
"Mentariiii..." Berkali-kali mereka memanggil- manggil nama Mentari. Namun sama sekali tidak ada sahutan. Mereka bahkan sampai berpencar untuk mencari gadis itu.
Endro, seseorang yang paling mengkhawatirkan dirinya kala itu. Dia bahkan tidak kenal lelah untuk terus berteriak memanggil nama Mentarinya.
"Anak-anak... Berkumpul..." Perintah Pak Dio. Pengawas itu terlihat kelelahan. Nafasnya terengah-engah. "Hujan sebentar lagi akan turun, sepertinya. Sebaiknya kita kembali ke perkemahan, dan meminta bantuan yang lainnya untuk bergantian mencari Mentari." Ujar Pak Dio terlihat menyerah.
"Tidak, Pak. Saya tidak akan berhenti mencari Mentari..." Bantah Endro. Dia terlihat murka dengan keputusan pengawas itu.
"Tapi, End... Kalian semua terlihat kelelahan. Tidak kamu, atau pun yang lainnya... Kita akan tetap mencari Mentari. Karena Mentari adalah tanggung jawab sekolah." Ujar pengawas itu meyakinkan Endro.
"Pokoknya saya tidak akan berhenti mencari Mentari, Pak. Kasihan dia... Apalagi hari akan turun hujan..." Bantah Endro semakin bersikeras.
"Kamu bilang, kamu kasihan sama Mentari. Lalu bagaimana dengan teman-temanmu yang lainnya. Apa kamu tidak kasihan sama mereka. Hanya demi satu siswi, banyak siswa dan siswi yang menderita." Pengawas itu mulai menaikkan oktaf suaranya.
"Ya, Pak. Saya kasihan kepada mereka. Kalau begitu, silahkan Bapak bawa mereka untuk istirahat. Tapi biarkan saya tetap mencari Mentari." Tegas Endro seraya bergegas meninggalkan pengawas itu dan teman-teman seregunya.
"Endrooo..." Seru Pak Dio hendak menghentikan langkah Endro. "Ah anak itu... Ada apa dengannya?" Ujarnya kesal.
Endro tidak menggubris seruan Pak Dio. Dia terus berjalan dengan tergesa-gesa. Raut wajahnya terlihat jelas, bahwa dia saat itu kecewa terhadap keputusan pengawas itu.
Tekad Endro untuk mencari Mentari sendirian telah bulat. Dia tidak ingin menunggu lebih lama lagi.
Endro terus menelusuri hutan itu. Dia meninggalkan jejak dengan menancapkan kayu di setiap beberapa meter jalan yang ditempuhnya. Sesekali dia memanggil-manggil nama Mentari. Namun hasilnya tetap sama. Nihil. Dia bahkan tidak mendengar satu pun suara manusia disana.
__ADS_1
Di hutan yang tak banyak pencahayaan itu pun semakin lama semakin gelap. Angin yang mulanya berasa sejuk, lama-kelamaan mengganas. Rasa cemas semakin melanda hatinya. Namun tanda-tanda dia akan menemukan Mentari tak juga kunjung ada.
Rintikan hujan menderas tanpa aba-aba. Endro semakin panik. Langkahnya memburu, membelah hutan yang tak memiliki jalan setapak itu.
Tak ada petunjuk sedikit pun.
Mentari... Kamu dimana? Setidaknya, kamu baik-baik saja saat ini... Dimana pun...
Dan saat itu, petir terdengar menggelegar. Kilat pun ikut memberi petanda, bahwa hujan akan terus berlanjut entah sampai kapan.
Endro tak lagi bertenaga. Sekalipun dia tak lagi mengeluarkan suara untuk memanggil gadis itu. Hanya saja, dia tidak berhenti berjalan.
"Mentari...?" Gumamnya. Matanya menampaki sosok gadis itu. Dia semakin menajamkan penglihatannya di hutan yang mulai kelam itu.
Wajah pucatnya semakin tampak memucat. Putih tak berdarah. Endro segera berlari mendapati Mentarinya.
"Mentari..." Panggilnya. Dia mendekap tubuh yang menggigil itu dengan erat. "Kamu akan baik-baik saja, Mentari. Tenanglah... Aku akan membawamu keluar dari sini." Ujar Endro. Air matanya mengalir begitu saja melihat kondisi Mentari yang menyedihkan.
Kilat petir bermunculan. Mentari tampak terkejut dan semakin menguatkan dekapannya ke tubuh Endro. Dia menyembunyikan kepalanya di dalam dada bidang lelaki itu. Suara Guntur menyambar, dan jemarinya dengan kuat meremas baju Endro. Dia terisak dalam dekapan Endro.
"Aku takut, End. Aku takut... Hiks... Hiks... Hiks..." Rintihnya. Suaranya semakin bergetar. Tubuhnya tak berhenti menggigil. Giginya bergemelatuk tanpa dapat dihentikan sama sekali. Dia benar-benar kedinginan.
"Kamu takut kenapa? Ada aku disini, Mentari. Aku tidak akan membiarkan kamu kenapa-kenapa." Ujar Endro menenangkannya.
__ADS_1
"Mereka meninggalkanku... Mereka tidak menungguiku..." Adunya di sela-sela isak tangisnya. Dan ketika kilat kembali menerangi langit, Mentari kembali bersembunyi di dada Endro. Dia tahu, Guntur akan kembali terdengar dan mengoyak keberaniannya.
"Apa kamu takut petir?" Bisik Endro sembari membekap erat sebelah telinga Mentari.
Mentari mengangguk.
"Lalu bagaimana selama ini? Jika kamu disuruh tidur di kandang." Tanya Endro. Dia bahkan tidak sanggup membayangkan penderitaan gadis itu.
"Aku takut... Aku serasa mau mati... Aku takut... Mereka tidak membiarkan aku berlindung dari rasa takutku sedikit pun..." Ujarnya mulai terdengar memarau.
"Sekarang... Ada aku. Jadi jangan takut lagi, Mentari. Ketika hujan reda nanti, aku akan membawamu ke perkemahan kembali." Ujar Endro.
Mentari mengangguk. Dia tahu, lelaki itu adalah heronya. Penyelamatnya, pelindungnya dan masa depan yang diciptakan tuhan untuknya.
.
.
.
.
.
__ADS_1