ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
MEMBATALKAN PERNIKAHAN


__ADS_3

Endro berbalik menatap tajam mata Juwita, membuat Gadis itu menjadi gugup karena tatapannya yang menggoda. Sejenak, Endro tersenyum. Entah senyuman apa, sehingga Juwita juga ikut tersenyum karenanya.


"Aku lebih baik tidak menikah seumur hidupku, daripada aku harus menikah dengan perempuan sepertimu." Ujar Endro bernada sinis. Dia kembali menampakan muka masam nya dan segera meninggalkan Juwita.


Gadis itu terlihat Down oleh kata-kata Endro. Dadanya terasa sesak seketika. Dia bahkan tidak menyangka kalau Endro akan menolak dirinya.


Alex dan Lita pun dibuat geram karena melihat putri semata wayang mereka dipermalukan di depan mereka seperti itu.


"Kurang ajar berani sekali dia bicara seperti itu kepadaku." Maki Juwita kesal. Kedua tangannya mengepal karena marah. "Bapak... Ibuk... Lakukan sesuatu..." Serunya lagi dengan setengah berteriak.


"Bapak kan sudah bilang, kamu tidak perlu menikah dengan lelaki seperti dia. Banyak lelaki yang lebih darinya di dunia ini." Ujar Alex marah. Bukan menenangkan hati putrinya, tanpa sadar Alex malah memanas-manasi Juwita dengan kata-katanya itu.


"Memangnya aku kurang apa, Buk? Kenapa dia tidak mau menikahiku? Bahkan aku lebih cantik dari Mentari..." Sungut Juwita. Matanya memerah karena menahan amarah yang berapi-api di dalam dirinya.


"Kamu tidak kekurangan apa-apa, Sayang. Benar, kamu bahkan lebih baik dan lebih cantik dari Mentari. Matanya saja yang sudah rusak. Tidak bisa membedakan mana yang lebih cantik dengan yang tidak." Bujuk Lita berusaha meredam amarah putrinya.


"Awas saja Mentari. Aku akan kasih dia pelajaran, nantinya." Ujar Juwita semakin geram. Kegagalannya membuat dirinya semakin membenci saudara angkatnya itu.


"Sudah... Kamu tenang saja. Benar kata Bapakmu, Nak. Masih banyak lelaki yang lebih dari dirinya..."


"Aku tidak mau... Aku hanya mau dia, titik." Gerutu Juwita seraya berlalu meninggalkan Alex dan Lita yang tercengang melihat tingkahnya.


"Dasar anak ini..." Decak Alex. "Tuh, Buk... Anakmu, keras kepala sekali." Alex ikut menggerutu kesal dan segera pula pergi dari sana.

__ADS_1


"Lah, Pak. Dia kan juga anakmu..." Ujar Lita terlihat kebingungan sebelum memilih untuk mengekori suaminya yang masih terdengar berdumel.


*****


Di sisi lain, setelah mencari Mentari kemana-mana di area rumah itu. Endro tampak berbisik kepada Ayahnya, meminta lelaki paruh baya itu membatalkan acara pernikahan yang mungkin saja tidak jadi dilanjutkan untuk saat itu.


"Lalu kamu mau kemana, End?" Tanya Kamil menatap iba kepada putranya yang terlihat lelah.


"Aku akan menunggu ayah di dalam mobil. Cepatlah, Yah. Bawa Nini sekalian." Ujarnya terdengar meminta dengan sangat.


"Baiklah..." Sahut Kamil berat. Dia tidak ingin berkata ataupun bertanya apa-apa dulu saat itu. Dia tahu, Endro saat itu sedang tidak mampu berpikir jernih.


Tidak lama menunggu, Ayahnya dan Nini datang dengan langkah gontai ke arah mobilnya yang terparkir di pekarangan rumah itu. Para tamu pun juga ikut keluar dari sana. Suara hiruk-pikuk mereka terdengar mengejek, memaki dan mencela.


Endro begitu paham dengan perasaan Ayahnya saat itu. Ayahnya pasti sangat malu dan tidak bisa berkutik selain membungkuk mengucapkan kata-kata maaf kepada mereka semua.


"Kamu tidak perlu minta maaf, End. Tidak ada yang salah darimu." Sahut Kamil dengan lunak. Dia juga paham dengan situasi saat itu.


"Lalu bagaimana dengan Mentari, Nak Endro." Tanya Nini menengahi perasaan anak dan Ayah itu.


"Iya, End. Ayah bahkan juga mengkhawatirkan gadis itu." Sambung Kamil mengikuti pertanyaan dari Nini.


"Entahlah, Yah. Berat rasa hatiku mengatakan saat ini dia tidak dalam keadaan baik-baik saja. Tapi di sisi lain, Mentari memang tidak menginginkan pernikahan ini." Sahut Endro terdengar getir. Wajahnya tampak sendu kala itu.

__ADS_1


"Apa maksudmu bicara seperti itu?" Tanya Kamil tidak percaya.


"Waktu lamaran lalu, Mentari tahu niat buruk Pak Alex, Yah. Maka dari itu, Mentari tidak ingin aku nikahi. Sepertinya, dia merasa tidak enak kepada Ayah."


"Jadi...?" Kamil terlihat masih bingung, meski saat itu dia telah menyadari situasinya.


"Iya, Yah. Dia mungkin tahu, tanah itu sangat berarti bagi Ayah. Makanya dia mundur." Tutur Endro.


"Yaa Allah..." Kamil menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi mobil itu.


"Endro sedikit kecewa, Yah. Berkali-kali Endro meyakinkannya, tapi sepertinya tidak percaya kepada kita."


"Nak Endro... Nak Endro tidak boleh bicara seperti itu. Nini yakin, pasti ini semua salah paham. Kita harus menemukan Mentari dulu, baru kita tahu kebenarannya." Ujar Nini berusaha meyakinkan Endro.


"Iya, End. Ninimu benar. Kita bahkan tidak tahu, apa yang saat ini dialami oleh Mentari." Tambah Kamil lagi.


"Baiklah, Yah. Lain kali, aku akan mencari Mentari sampai ketemu. Dan itu akan menjadi kesempatan terakhir untuk kami." Ujar Endro yakin. Kamil dan Nini tidak lagi terdengar membantah. Hal yang terlalu mustahil bagi mereka untuk menenangkan Endro saat itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2