ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
UNEG-UNEG


__ADS_3

"Desri..." Panggil Endro ketika mereka dihadapkan kebisuan satu sama lain senja itu. Mereka berdua duduk di balkon belakang rumah sambil memerhatikan Arkhan dan Nummi yang sedang sibuk memberi makan ikan.


"Kenapa, End?" Tanya Desri menyahuti panggilan Endro yang duduk di sampingnya kala itu. Hanya meja kecil pembatas diri mereka.


"Umm... Berjanjilah untuk tidak akan marah jika saya bertanya satu hal kepadamu." Pinta Endro sedikit ragu mengutarakan isi kepalanya saat itu.


"Memangnya apa? Dan kenapa aku harus marah?" Desri mengerutkan alisnya bingung.


"Berjanjilah..."


"Hmm... Baikalah..." Sahutnya mengangguk.


"Kamu tidak lagi berpikir bahwa saya menyukaimu, bukan?" Endro sempat mengumpulkan keberanian dirinya untuk bertanya seperti itu.


"Hahh?" Kening Desri semakin mengkerut. Mencoba mencerna pertanyaan Endro kepadanya.


Lama berpikir, Desri sedikit menampakkan senyuman malu di bibirnya. "Ah... Itu 'kan sudah lama End? Kamu masih saja mengingatnya." Ujar Desri menyeringai kecil.


"Karena memang... Saya sempat berpikir bahwa saya menyukai dirimu dari pertama saya menemukan mu, Des..." Tutur Endro menyampaikan uneg-uneg yang bersarang dalam dirinya selama itu.


"Hah? M-ma-maksud kamu apa, End?" Tanya Desri gugup dan terlihat kecewa.

__ADS_1


"Aku orang pertama yang bertemu denganmu sebelum pertemuanmu dengan Arkhan kala itu. Dan aku pikir, aku menyukaimu, Des." Ungkap Endro pasrah. Dia rela diteriaki atau dimaki sekalipun oleh perempuan di hadapannya saat itu. Dia juga akan menghadapi hal terburuk lainnya, membuka permusuhan terhadap putra malaikatnya itu.


Satu hal lagi, dijauhi oleh gadis yang sudah dianggap putrinya selama itu.


"Tapi... Apa pikiranmu itu benar?" Tanya Desri pelan. Dia masih mencoba untuk mendengar penjelasan Endro lebih lanjut, berpikir panjang dan berhati lapang.


"Itulah yang membuat saya merasa bersalah sampai saat ini, Des. Tidak menyadari bahwa cinta saya hanya untuk Mentari seutuhnya. Biarkan hati saya lapang Des. Biarkan saya menyampaikan semuanya kepadamu. Biarkan saya terbebas dari belenggu bersalah ini..." Pinta Endro memelas.


Desri tersenyum mengangguk. Membiarkan permintaan pengawal suaminya itu terkabul. "Kapan kamu pertama kali melihat diriku?" Tanya Desri merasa tak mempermasalahkan. Mencoba memahami penderitaan lelaki paruh baya di sampingnya saat itu.


"Ketika kamu masih berseragam SMA saat itu. Dan aku melihatmu bersama temanmu di taman XXX. Kalian waktu itu baru saja merayakan kelulusan." Ungkap Endro kembali menerawang. "Aku pikir, aku telah jatuh dalam cinta yang sebenarnya kalai itu. Tapi aku salah... Aku hanya benar ketika mengatakan kepada Arkhan, bahwa tidak akan mungkin bagiku menyerahkan orang yang aku cintai kepadanya hanya karena rasa bersalah."


"Dan sekarang?" Tanya Desri lagi memastikan.


"Sekarang, saya ingin Mentari memaafkan saya di sana. Saya ingin dia tidak melepas genggaman saya. Mengatakan cinta saya hanya sebuah kebohongan. Tolong lakukan sesuatu, Des. Saya tersiksa setiap hari bila memikirkannya." Pinta Endro memelas.


Desri meraih jemari Endro. "Aku ini adikmu, bukan? Jadi jangan pernah merasa sendiri dan kesepian..." Tutur Desri menenangkannya.


Kata-kata yang diucapkan oleh Desri entah untuk ke berapa kalinya, membuat ia tertegun. Baru kali itu dia merasakan sensasi yang diucapkan Desri sangatlah berbeda. Yang membuat dia paham dan cepat mengerti.


Bagai terhipnotis, Endro mengangguk keras. "Terima kasih, Des. Baru kali ini saya bisa menyadarinya. Selama ini saya telah salah..." Aku Endro tersenyum lega dan terlihat tak lagi punya kata-kata untuk diucapkannya.

__ADS_1


Mereka kembali melepas genggaman tangan mereka. "Ingat... Aku ini adikmu, dan Nummi keponakanmu." Tegas Desri lagi sembari tersenyum.


Endro mengangguk senang. "Terima kasih, Desri." Ucapnya lirih.


"Bundaaaa.... Oooommm..." Seru Nummi yang berlari kecil ke arah mereka diikuti Arkhan, Ayahnya dari belakangnya.


Arkhan tersenyum melirik Desri. Dia melihat meski tidak mendengar. Dia juga merasakan apa yang saat itu diberitahukan oleh wajah dan mata istrinya. Bagi Arkhan, salah paham telah tertinggal di masa lalunya terhadap pengawal dan istrinya itu.


Sekarang yang Arkhan tahu, istrinya itu begitu mencintainya. Dia pun juga begitu. Mereka punya kepercayaan satu sama lain yang tidak akan bisa memisahkan mereka berdua.


Nummi... Ialah putri mereka yang menjadi bukti kekuatan cinta dan rasa saling percaya di dalam diri mereka berdua satu sama lainnya.-


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2