
Semua orang bisa bersembunyi dan menyembunyikan perasaannya, tapi hanya sebahagian orang lain yang dapat menemukan perasaan yang tersembunyi itu. Kendatipun dia adalah orang-orang terdekatmu.
Dia tidak akan bisa masuk, jika dia tidak benar-benar ingin masuk. Dan disanalah kamu akan mengetahui, siapa saja yang sungguh-sungguh peduli dan mengerti kamu.
Nummi menatap sendu wajah Endro yang terlihat fokus berkutat pada pekerjaannya. Dia hanya berpura-pura menyikapi dengan biasa saja cara Endro berlaku di depannya. Tapi jauh di lubuk hatinya yang terdalam, dia sedih. Dia kecewa dengan dirinya sendiri.
Hanya dua jam saja. Ya, hanya segitu waktu yang dihabiskan Endro di pabrik. Mungkin semua memang terlihat biasa-biasa saja. Tapi pada kenyataannya, tidak ada satu pun pekerjaan yang diselesaikannya dengan baik dalam waktu segitu.
"Sayang... Ayo kita pulang..." Ajak Endro sambil berkemas.
Nummi tidak menyahut. Alis matanya berkerut seketika. Tebakannya benar. Endro tidak melakukan apa pun. Dia hanya berusaha bersembunyi dari Nummi. Agar gadis itu tidak terus-terusan menyalahkan diri sendiri atas kekacauan yang dialami Endro saat itu.
"Nummi?" Panggil Endro lagi menyadari reaksi Nummi yang tidak menyahuti ajakannya.
"Eh? I-iya, Om?" Reaks Nummi semakin gugup.
__ADS_1
Endro mendekati Nummi dengan perlahan. "Percayalah, Nak. Om baik-baik saja. Jika kamu seperti ini, Om jadi merasa bersalah. Kamu pasti juga bosan nungguin Om disini, kan?" Endro tampak murung dengan suasana canggung yang saat itu mereka alami.
"Tidak kok, Om. Nummi hanya merasa Om beda." Nummi mulai merasakan kepedihan di tenggorokannya. Air matanya pun telah menggenang di pelupuk matanya yang indah itu. "Harusnya Om marah, jika itu diperlukan. Jangan menyiksa diri Om sendiri seperti ini. Menyembunyikan kesedihan Om dengan cara begini." Nummi sedikit tersedu menyampaikan hal yang mengganjal di hatinya saat itu.
"Om jujur, Nak. Sebelumnya Om pernah bercerita, bahwa Om tidak pernah menyatakan cinta kepada Mentari pada masa hidupnya. Kecuali sekali ketika dia yang meminta, dan itu untuk yang terakhir kalinya pula." Tutur Endro tampak tertekan.
Nummi hanya diam menunggu kelanjutan penjelasan dari Endro, meski air matanya pun sudah tidak tertahankan lagi kali itu.
"Dan itu yang membuat Om semenderita ini, Nak." Sambung Endro getir. "Om tidak menyangka akan jadi penyesalan untuk, Om. Penyesalan yang baru Om sadari, setelah Om memutuskan untuk kembali hidup dalam cerita masa lalu Om bersama dirinya. Dan pasti, itu berkat dirimu karena telah menjadi pendengar yang baik."
"Tapi tetap saja Nummi yang meminta Om untuk menceritakannya." Protes Nummi semakin merasa tidak nyaman.
"Mulai saat ini, yang ada hanya cinta dan do'a di dalam hati Om, 'kan? Tidak akan lagi ada sakit atau penyesalan." Ujar Nummi di balik permintaannya. Ya, dia meminta Endro untuk memaksakan diri agar tidak terus-terusan jatuh dalam penyesalan dan rasa sakit yang dia buat sendiri.
"Iya, Sayang... Ayo kita pulang." Ajak Endro lagi. Dia sengaja mengiyakan, meski hatinya belum sepenuhnya siap untuk itu.
__ADS_1
"Ayo, Om..." Sahut Nummi kembali riang dan ceria.
"Kamu tunggu sebentar ya. Om siap-siap dulu..." Ujar Endro kembali ke meja kerjanya. Dia tampak sibuk berkemas, menata meja kerjanya agar kembali rapi seperti semula.
Usai berkemas, Endro dan Nummi keluar dari ruangan itu menuju ke parkiran mobil. Mereka kembali ke rumah dengan suasana yang kembali hangat seperti pertama-tama gadis itu datang kesana dan seperti sebelum-sebelumnya.
Sesekali mereka membumbui suasana mereka dengan gelak tawa, petanda hati Endro benar-benar sudah menjadi baik saat itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.