ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
RICUH


__ADS_3

Kala itu, baru saja Mentari dan Nini usai menunaikan shalat Zuhur. Alex datang dengan tiba-tiba. Dia menggedor pintu rumah sederhana yang di tempati Mentari bersama suami dan ayah mertuanya itu dengan begitu keras, sehingga membuat kericuhan dari luar rumah. Sesekali, Alex juga berteriak memanggil-manggil nama Mentari.


"Astaghfirullah... Nini... Sepertinya itu suara Bapak." Ujar Mentari terkejut.


"Tidak salah lagi, Nak. Itu memang suaranya Alex." Sahut Nini membenarkan dugaan Mentari.


"Tapi... Ada apa ya, Ni? Kenapa kedengarannya suara Bapak seakan sedang marah-marah begitu?" Tanya Mentari panik. Mentari membuka mukenah yang masih membalut tubuhnya dengan segera.


Di sisi lain, Kamil yang juga mendengarnya pun dengan langkah tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya dan membukakan pintu rumahnya itu untuk menemui Alex.


"Ada perlu apa kamu datang ke mari, Lex?" Tanyanya dengan sabar.


"Waaahh... Kebetulan sekali Anda berada di rumah, Tuan Kamil. Saya datang ke mari karena ada perlu dengan anak saya." Seringai Alex menampakkan keangkuhan dirinya. Dan tanpa dipersilakan, Alex langsung menerobos masuk ke dalam rumah. Dengan sengaja, bahunya menyenggol bahu Kamil, hingga tubuh lemah mertua Mentari itu pun tersungkur di lantai.


"Bapak..." Hardik Mentari tak kuasa melihat tingkah Bapak angkatnya itu.


"Mentari... Kecilkan suaramu." Balas Alex menghardik Mentari. "Dasar anak tidak tahu diuntung. Kamu pikir dengan kamu telah menikah, kamu bisa membentak Bapak, hah?" Tambahnya berapi-api.


"Mentari..." Panggil Kamil dengan lunak. Dia berusaha bangkit dan melangkah ke arah Menantunya itu. "Dengarkan Ayah, Nak. Bapakmu hanya ingin bertemu denganmu. Layani dia dengan baik, Ya." Tutur Kamil dengan lembut.


Mentari terlihat kesal dan marah. Dia tahu sebenarnya apa tujuan Alex datang dan ingin bertemu dengan dirinya.


"Mentari tidak lagi ada urusan dengan dia, Ayah." Ucap Mentari begitu ketus.


Mendengar jawaban Mentari, wajah Alex langsung memerah. Dia mendekati Mentari dengan cepat dan kemudian melayangkan telapak tangannya ke pipi Mentari.

__ADS_1


"Alex...


Alax..." Hardik Kamil dan Nini hampir bersamaan.


"Diaaamm... Kalian tidak usah ikut campur." Teriak Alex semakin meradang. Dia menarik rambut Mentari dan membenturkan kepala anak angkatnya itu ke dinding.


"Ya Allah... Aleex..." Nini dan Kamil berusaha menolong Mentari dari cengkraman kemarahan Alex. Namun tenaga mereka yang lemah tidak sebanding dengan tenaga yang dimiliki Alex. Dengan satu kibas, tubuh Kamil dan Nini rubuh seketika.


Alex menarik lengan Kamil dan Nini ke dalam kamar dan mengunci mereka dari luar. Mentari kembali berupaya hendak menyelamatkan mereka, namun satu tamparan kembali melayang ke pipinya.


"Ini 'kan yang kamu mau, hah?" Teriak Alex membabi buta. Dia berkali-kali membenturkan kepala Mentari ke dinding.


Tidak tinggal diam, Nini dan Kamil terus-terusan menggedor-gedor pintu dari dalam sambil terus meneriaki nama Alex dan Mentari. Namun mereka tidak berdaya, kamar tak berjendela itu membuat mereka juga tidak bisa keluar dari sana.


"Pak... Ampun, Pak... Tolong lepasin Mentari, Pak. Mentari tengah mengandung..." Isak Mentari memohon. Dia terus meminta agar Alex menghentikan kemarahannya.


"Ampun? Ampun katamu, hah?" Ejek Alex sembari mencengkram keras pipi Mentari yang bersimbah air mata dan darah. "Presetan dengan kehamilan kamu... Bapak tidak peduli kamu sedang mengandung atau tidak. Yang Bapak mau, surat tanah milik mertuamu. Kamu pasti tahu dimana letaknya, bukan?" Teriak Alex tanpa ampun.


Mentari menggeleng berani. "Tidak... Tidak, Pak. Mentari tidak akan membiarkan Bapak mengambil apa pun lagi dari suami atau pun mertua Mentari." Elak Mentari terus menggeleng. Bibirnya bergetar menahan takut.


"Dasar anak tidak tahu diuntung..." Maki Alex sembari mendorong tubuh lemah Mentari ke lantai. "Katakan dimana letak surat tanahnya..." Teriaknya lagi.


"Tidak akan..." Seru Mentari tak kalah berteriak.


Alex semakin geram. Dia menarik rambut Mentari dan menyeretnya ke sepanjang sisi ruang itu.

__ADS_1


Mentari tetap bertahan. Darah segar mengucur dari pelipisnya. Dan tidak hanya itu, darah kental juga telah mengalir dari pangkal paha Mentari.


Suasana disana begitu menyayat pilu. Mentari tak sedikit pun berpikir untuk menyerah. Dia merasa sudah tidak lagi ingin menuruti kata-kata Bapak angkatnya yang jahat itu. Dia berkali-kali mendesirkan nama suaminya dengan nada yang melemah.


"Hah... Endro? Kamu mengucapkan nama suamimu yang tidak berguna itu? Dimana dia sekarang? Apa dia bisa menyelamatkanmu saat ini, hah?" Ejek Alex berkali-kali. Dia terus menyeringai, menggeriti menampar-nampar kecil pipi Mentari yang sudah lebam-lebam. "Yang bisa menyelamatkanmu hanya surat tanah milik mertuamu. Maka dari itu, katakan kepada mertuamu untuk memberikannya kepada, Bapak."


Mentari sadar, teriakan yang mereka semua ciptakan di dalam rumah itu tiada berguna. Rumah yang mereka huni begitu jauh dari tetangga.


Mentari... Berikan saja, Nak. Ambilkan saja... Surat tanah itu ada pada suamimu...~ Suara Kamil terdengar berseru menyerah dari dalam tempat dia disekap bersama Nini.


"Kamu dengar? Bahkan mertuamu saja mau menyerahkannya demi kamu..." Seringai Alex penuh kemenangan.


"Tidak akan, Pak. Mentari tidak akan mau..." Ucap Mentari lirih tidak menyerah.


"Kurang ajaaar..." Teriakan Alex beriringan dengan gerakan tangannya yang cepat melayang ke pipi Mentari. "Cepat serahkaaannn." Paksa Alex menggila.


"Tidak, Pak... Jangan paksa Mentari, Pak." Sahut Mentari memelas. Tubuh Mentari begitu lemah. Dia memegangi perutnya yang terasa perih dan sakit.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2