mentari akhirnya turun dari atas tempat tidur itu terlebih dahulu, kemudian dia mengulurkan tangan kanannya kepada Endro.
Endro tersenyum menyambut uluran tangan Mentari. Dia merasa mencintai istrinya itu dengan sangat dalam dari semalam.
Waktu terus berlalu. Mentari penerang bumi pun telah mulai menampakkan sinarnya.
__ADS_1
Sebelum berangkat, Endro dengan ditemani Mentari terlebih dahulu menemui Ayahnya.
Tok... Tok... Tok...
"Ayah... Ini kami. Bisakah kami masuk sekarang?" Tanya Endro seraya mendekatkan mulutnya ke daun pintu kamar Kamil yang tertutup rapat.
Iya... Masuklah, End...~ Terdengar suara Ayahnya menyahut dari dalam.
Endro membuka pintu kamar itu dan segera masuk dengan diikuti Mentari. Mereka menemui Kamil yang terlihat duduk bersandar di atas tempat tidurnya.
"Ada apa, End?" Tanya Kamil dengan lemah.
"Aku hari ini berangkat ke pasar, Yah. Nanti sepulangnya, Ayah harus mau ke rumah sakit." Pinta Endro terdengar tegas. Mentari mengangguki ucapan Endro. Dia berharap agar ayah mertuanya itu menurut.
"Tidak perlu, End. Ayah tidak apa-apa. Ayah cuma demam biasa, nanti sembuh sendiri, Nak." Tolak Kamil dengan lemah. Wajahnya semakin memucat dari kemarinnya.
"Ayah..." Akhirnya Mentari buka suara. Dia mendekat dan mengenggam tangan Kamil. "Ayah harus periksakan diri ke rumah sakit. Kalau Ayah tidak mau, itu sama saja artinya Ayah membiarkan kami terus merasa khawatir dengan keadaan Ayah." Tutur Mentari terdengar memelas.
"Tapi, Nak..."
"Ayah... Mentari mohon. Untuk sekali ini lagi, Ayah dengarkan permintaan Mentari ya, Yah." Potong Mentari cepat ketika Kamil berniat hendak membantah lagi.
"Demi Mentari..." Mentari semakin menguatkan genggamannya.
"Hmm. Jika sudah menantu Ayah yang meminta, Ayah pasti mau..." Ujar Kamil mengalah. Dia membalas genggaman tangan Mentari yang penuh kehangatan.
"Terima kasih, Ayah. Mentari hanya ingin Ayah tetap sehat. Mentari tidak mau Ayah sakit seperti ini."
"Iya, Nak... Ayah pasti akan sehat." Sahut Kamil tampak tersenyum.
Endro tersenyum senang melihat kedekatan Ayah dan istrinya itu. Meski bukan untuk pertama kalinya, tapi untuk kali itu dia menyadari bahwa pemandangan itu sangat mendamaikan hatinya.
"Ya sudah, Yah. Aku berangkat dulu." Pamit Endro seraya mencium punggung tangan Ayahnya. "Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam..."
"Mentari antar Endro ke depan dulu ya, Yah." Pamit Mentari. Dia mengikuti langkah Endro setelah mendapatkan sahutan dari Ayah mertuanya itu.
"Terima kasih ya, Sayang. Kamu sudah membujuk Ayah, sehingga Ayah mau ke rumah sakit." Ucap Endro sambil memeluk Mentari.
__ADS_1
"Aku telah sering mendengarmu mengucapkan terima kasih kepadaku, Sayang. Tapi aku tidak pernah mendengarmu mengatakan cinta kepadaku." Endro terdiam. Dia sadar akan kebenaran ucapan Mentari.
"Maukah kamu mengatakannya untuk sekali saja?" Tanya Mentari seperti berharap banyak kepadanya.
Entah kenapa hati Endro serasa pilu mendengar ucapan Mentari. Dia seakan telah membuat istrinya itu mengemis cinta kepadanya.
"Walaupun sebenarnya kamu belum, atau tidak mencintaiku sama sekali." Ujar Mentari lagi.
"Kamu bicara apa, Sayang? Aku mencintaimu..." Ujar Endro terdengar berat. Bukan berat untuk mengatakan cinta. Hanya saja, dia merasa ganjil akan perasaannya saat itu. Dia sama sekali tidak ingin melepas Mentari dari dalam dekapannya.
Akhir-akhir itu dia mulai mudah untuk mengeluarkan air matanya di depan Mentari.
"Terima kasih, Sayang." Ucap Mentari terdengar lirih, dan hal itu semakin membuat hati Endro semakin terasa perih karenanya.
"Aku mencintai kamu..." Ucap Endro lagi tanpa diminta.
"Aku juga mencintai kamu..." Mentari melepaskan dirinya dalam dekapan Endro. "Pergilah, Sayang. Nanti sayur-sayurnya keburu layu." Desak Mentari. Hatinya sudah merasa bahagia setelah mendengar kata cinta dari Endro.
"Iya, Sayang. Kamu do'ain aku ya, biar aku bisa sukses. Biar kita punya perkebunan teh, seperti yang kamu impikan untuk aku." Ucap Endro.
"Iya... Aku selalu do'ain kamu kok, Sayang. Aku yakin, suatu hari nanti kamu akan jadi orang sukses." Ujar Mentari meyakinkan Endro.
"Kita..." Ralat Endro.
"Iya. Kita..." Mentari tersipu.
"Aku berangkat ya, Sayang. Assalamu'alaikum..." Pamit Endro serayq mengecup dahi Mentari.
"Wa'alaikumussalam..." Sahut Mentari melepas Endro.
.
.
.
.
.
__ADS_1