
"Begitulah awalnya Bibi Mentari bisa bertemu lagi dengan, Om. Tunggu dia merasakan kepedihan teramat dalam terlebih dahulu, baru kami bisa bersama." Endro terdengar hendak mengakhiri cerita kisah pahit di masa lalunya pada malam itu kepada Nummi.
Dia menghela nafasnya yang terasa berat, dan membuangnya kembali dengan begitu kasar. Setiap jengkal ingatannya tentang Mentari, benar-benar meresap ke dalam hatinya.
"Kenapa Om mesti berhenti kuliah? Padahal... Om kan masih bisa tetap lanjut kuliah meski sudah menikahi Bibi Mentari." Tanya Nummi terlihat heran.
"Waktu itu Om tidak punya biaya yang cukup, Nak. Sementara, Om harus menafkahi Bibi Mentari. Om tidak mau membebani Ayah, Om. Apalagi Om juga sudah memiliki tanggung jawab sendiri." Sahut Endro berusaha tersenyum.
"Hemmm... Sayang sekali ya... Maka dari itu ya, Om. Om masih bisa manghandel perkebunan ini, walaupun Om bukanlah seorang sarjana. Tapi karena Om cukup ilmu, meski kuliah Om hanya genap enam semester." Terka Nummi. Dia begitu paham setelah mendengar penuturan Endro.
"Alhamdulillah, Nak. Semua juga berkat Almarhum Opamu dan kedua orang tuamu. Mereka sangat-sangat berjasa terhadap, Om. Tanpa mereka, Om bahkan tidak akan tahu bagaimana. Om bukanlah apa-apa jika tidak dipertemukan dengan mereka, Sayang." Tutur Endro seakan membenarkan ucapan Nummi. Tapi dia lebih memilih membanggakan keluarga gadis itu dan tetap merendah untuk dirinya sendiri.
"Nummi senang sekali menjadi anaknya Ayah dan Bunda. Berkat mereka, Nummi bisa mengenal, Om. Makasih sudah hadir dalam kehidupan kami ya, Om. Nummi juga tidak akan lupa dengan jasa, Om. lewat Om, Ayah dan Bunda akhirnya bisa bersama." Mentari terlihat bahagia dengan pujiannya terhadap Endro. Dia menyandarkan kepalanya ke lengan Endro yang masih tampak kekar meski di usianya telah memasuki paruh baya saat itu.
Endro memaksakan senyumannya, membalas senyuman Nummi yang tidak mengerti bagaimana perasaan di dalam hatinya. "Om juga senang telah melakukannya, Nak" Ujar Endro sambil mengelus lembut ubun-ubun Nummi.
Om bukan pemaksa hati, Nummi. Sehingga Om harus memilih membiarkan Bundamu bahagia bersama lelaki manja seperti Ayahmu... Karna Ayahmu sudah menjadi pilihan hati Bundamu.
Berkat Bundamulah semua ini, Nak. Bundamu yang lebih banyak berbuat dibanding kerja, Om. Bundamu yang telah menyelamatkan keluarga Ayahmu beserta perusahaannya. Om yakin, kamu telah mendengar sendiri dari Ayahmu.
__ADS_1
Om hanyalah seseorang yang dikirim Allah untuk mempertemukan mereka.
"Nummi... Sudah malam, Sayang. Kita sekarang tidur, ya?" Ajak Endro dengan lunak.
"Yah, Om. Kapan lagi akan lanjutinnya. Sabtu besok Nummi harus kembali ke rumah, loh." Sungutnya merasa keberatan.
"Besok kan Minggu, Nak. Om libur kerja. Om janji akan menghabiskan waktu bersama kamu saja, seharian. Menceritakan lebih banyak lagi. Malam ini bersambung dulu, ya..." Iqrar Endro. Dia berusaha membujuk gadis itu agar tidak lagi cemberut.
"Oh iya, besok Om libur kerja. Tapi beneran ya, Om. Om harus ceritakan semuanya kepada Nummi. Sekarang Nummi kan udah tujuh belas tahun." Ujarnya kembali riang.
"Iya, Nak. Om janji... Besok, pagi-pagi sekali, Om akan bawa kamu ke suatu tempat. Tempat yang begitu bersejarah dalam hidupnya, Om." Ucap Endro kembali membuat janji kepada Nummi.
"Apa tempatnya juga rahasia lagi?" Ketus Nummi tampak tidak suka.
"Ya deh... Yang kecil harus mengalah..." Endro terbahak mendengar jawaban Nummi.
"Ya sudah... Sekarang kamu tidur ya."
"Iya, Om" Nummi bangkit dari duduknya. "Good night, Om"
__ADS_1
"Good night, sayang. Sahut Endro membalas ucapan Nummi. "Ingaat... Langsung tidur, biar besok tidak kesiangan. Kalau kesiangan, Om tinggal." Endro berlagak memberi peringatan kepada Nummi yang telah hampir menghilang di balik dinding pembatas ruangan itu.
"Iiiih... Ommm..." Nummi kembali membalikkan tubuhnya mengarah kepada Endro. Dia menatap Endro sambil merengut.
"Hehe... Om bercanda, Sayang."
"Awas ya, kalau Om tinggal." Nummi balik berlagak mengancam.
"Enggak... Enggak akan Om tinggal... Om tahu, Nummi Om yang cantik selalu bangunnya kepagian."
Setelah mendengar penuturan Endro, Nummi kembali melangkah ke arah kamar yang ditempatinya di rumah itu.
Endro tersenyum simpul melihat tingkah Nummi yang tidak ubahnya memperlakukan dirinya seperti memperlakukan keluarganya sendiri. Padahal mereka sama-sama menyadari, bahwa diantara mereka bahkan tidak memiliki hubungan darah sama sekali.
.
.
.
__ADS_1
.
.