ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
KEKUATAN ITU KEMBALI


__ADS_3

Endro merasakan sebuah Kerinduan terhadap sesuatu yang ia sendiri tidak tahu. Hatinya seakan jungkir balik, menyiksa di dalam dadanya.


Siang itu, ia meminta izin kepada Arkhan untuk mencari Hawa segar dengan berkeliling. Kebetulan di saat bersamaan, Arkhan ada pertemuan dengan beberapa kliennya dari luar kota.


Endro terus mengendalikan stir dalam genggamannya, melintasi jalan raya yang dilaluinya. Bukan Hawa segar yang didapatinya, malah sengat terik matahari dunia yang kian menyiksa dirinya.


Gerah membuat dia menyerah. Endro memarkirkan mobil yang dikendarainya itu di depan sebuah restoran yang tidak terlalu ternama, namun tempatnya yang adem membuat siapa saja nyaman untuk berhenti di sana.


Setelah turun dari mobil, Endro masuk ke dalam restoran itu dan memesan segelas es teler yang juga disukai oleh mendiang istrinya. Mungkin saat itu hatinya tengah merindu kepada sang Mentari, almarhum istrinya itu.


Ketika dirinya menunggu pesanannya diantar, Endro memerhatikan sesuatu dari jendela restoran. Tampak seorang gadis yang membuat jantungnya pernah berdebar sebelumnya. Dia menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya saat itu.


Ya benar... Dia gadis itu. Sedang apa dia disana?~ Batin Endro terus mengamati tingkah sang gadis dari kejauhan.


Apa yang dilakukannya di pohon itu? Kenapa dia manjat-manjat?~ Tanpa dirinya sendiri menyadari, senyuman tersungging indah di bibirnya. Sesuatu yang telah lama tidak dapat ia lakukan. Ya. Tersenyum.


Pesanannya pun datang. Endro bergegas membawanya ke kasir dan membayarnya di sana.


Ia keluar dari restoran itu. Bukannya kembali ke dalam mobil, tetapi malah berjalan mendekat kearah gadis itu. Sang gadis meliriknya sesaat, sementara dia berpaling dan berpura-pura tidak melihat. Dia memilih untuk duduk di bangku lainnya, di pinggiran Telaga itu.


Ya. Gadis yang sama ketika dia kuliah dulu. Dia sempat mendengar nama gadis itu, Desri.

__ADS_1


Desri terlihat tidak nyaman lagi berada di sana semenjak Endro datang, dan memutuskan untuk pergi.


Rasa ingin tahu Endro semakin tinggi. Entah kenapa begitu penting bagi dirinya untuk mengetahui apa yang diperbuat oleh gadis itu sebelumnya disana.


Dia mendekat ke arah pohon tempat Desri tadinya memanjat. Alhasil, matanya mendapati sebuah kotak bergambar merpati di atas pohon itu.


Endro membuka kotak itu dan menemukan beberapa kertas di dalamnya. Surat-surat cinta sang gadis terhadap lelaki yang bernama Arkhan Ghani.


Arkhan Ghani? Apa yang dia maksud tuan Arkhan?~ Batin Endro. Alisnya mengkerut ketika membaca surat-surat itu. Dia kembali tersenyum. Ingatannya kembali pada masa dirinya menemukan surat-surat Mentari di atas pohon tepian danau.


Sebutir air mata jatuh di pipinya. Rasa sakit itu seakan-akan datang kembali. Hanya saja, air matanya mampu menghapus rasa perih itu. Air mata yang sudah lama tak muncul dan bersemayam dalam dukanya sepanjang hari, tiba-tiba kembali mengalir bagai mata air. Kekutan itu kembali.


Endro memunguti semua kertas-kertas itu hingga tak tersisa satu pun juga.


*****


Beberapa hari berlalu. Endro membalas surat Desri yang seolah-olah balasan dari Arkhan. Hal yang membuat gadis itu bahagia alang kepalang.


Mereka janjian untuk bertemu di taman. Tapi sayang, Desri tanpak kecewa karena bukan Arkhan lah yang datang. Melainkan Endro.


Di saat itulah, Endro paham. Bahwa mencintai, tidak mesti memiliki.

__ADS_1


Hari terus berlalu. Endro mendapati Desri mengikuti Arkhan ke kantor pusat Ghani Group, perusahaan yang saat itu sudah dipimpin oleh Arkhan sendiri.


Gadis itu melamar pekerjaan menjadi pegawai biasa di sana. Entah kenapa, Endro malah tersenyum dari balik pintu melihat Desri yang begitu gigih untuk bisa dekat dengan tuan mudanya itu.


Endro berharap, lelaki manja seperti Arkhan mendapatkan perempuan seperti Mentarinya. Dan Endro merasa, Desri merupakan jelmaan dari Mentari.


Gadis cuek yang tidak mampu mengungkapkan cinta tulusnya secara langsung. Dia tidak mengapa mengorbankan perasaannya demi balas budinya terhadap malaikatnya.


Sejak saat itu, Endro selalu mencaritahu latar belakang Desri. Dia sudah tidak lagi berpikir untuk menemukan gadis yang dicari-cari tuan mudanya itu. Dia akan berusaha membahagiakan gadis yang telah membuat dadanya berdebar, dengan mempertemukan gadis itu dengan pujaan hatinya pula.


Tuan Ridwan... Lihatlah... Saya yakin, dia gadis yang pantas untuk menjadi menantumu. ~ Gumam Endro terlihat bangga.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2