
Endro tidak ingin berlama-lama Mentari berada di rumahnya, jika masih belum terikat status apapun dengan dirinya. Karena dari itulah, dia akan menikahi Mentari di kantor KUA di kotanya, tanpa pasta sekalipun.
Dia Hanya mengundang tetangga untuk mendoa kecil-kecilan sebagai peresmian pernikahan mereka di mata masyarakat.
Bagi Mentari, itu pun lebih dari cukup. Dia tidak membutuhkan pesta ataupun perayaan apa pun. Yang dia mau hanyalah merasakan kebahagiaan bersama lelaki tercintanya.
Meskipun begitu, perjanjian tetaplah perjanjian. Tanah perkebunan itupun tetap jatuh ke tangan Alex pada akhirnya.
Sedangkan orang yang paling kecewa dengan pernikahan mereka adalah Juwita. Akan tetapi, dia bahkan tidak bisa lagi berbuat apa-apa, karena Endro mengancamnya akan melaporkan dirinya ke kantor polisi atas percobaan pembunuhan terhadap Mentari, adik angkatnya sendiri.
*****
"Hmmm... Meskipun sederhana, pasti pernikahan itu begitu mengharu-biru di hati Bibi Mentari. Betul kan, Om?" Tanya Nummi terlihat bahagia mendengar cerita dari Endro.
"Betul sekali, sayang." Sahut Endro membenarkan pernyataan gadis tujuh belas tahunan di sampingnya itu.
"Oh ya, Om. Ngomong-ngomong, apa tempat ini juga bersejarah bagi, Om? Sehingga Om mengajak Nummi ke sini." Tanya Nummi penasaran. Dia menyadari bahwa beberapa kali Endro mengajaknya ke suatu tempat, pasti berkaitan dengan masa lalunya bersama Mentari.
Endro tampak sendu seketika. "Inilah tanah perkebunan yang Om ceritakan, Nak. Tanah yang pernah jatuh ke tangan Alex, dan alhamdulillah pada akhirnya nya kembali ke tangan Om lagi."
"Oh begitu ya, Om. Maaf..." Nummi tampak merasa bersalah melihat kegetiran di wajah lelaki paruh baya itu.
Endro tersenyum mengisyaratkan bahwa dia tidak mempermasalahkannya. "Meskipun sudah terlambat karena Ayah Om tidak pernah melihatnya, tapi Om bahagia. Ini adalah tanah pertama kali bagi Ayah Om merintis perjuangan hidupnya dalam membesarkan Om sendirian. Dan tanah ini juga lah saksi hubungan Om dengan Bibi Mentari.
Dulunya, tanah ini hanya ditumbuhi berbagai macam sayuran, tebu, jagung dan beberapa buah-buahan untuk memenuhi kebutuhan kami.
Tapi saat ini, Om menanam strawberry sebagai tempat wisata sekaligus amal agar menjadi sedekah jariyah untuk ayah om dan kakek-kakek Om sebelumnya." Tutur Endro panjang lebar.
"Jadi, ini tanah yang diambil oleh Bapak angkatnya Bibi Mentari, Om. Lalu Bagaimana Om Bisa memperolehnya kembali?" Tanya Nummi masih penasaran dan ingin agar ceritanya masih berlanjut siang itu.
Endro melirik jam kecil di lengan kirinya. Dahinya mengkerut membuat Nummi sedikit cemberut melihat reaksi yang ditunjukkan wajah Endro saat itu. "Ceritanya masih panjang, Nak. Nanti Om akan menceritakan kembali. Hari ini cukup sampai di sini dulu ya, Sayang." Endro mengakhiri ceritanya pada hari itu.
__ADS_1
"Yaahhh... Benar juga firasat Nummi. Ceritanya bersambung lagi." Sungutnya.
Endro terkekeh melihatnya. Dia mengacak-acak poni rambut Nummi yang sealis. "Om telepon Pak Harun untuk menjemput kita dulu ya..."
"Iya, Om. Tapi Nummi boleh metik buah strawberrynya nggak, Om." Tanya Nummi meminta izin kepada yang Empunya.
"Boleh, Sayang. Ambil seberapa pun yang kamu mau." Sahut Endro mengizinkannya.
"Yeee... Terima kasih, Om." Seru Nummi. Dia begitu senang mendengar ucapan Endro yang membolehkan dirinya memetik strawberry-strawberry disana. Buah yang paling digemarinya.
