
Senja, kala itu. Mentari dan Nini tengah asik menyiapkan makanan di dapur rumahnya Kamil untuk mereka santap nanti malamnya.
Bunyi mesin roda empat yang tidak asing lagi di telinga mereka, lagi-lagi berhenti di pekarangan rumah sederhana itu.
Ya, mobilnya Alex baru saja terparkir disana. Mentari yang menyadari itu, segera berlari ke depan untuk memastikan kebenarannya. Dia mencoba mengintip lewat kaca depan rumah.
Memang mobil itu miliknya Alex, hanya saja yang turun dari dalamnya hanyalah Juwita seorang.
"Kak Juwita?" Gumam Mentari bertanya-tanya. Dia mungkin berpikir bahwa kedatangan Juwita kesana atas suruhan Ayahnya.
"Bapak angkat kamu itu datang lagi?" Endro tiba-tiba muncul dari arah dalam dan bertanya. Mentari sedikit terperanjat dibuatnya.
"Oh... Kamu mengejutkan 'ku saja." Ujar Mentari setengah berbisik.
"Kenapa? Apa mungkin benar dugaanku?" Tanya Endro lagi. Dia tidak mendapati wajah ketakutan pada Mentari, namun hanya sebuah kebingungan yang tersirat disana.
"Bu-bukan..."
"Lalu?"
"Kak Juwita yang datang. Sepertinya hanya dia sendiri kali ini." Sahut Mentari tanpa mengurangi raut kebingungan di wajahnya.
"Apa lagi yang membawa dia datang kesini?" Tanya Endro ikut merasa kebingungan.
"Entahlah..."
"Lalu... Apa kamu mau menemuinya?"
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
Suara ketukan terdengar dari luar. Nadanya begitu sopan. Tidak ada teriakan atau ancaman.
"Assalamu'alaikum..." Sapanya pun terdengar lembut.
Endro dan Mentari saling pandang. Bertanya dan meminta saran apa yang harus mereka lakukan saat itu.
"Apa aku buka saja, ya?" Tanya Mentari masih terlihat bingung.
"Biar aku saja..." Kata Endro.
"Tapi..."
"Tidak apa-apa... Kamu bersembunyi saja di belakangku terlebih dahulu." Ujar Endro meyakinkan Mentari. Endro masih ingat betul, Juwita tak ubahnya seperti orang tuanya yang jahat dan kejam. Dialah yang menghasut orang tuanya dan mengadukan Mentari kala itu bahwa Mentari ada di rumah Nini sehingga Mentari harus menerima hukuman dan tamparan.
Endro membuka pintu rumahnya. Juwita yang berada di depan pintu itu, lagi-lagi tidak bisa menyembunyikan keterpesonaannya terhadap sosok Endro yang tampan dan gagah.
Dia begitu terpana melihat Endro yang begitu dekat dengannya saat itu. Berkali-kali Endro menanyainya tentang perihal kedatangannya, namun dia tidak menyadarinya. Dia terus memandangi wajah Endro dengan terkagum-kagum.
"Oh... Eh... Maaf... Saya ingin bertemu Mentari. Bisakah?" Tanya Juwita masih terlihat gugup.
"Ada perlu apa lagi kamu ingin menemui Mentari?" Tanya Endro terlihat ketus dan menampakkan wajah tidak sukanya.
"Saya ada yang ingin dibicarakan dengannya. Saya mohon..." Pinta Juwita berharap.
"Bicaralah... Dia akan mendengarnya." Ujar Endro lagi.
"Tapi kami perlu bicara berdua saja. Ini penting..."
Endro terlihat berpikir sejenak. Dia tampak ragu membiarkan Mentari berbicara berdua saja dengan Juwita yang licik menurutnya.
__ADS_1
"Saya mohon, ini penting... Percayalah... Saya tidak akan mungkin apa-apakan Mentari." Juwita semakin memohon.
Endro terus saja menatap curiga ke wajah Juwita.
"Tidak apa kok, End... Sebentar saja. Biarkan aku bicara dengan kak Juwita." Bisik Mentari dari belakang Endro.
Endro masih ragu, namun untuk kali itu dia biarkan Mentari berbicara dengan kakak angkatnya.
"Ayo kak..." Ajak Mentari.
Juwita mengangguk. Dia tampak tersenyum senang karenanya.
Juwita membawa Mentari untuk berbicara ke tempat yang sedikit jauh dari Endro, namun Endro masih tetap bisa mengawasi mereka meski tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan kala itu.
Disana, Mentari tampak begitu khawatir mendengar pembicaraan Juwita yang panjang lebar. Juwita memang tidak menampakkan sikap aslinya kepada Mentari kala itu.
Juwita sesekali menggenggam tangan Mentari dan terlihat bersedih hati disana. Entah pembicaraan apa. Tapi yang jelas, Endro begitu tidak nyaman karenanya.
Endro tahu, saat itu Juwita hanya berakting saja dan mencoba menghasut Mentari.
Apa dia datang atas suruhan Pak Alex? Apa sebenarnya yang mereka rencanakan saat ini. Tapi... Apa pun itu, aku harap Mentari tidak terkecoh oleh rencana licik mereka.
.
.
.
.
__ADS_1
.