
Malam Senin kedua Nummi berada di rumah Endro. Sudah seminggu lebih dia di sana.
Meski hari itu dia sangat berharap Endro akan melanjutkan ceritanya, tetapi dia tidak begitu kecewa jika harapannya hanya sia-sia. Dia cukup mengerti dengan lelaki paruh baya itu.
Pagi-pagi sekali dia terbangun, namun dia sudah tidak lagi menemukan Endro. Dan pulangnya pun telah hampir larut pula.
"Kasihan Om Endro. Pasti Hari ini sangat melelahkan baginya..." Gumam Nummi. Matanya sesekali melirik ke arah pintu kamar Endro yang terkunci rapat dari dalamnya.
"Neng Nummi..." Panggil Bi Hana Seraya mendekati Gadis itu ke ruang tengah tempat dia menyalakan televisi, Tapi tidak untuk menontonnya. Ia sengaja berada di sana. Mungkin saja Endro akan keluar menemui dirinya.
"Iya Bi...?" Sahut Nummi segera menoleh ke asal suara Bi Hana.
"Kenapa Neng belum tidur? Sudah pukul sembilan loh, Neng." Tegur Bi Hana dengan lembut. Dia ikut duduk di samping Nummi.
"Sebentar lagi Bi... Nummi belum mengantuk..." Jawabnya datar.
"Apa Neng takut?" Tanya Bi Hana sedikit hati-hati.
"Tidak juga sih, Bi... Hanya saja, terkadang petir suka keras..." Ujar Nummi terlihat bersungut kecil. Dia menoleh ke arah luar jendela kaca di ruangan itu yang tiba-tiba tampak terang oleh kilat.
"Iya Neng... Memang lagi musimnya penghujan sekarang. Maklum Neng... Sudah bulan Desember. Kata orang-orang dulu, bulan-bulan yang pakai ber-ber di belakangnya itu, kita mesti sediakan ember." Tutur Bi Hana menyerocos panjang lebar.
"Hehehe... Ada-ada saja ya Bi..." Ujar Nummi cengengesan mendengar penuturan Bi Hana kepadanya.
__ADS_1
"Benar loh, Neng... Di negara kita kan dibagi menjadi dua musim dalam setahun. Musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan akan terjadi dari bulan September hingga bulan April. Dan musim Kemaraunya dari bulan April hingga bulan September, Neng."
"Iya Bi... Bibi benar. Tapi itu loh, yang bulannya diakhiri huruf ber mesti nampung ember... Kan lucu kedengarannya..." Sahut Nummi masih menyisakan sedikit tawanya.
"Begitulah orang-orang dahulu, Neng. Mereka paling pandai sekali. Apalagi, persediaan air bersih sangat terbatas dulunya. Jadi, Air hujan bisa mereka gunakan sebagai kebutuhan mereka." Tutur Bi Hana lagi.
"Hmmm... Begitu ya, Bi." Ujar Nummi sembari mengangguk-angguk pelan, terlihat paham.
"Iya, Neng. Ya sudah, Neng. Neng tidur gih... Sudah malam. Tuan Endro pasti juga sudah tidur. Kasihan beliau, kecapean..."
"Iya, Bi. Bibi duluan saja. Sebentar lagi Nummi masuk kamar."
"Ya sudah... Bibi masuk ya. Neng juga harus segera tidur." Pamit Bi Hana seraya bangkit dan beranjak meninggalkan Nummi seorang diri di ruangan itu.
Gadis itu pun menyerah. Dia bangkit dengan lunglai dan melangkangkah ke kamarnya. Sebenarnya, saat itu dia hanya ingin tahu keadaan Endro. Apa Omnya baik-baik saja, atau malah sebaliknya.
*****
Endro tahu, di luar, Nummi terdengar berbincang-bincang dengan Bi Hana. Tetapi dia juga tahu, tujuan Nummi berada disana untuk memastikan dirinya.
Tidak beberapa lama, suara televisi tak lagi terdengar sesaat setelah Bi Hana pamit untuk ke kamarnya terlebih dahulu.
Endro tampak lega. Dia yakin betul bahwa Nummi telah menyerah untuk menungguinya di ruangan tengah depan kamarnya itu.
__ADS_1
Maafkan Om, Sayang. Kamu saat ini pasti sangat khawatir. Om bukannya tidak mau menemuimu, Nak. Tapi hari ini pekerjaan Om kacau semua. Om tidak berhenti memikirkan Mentari dan gadis mungil itu. Om tidak berhenti memikirkan mimpi Om semalam.
Om yakin, dengan melihatmu hari ini, maka kepedihan ini pasti akan semakin menjadi-jadi. Kamu membuat Om kembali merasakan kebahagiaan hidup bersama Mentari. Dan sayangnya, kebahagiaan itu berubah menjadi kepedihan. Karena kebahagiaan itu sudah tidak lagi nyata, Nak.
Kalau Om masih bisa, Besok Om akan lanjutkan kembali ceritanya. Om akan tahan kepedihan itu. Tapi tidak untuk hari ini, Sayang.
Malam ini, kita istirahat dulu ya, Nak...~ Endro membatin panjang.
Dia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Meski telah berusaha memejamkan mata, namun Endro tak kunjung terlelap.
"Mungkin dengan melihatmu, aku akan tertidur, Mentari..." Gumam Endro seraya memiringkan tubuhnya ke arah nakas yang di atasnya ada photo Mentari.
Selang beberapa menit, Endro pun akhirnya tertidur. Tidur dalam kepedihan, pedih mengenang istrinya yang sangat mencintai dirinya. Hatinya terombang-ambing bagai sabut di tengah lautan. Tak tentu arah tujuan.
.
.
.
.
.
__ADS_1