
Sudah dua minggu semenjaka hari perpisahan kala itu. Siswa-siswi kelas dua belas kembali ke sekolah untuk penerimaan nilai UN dan keterangan lulus atau tidaknya mereka.
Dan selama dua minggu itulah Mentari menanggung rindu terhadap Endro. Dia begitu senang akan hari itu.
Hari dimana teman-temannya bersorak-sorai setelah mengetahui bahwa mereka lulus. Mentari menampakkan senyumannya, meski dia tidak yakin dengan nasibnya setelah itu.
Seseorang menarik lengannya hingga dia sedikit terkejut. Tapi setelah dia mengetahui bahwa orang itu adalah Endro, raut wajahnya berubah senang. Dia tidak dapat mengelak untuk itu.
Langkah mereka berhenti di tempat biasa mereka menghabiskan waktu bersama selama itu. Ya, padang ilalang belakang sekolah.
Tangan Endro menggenggam kedua tangan Mentari. Matanya berusaha mencari celah untuk masuk ke dalam manik hitam yang dilindungi kelopak sayu di mata Mentari. Mereka masih berdiri dan saling pandang disana.
"Bagaimana keadaanmu selama tidak bersekolah, Mentari? Kamu baik-baik saja, kan? Apa mereka menyiksamu setiap hari? Apa kamu kesakitan? Apa ada yang terluka?" Endro menanyainya tanpa jeda dan tidak membiarkan gadis itu menjawabnya satu per satu terlebih dahulu.
"Aku baik-baik saja, setelah melihatmu lagi, End." Sebuah jawaban singkat dari bibir Mentari yang kering telah mewakili semua pertanyaan Endro.
"M-maksud kamu?" Kekhawatiran terpancar jelas dari sorot mata Endro. Telapak tangannya memegangi pipi Mentari. Wajah gadis itu benar-benar terlihat pucat saat itu. Dan suhu tubuhnya serasa panas dari suhu normal.
"Bisakah kita duduk sebentar? Aku ingin meminjam pundakmu." Pintanya lirih. Dia seakan tidak bertenaga mengucapkannya.
Endro mengangguk. Dia membawa tubuh Mentari untuk duduk disana, dan menarik bahu gadis itu ke dalam dekapannya.
Mentari tak bersuara. Dia sibuk menikmati kenyamanan yang dia rasakan dalam dekapan Endro. Dan untuk merasakan lebih, dia sengaja memejamkan matanya.
"Aku sudah tidak kuat, Endro..." Mentari mulai terisak. Sesuatu yang tidak diinginkannya. Terlihat lemah lagi di hadapan lelaki itu. Tetapi dia benar-benar sudah tidak sanggup untuk menahannya.
"Mereka bahkan lebih rendah memperlakukanku dibandingkan dengan memperlakukan anjing peliharaan mereka." Adunya lagi. Mentari semakin terisak di dalam dada Endro.
Air matanya membasahi baju Endrodan terasa begitu hangat di dada lelaki itu.
__ADS_1
"Hiks... Hiks... Hiks... Aku bahkan tidak pernah melakukan hal rendahan kepada kak Juwita ketika dulu. Apa yang dibelikan ibuku selalu dua. Untukku satu, dan satunya lagi untuk dirinya. Tapi kenapa mereka malah enggan memperlakukan aku seperti manusia? Salah aku dimana?"
Endro tidak mampu berkata apa-apa. Rasa sakit yang dicurahkan Mentari kepadanya, juga membuat goresan luka di hatinya. Dia merasakan sesak mendengar isak tangis Mentari.
Dia tahu, gadis itu tidak mengada-ada. Karena dia tidak hanya melihat tubuh gadis itu lebam-lebam, tetapi dia juga pernah menyaksikan sendiri bagaimana mereka memperlakukan Mentari.
"Mentari..." Akhirnya Endro buka suara. Dia menarik kembali bahu Mentari untuk keluar dari dalam dekapannya. Jemari Endro mengangkat dagu Mentari untuk melihat wajah gadis itu.
Tetapi Mentari tidak berani membalas tatapan mata Endro. Dia terlihat begitu malu dengan keadaannya yang menyedihkan saat itu.
"Lihat aku..." Pinta Endro dengan lirih.
"Aku malu..." Elaknya getir. Air matanya terus menderas, berjatuhan dari kelopak matanya yang tampak menyembab.
"Kenapa kamu malu, hmm?" Tanya Endro semakin berusaha menguatkan hati Mentari.
"Nah, itu tahu." Ledek Endro membenarkan pengakuan Mentari. Dia hanya bermaksud menghibur gadis itu agar menghentikan air matanya.
"Tapi dia tidak mau berhenti..." Ujarnya terdengar menggerutu. Dia kesal dengam dirinya sendiri yang tidak bisa menahan hatinya di depan Endro.
"Pasti bisa... Coba kamu hirup udara dalam-dalam dari hidungmu, kemudian kamu keluarkan pelan-pelan lewat mulutmu." Ujar Endro sembari mengusap lembut pipi Mrmentari yang basah.
"Hidung aku mampet..." Sungutnya lagi.
"Ya sudah, kamu pakai saja ini." Endro menyodorkan sapu tangan miliknya. Dengan sungkan, Mentari mau menerima sapu tangan milik Endro.
"Mentari..." Panggil Endro lagi setelah gadis itu mulai terlihat tenang.
"Hmm?"
__ADS_1
"Ayahku memiliki sedikit tabungan untuk aku masuk ke perguruan tinggi. Aku akan kuliah di kota XXX, mampukah kamu menungguku sampai aku lulus nanti?" Endro merasa sulit saat itu. Tapi dia tidak ingin mengecawakan Mentari.
Mentari terdiam. Dia tidak mengucapkan apa-apa untuk menyahuti Perkataan Endro.
"Mentari?" Endro mulai terdengar mendesak.
"Tidak apa-apa, End. Aku pasti mampu, kok." Mentari menyerah. Air matanya kembali bergulir membasahi pipinya. Mungkin rasa takut itu kembali muncul menggerayangi hatinya.
"Aku janji... Setelah itu, aku akan membawamu pergi dari mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu lebih lama lagi, Mentari. Aku akan mencari pekerjaan yang layak untuk masa depan kita nantinya." Endro membujuk Mentari dengan perkataan yang sama sekali belum dimengertinya. Tapi dia tahu, hanya itulah caranya agar Mentari bisa tabah dan kuat selama dia belum datang menjemput gadis itu.
"Aku percaya kamu..." Ujar Mentari yakin. Dia menampakkan senyumannya agar Endro tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya. Dan dia juga tahu, usia mereka belum layak untuk menikah meskipun telah boleh menikah di usia mereka saat itu.
Dia hanya akan berpikir bahwa dirinya akan menjalani kehidupan layaknya Cinderella hingga Endro datang membawakan sebelah sepatu kaca miliknya.
Meski cerita itu hanyalah sebuah dongeng, tapi dia begitu yakin bahwa itu akan terjadi kepada dirinya.
"Aku mungkin tidak akan sempat mengunjungimu sebelum aku pergi. Tapi pesanku, kamu harus ingat Ayah jika kesulitan datang kepadamu, sedangkan kamu tidak sanggup menghadapinya." Ujar Endro wanti-wanti.
Mentari mengangguk. Endro pun kembali membenamkan kepala Endro ke dalam dadanya. Dia mengusap lembut bahu gadis itu hingga mereka sama-sama merasakan kenyamanan karenanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1