
Mentari terdiam di posisinya. Pandangannya Sayu menatap kosong ke arah depannya saat itu. Dia tak bergeming. Dalam hatinya dipenuhi kebimbangan, berdebat memikirkan hal terbaik antara bahagia bersama Endro, atau rela melepaskan lelaki itu.
"Terima kasih kamu telah memberi waktu kepada kakak untuk berbicara denganmu, Dek. Kakak hanya ingin mengucapkan selamat dan salam perpisahan saja. Paling utama sekali, kakak ingin meminta maaf kepada 'mu." Juwita terus saja mengoceh panjang, sedangkan Mentari tidak ingin mendengarkan itu semua.
Dia tahu, itu hanyalah sandiwara yang di akal-akali Kakak angkatnya saja.
Tapi untuk apa?
Bahkan dia hanya mampu bertanya-tanya dalam hati.
"Kakak pulang ya, Dek." Pamit Juwita seraya hendak melangkahkan kakinya untuk pergi ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berbicara.
"Tunggu sebentar Kak..." Cegat Mentari dengan cepat.
Diam-diam Juwita menyeringai senang. Dia tahu apa yang saat itu di putuskan oleh Mentari. Terlihat jelas keraguan itu menghiasi wajah lugu adik angkatnya. Dan itulah hal yang membuat Juwita semakin percaya diri.
Juwita kembali menghentikan langkahnya dan terus saja berpura-pura bersikap lembut. Sejenak, Mentari menatap Juwita penuh isyarat. Meminta agar dia menunggu disana.
Mentari menghampiri Endro yang tampak tersenyum menantikan dirinya.
"Bagaimana? Apa sudah selesai?" Tanya Endro menyambut kedatangan Mentari ke posisinya berdiri.
__ADS_1
"Maafkan aku, Endro. Sepertinya aku sudah bisa pulang kembali." Mentari tidak menyahuti pertanyaan Endro. Dia malah menyampaikan kata-kata yang membuat Endro merasa gugup dan tercengang.
Sesuat yang aneh.
"Kenapa tiba-tiba? Apa yang dia bicarakan kepadamu, Mentari?" Endro menatap bingung wajah Mentari. Dia bahkan tidak mampu menerka apa sebenarnya yang disembunyikan oleh gadis itu.
"Kak Juwita hanya meminta maaf kepadaku, End. Dia sekarang baik. Dia telah menyadari kesalahannya selama ini kepadaku. Mulai hari ini... Aku akan baik-baik saja disana. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi." Tutur Mentari berusaha menahan air matanya. Ya, semua kebohongan itu diucapkannya agar Endro mau melupakan janji yang telah dibuat untuk dirinya. Dan berani melepaskan tangannya yang selama itu selalu berada dalam ganggamannya, perlindungannya.
Mentari berpikir, itulah jalan terbaik untuk semua orang. Tidak perlu melibatkan siapapun lagi dalam penderitaannya, termasuk Endro sendiri.
"Lalu kamu percaya begitu saja, Mentari?" Endro terlihat kecewa dari nada suaranya yang naik satu oktaf.
"Aku percaya, End. Tidak ada kebohongan dari ucapan Kak Juwita barusan. Dan dia juga bilang, bahwa Bapak sama ibuk sekarang sama menyesalnya." Mentari semakin mengada-ada. Dia sudah bulat dengan tekadnya.
"Tidak, Mentari. Itu pasti akal-akalan mereka saja. Mereka pasti hanya ingin menjebakmu." Lagi. Endro menambah tingkatan oktaf suaranya. Semakin meninggi, berusaha agar Mentari tidak kembali ke rumah orang tua angkatnya yang kejam itu.
Menahan Mentari dengan upayanya. Meyakinkan Mentari agar mengerti bahwa mereka hanya mengadakan kebohongan saja untuk menjebak Mentari lagi.
Tapi Endro bahkan tidak tahu sama sekali, bahwa Mentarilah yang sebenarnya berbohong saat itu kepada dirinya.
Berbohong demi melindungi dirinya dan Ayahnya agar tidak terjebak oleh kejahatan keluarga angkatnya itu.
__ADS_1
Mentari menggenggam jemari Endro, dia menatap lekat penuh permohonan.
"Tidak, End. Mereka tidak bohong. Kamu harus percaya kali ini. Mereka tidak akan lagi menyakitiku." Ujar Mentari semakin meyakinkan Endro untuk Percaya terhadapnya.
"Kamu jika benar-benar ingin menikahi aku. Datanglah ketika kamu telah menyelesaikan kuliahmu. Aku akan menunggumu. Sekarang kamu sudah tidak mengapa membiarkan aku bersama mereka. Karena mereka sudah berubah." Mentari terus meyakinkan Endro dengan kebohongan yang diada-adakannya.
Dia berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah saat itu.
"Ada apa ini, Endro?" Kamil tiba-tiba datang dan mendapati mereka tengah berbicara serius disana.
"Ayah... Kebetulan Ayah. Mentari ingin pamit sama Ayah. Mentari mau pulang, Yah. Kak Juwita datang untuk meminta maaf kepada Mentari. Mereka semua sudah baik, Yah."
Kamil diam. Dia hanya tercengang mendengar penuturan Mentari yang dirasanya sungguh tidak masuk akal sama sekali.
Alex tidak mungkin berubah, apalagi dalam waktu sesingkat itu. Mungkin Alex yang satu lagi, pikirnya.
.
.
.
__ADS_1
.
.