Tidak beberapa lama, Pak Harun kembali mengabari Endro bahwa dirinya telah menunggu di depan kebun.
"Ayo, Sayang. Pak Harun sudah datang menjemput kita." Ajak Endro kepada Nummi yang masih saja terlihat asik memetik buah-buah strawberry disana.
"Benarkah, Om? Pak Harun sudah sampai?" Tanyanya terlihat kecewa. Tampaknya dia masih ingin berlama-lama berada disana.
"Iya, Sayang. Lain kali, kita kesini lagi." Bujuk Endro yang mengerti kekecawaan Nummi.
"Baiklah, Om. Tapi kita ambil foto dulu ya, Om. Kenang-kenangan untuk pertama kali Nummi datang kesini bersama, Om. Karena Nummi yakin, kedatangan berikutnya tidak akan semengasikkan kunjungan pertama kali." Pinta Nummi berharap.
"Om tidak percaya?" Tanya Nummi merasa diragukan oleh Endro.
"Om percaya. Tapi ada satu tempat, yang jika kamu mendatanginya di waktu pertama kali, maka kunjungan berikutnya kamu akan ketagihan. Terus merasakan ketagihan, bahkan kamu merasa nyaman berada disana. Dan bahkan lagi, kamu tidak ingin pergi dari sana." Ujar Endro seakan memberi teka-teki kepada gadis itu.
"Memangnya kemana, Om?" Kali itu Nummi tampak penasaran dengan jawabannya.
"Kamu tidak ingin menebak-nebaknya terlebih dahulu?"
"Kemana, ya?" Gumam Nummi bingung. "Apa itu ke dalam rumah kita sendiri, Om?" Jawabnya bimbang antara yakin dan tidak.
"Kita tidak pernah masuk ke dalam rumah kita sendiri, Nak. Meskipun rumah kita berpindah-pindah. Yang ada, kita keluar dari rumah kita sendiri. Dan hal itulah yang paling menyakitkan bagi kita." Ujar Endro secara tidak langsung menyalahkan jawaban Nummi.
__ADS_1
"Hmm... Iya juga ya, Om. Lalu kemana, Om?" Nummi terlihat menyerah untuk menjawab pertanyaan Endro.
"Ke hati orang yang kita cintai. Mungkin kamu saat ini belum merasakannya, Sayang." Ujar Endro menerawang.
"Waah... Benar... Seperti Ayah yang berkunjung ke hati Bunda, dan Ayah tidak lagi mau keluar dari sana. Kenapa aku tidak berpikir sampai kesana, ya? Mungkin Om benar, karena aku belum pernah merasakannya. Mungkin." Ujar Nummi mengoceh panjang, hal yang membuat Endro tertegun seketika.
"Juga seperti Om yang berkunjung ke dalam hati Bibi Mentari ya, Om?" Tanyanya lagi yang membuat Endro semakin memaksakan senyuman di bibir kakunya itu.
Kamu salah, Nak.
Bibimu yang masuk ke hati, Om. Dan Om menerimanya dengan baik dan santun. Bahkan, Om tidak pernah bisa masuk ke dalam hati orang yang Om cintai. Karena dia memiliki cintanya sendiri untuk orang lain, dan dia bahkan hanya menganggap Om sebagai saudara kandungnya. Tidak lebih.
Dialah Bundamu, Sayang. Semakin Om berlama-lama di dekatnya, maka rasa itu akan semakin menyiksa hati Om.
Bundamu telah menutup rapat pintu menuju hatinya untuk, Om. Dan hanya di buka untuk Ayahmu saja.
Endro terus memaksakan senyuman di bibirnya. Agar Nummi tidak melihat kepedihan di hatinya, karena pernyataan terakhir gadis itu.
Endro menatap ke langit putih dan berbisik ke sana.
Maaf Mentari... Aku bukanlah pengkhianat, Kan? Aku tidak pernah membahagiakanmu tanpa cintaku dan kebohongan. Hanya saja, cintaku yang tidak begitu utuh untukmu. Tolong jaga anak kita di sana. Karena di kehidupan berikutnya, aku hanya akan mencintaimu dan anak kita.
Endro mengusap kasar wajahnya yang terasa kaku dan lelah.
Setelah tersadar Bahwa Nummi telah melambai ke arahnya, barulah ia kembali berjalan menuju ke luar perkebunan itu untuk pulang.
.
.
.
__ADS_1
.
.