ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
DI GEDUNG SEKOLAH


__ADS_3

Mobil yang membawa Nummi bersama Endro berhenti di depan gedung sekolah SMAN 1 di kota itu.


Karena masa itu merupakan libur semester, maka gedung sekolah itu pun juga tampak sepi dan sunyi. Hanya saja, bunyi-bunyi suara tukang terdengar sedikit memekakkan telinga dari dalamnya.


"Sekolah? Apa disini yang Om maksud sebagai kejutan?" Tanya Nummi benar-benar terkejut.


"Memangnya kamu sama sekali tidak terkejut, sayang?" Tanya Endro berlagak bingung.


"Ini mengejutkan sekali, Om. Tapi kenapa disini?" Tanya Nummi tak kalah bingung.


"Ini sekolah Om bersama Mentari dulu, Nak. Tempat dimana kami pertama kali memulai hubungan baik, dan berpisah lagi sebelum pertemuan sakral menyatukan kami." Tutur Endro seraya memandangi gedung di hadapan mereka saat itu.


"Ja-jadi di sekolah ini, Om? Disini Om dulunya sekolah?" Nummi mulai terlihat mengerti. Mungkin di sekolah itulah Endro mampu bernostalgia kembali dengan bayangan Mentarinya.


"Apa kamu mau masuk ke dalam?" Endro berusaha membaca raut wajah Nummi.


"Apa boleh, Om?"


"Tentu boleh, Nak. Di dalam, ada satpam dan beberapa penjaga sekolah. Meskipun libur, tapi mereka tetap bekerja. Ada pekerjaan pembangunan di dalam. Dan mereka pasti akan membiarkan kita untuk masuk. Alhamdulillah, dengan rezki yang dititipkan Allah untuk Om, Om bisa menjadi Donatur pembangunan itu.


Sebagai Alumni disini, Om merasa berkewajiban untuk itu." Ujar Endro.


"Benarkah, Om? Kalau begitu, ayo kita masuk, Om. Nummi sudah tidak sabaran mengetahui semuanya. Melihat-lihat dimana saja kenangan antara Om dan Bibi Mentari tercipta." Ajak Nummi bersemangat.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Hanya saja, sudah banyak perubahan sedari Om tamat dari sekolah ini, Nak. Tapi, Om masih ingat betul detailnya dimana." Ujar Endro seraya turun dari mobilnya.


Nummi dan Endro berjalan di setiap lorong sekolah. Mata gadis itu berbinar memandangi keindahan setiap arsiteknya. Ada keindahan dan kedamaian tersendiri yang tersirat disana.


Bangunan lama yang terus direnovasi untuk menambahkan rasa nyaman bagi siswa-siswi yang bersekolah disana.


"Om, memangnya ada pengerjaan apalagi di sekolah ini? Sepertinya sudah cukup, jika Nummi lihat-lihat." Tanya Nummi keheranan.


"Akan ada penambahan laboraturium dan pembangunan masjid, Nak. Warga sekolah disini sudah menampung ribuan murid." Terang Endro menjelaskan kepada Nummi. "Dan disana ada taman, di sampingnya akan dibangun semacam green house." Ujarnya kembali seraya menunjuk ke arah belakang sekolah.


"Waah... Hebat... Pasti menyenangkan bersekolah disini ya, Om. Sayangnya Nummi sudah mau tamat..." Nummi terlihat sedikit bersungut.


"Tidak apa-apa, sayang. Nanti kamu akan menemui ini jauh lebih baik lagi, di tempat fakultasmu. Kamu berencana masuk ke fakultas mana?" Tanya Endro menghibur hati gadis itu.


"Niatnya sih Fakultas Pertanian, Om. Agroteknologi." Nummi sedikit menekankan jawabannya.


"Om tahu? Padahal Om kan tidak kuliah?" Nummi kembali terlihat keheranan mendengar penuturan Endro.


"Ya, semenjak Om menggeluti perkebunan, Om mesti belajar banyak. Kalau tidak, Om hanya akan mengecewakan hadiah dari Ayah dan Bundamu saja."


Nummi mangut-mangut membenarkan pernyataan Endro. Ya, dia sangat tahu bahwa perkebunan yang dikelola Endro, merupakan hadiah dari Ayah dan Bundanya. Sedangkan Endro, hanyalah pemilik tanah warisan dari keluarga ayahnya pula.


Endro terus melangkahkan kakinya, sedangkan Nummi hanya menjadi pengikut setia yang memerhatikan kemana langkah kaki itu membawanya. Hingga, sebuah ruangan kelas yang berada disana membuat langkah kaki Endro terhenti.

__ADS_1


"Disini ruang kelas terakhir kami bersama, Nak. Di lokal inilah semuanya berawal." Ujar Endro memberitahukan Nummi. Dia menghadap ke pintu kelas itu. Kedua tangannya tak pernah keluar lagi dari kantong celananya. Dia seperti enggan mengekspresikan perasaannya kala itu. Seakan-akan, luka lamanya benar-benar kembali koyak.


Tidak ada yang istimewa dari ruangan itu. Sama seperti ruangan-ruangan kelas yang lainnya. Hanya saja, di mata lelaki paruh baya itu terlihat begitu istimewa. Sendu bergulat di balik pandangannya. Nanar dan tak bermakna.


Nummi melangkah mengikuti irama yang diciptakan tapak sepatu Endro. Dia memerhatikan dengan seksama setiap sentuhan-sentuhan jemari Endro terhadap benda di dalam ruangan itu.


Penuh cerita. Dan penuh kenangan dari setiap benda yang disentuhnya.


"Dulu tidak seperti ini susunannya, Sayang. Kami duduknya satu orang satu meja. Tidak berpasang-pasangan seperti sekarang. Mungkin karena muridnya yang tidak seberapa. Hanya dua puluh empat satu ruangan ini. Dan itu telah mampu menciptakan kehebohan.


Gelak tawa kami bersama-sama. Tidak ada yang berkelompok-kelompok. Tidak ada perbedaan diantara kami. Sesekali, kami saling ejek. Sebut nama orang tua...


Hehe.. Maklum, dulu itu meski jarak rumah jauh-jauh. Tapi orang-orangnya saling mengenal satu sama lainnya." Endro benar-benar telah memulai ceritanya lagi.


Wujudnya ada, tapi pikirannya telah kembali melayang ke kehidupan masa lalunya.


Dan Nummi, bertingkah seakan-akan menonton kisah mereka.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2