
Kamar yang sama dengan kamarnya bersama Mentari kala itu. Aromanya, Tata letaknya dan suasananya benar-benar tak membedakannya.
Endro berdiri menghadap ke arah luar jendela kamarnya itu dengan setelan jas yang dipakainya. Kedua tangannya berada dalam saku celananya. Dan bahkan, wajahnya masih sama juga. Kaku dan tak banyak bicara.
"Endro... Sayang..." Panggilan dari suara yang begitu familiar di telinganya terdengar bergema di ruangan itu.
Belum sempat dia menoleh ke arah suara yang memanggilinya, dua tangan milik Mentari telah melingkar di pinggangnya dari arah belakang.
"Kamu merindukan aku?" Tanya Mentari Seraya merebahkan kepalanya ke punggung Endro. Dia begitu terlihat manja dan ingin dimanja oleh suaminya saat itu.
"Aku merindukanmu, Mentari." Sahut Endro terdengar Getir. Dia meraih tangan istrinya yang melipat di perutnya dan sedikit mengelusnya dengan lembut. Kemudian dia menggeser telapak tangan Mentari hingga ke dadanya. Sesaat, dia memejamkan matanya untuk merasakan perasaan itu kembali.
"Apa kali ini kamu berbohong lagi?" Tanya Mentari begitu tiba-tiba. Dia melepaskan tangannya dari dekapan Endro.
Endro terkejut mendengar tuduhan tanpa dasar dari istrinya itu. "Berbohong? Kenapa aku harus berbohong, Sayang?" Tanya Endro tidak mengerti.
"Bukankah selama ini Cintamu Palsu? Oh tidak... tidak... Kamu bahkan tidak pernah mengatakan cinta kepada ku, End." Ujar Mentari Seraya berjalan mundur menjauhi Endro.
Endro mengerinyitkan alisnya semakin tidak mengerti tentang apa yang diucapkan oleh Mentari saat itu.
__ADS_1
"Ada apa denganmu, Sayang?" Tanya Endro hendak melangkah dan mendapati istrinya kembali.
"Jangan mendekat..." Cegat Mentari dengan cepat. "Kamu tidak boleh mendekat, End. Kamu tidak bisa mendekatiku lagi." Air mata Mentari bergulir deras dari kedua matanya yang Sayu. Wajahnya tampak kembali memucat. Dia tersedu-sedu saat itu.
"Mentari..." panggil Endro lirih. Entah kenapa, dia juga dapat merasakan rasa sakit yang dialami oleh istrinya saat itu. Walaupun dia tidak mengerti dengan rasa sakit Mentari yang sebenarnya.
"Kamu jahat, Sayang. Kamu membahagiakan aku tanpa cinta..." Tangis Mentari semakin mendayu-dayu.
"Tidak Mentari... Aku minta maaf..."
"Ibuuu..." Belum sempat Endro berkata-kata lagi, seorang gadis kecil lima tahunan mendekat dan memanggil istrinya dengan sebutan ibu.
"I-ibu?" Endro tampak gugup dan bingung karenanya.
"Dia Ayahmu, Nak..." Sahut Mentari menjawab pertanyaan anak kecil itu.
"Ayah?" Sang Gadis menatap heran. "Kenapa kami tidak pernah bertemu sebelumnya? Kenapa ibu tidak membawa Ayah juga bersama kita?" Tanya gadis kecil itu dengan bijaknya.
"Ayahmu masih ingin disini, Nak. Ayah telah berjanji kepada ibu bahwa di kehidupan nanti, Ayahmu hanya akan bersama kita. Memberikan segalanya untuk kita, termasuk hatinya." Tutur Mentari sambil mengapit dua pipi gadis mungil itu dengan lembut. "Bukankah begitu, Sayang?" Tanya Mentari kemudiannya seraya menatap tajam ke arah Endro.
__ADS_1
Tidak ada yang membuat Endro melakukan apa pun selain menganggukkan kepalanya, mengiyakan desakan istrinya itu. Dia tampak begitu bahagia memandangi gadis kecil di dekat Mentari. Gadis kecil yang katanya adalah anak kandungnya sendiri.
"Sayang... Mendekatlah... Aku ingin memelukmu dan putri kita." Pinta Endro mengiba.
"Tidak... Biarkan kami pergi. Kami menantikan hari itu. Hari dimana Kami juga akan menunggumu." Elak Mentari menolak permintaan suami yang dicintainya itu.
"Jangan, Sayang... Tetaplah disini... Jangan pergi lagi... Aku mohon..." Cairan bening penuh ketulusan mengalir di pipi Endro. Rasa takut muncul dalam dirinya. Dan rasa sakit itu semakin menyiksa batinnya, membuat dia merasakan sesak dan hampir mati.
"Maafkan aku, Sayang... Aku bawa anak kita." Pamit Mentari seraya melangkah meninggalkan Endro yang terduduk lemas disana. Tangannya menggandeng tangan mungil putrinya, membawa gadis itu pergi meniggalkan suaminya yang kesakitan di bagian hatinya.
"Daa Ayah... Aayaaah... Aku dan ibu pergi ya, Yah... Daa Ayaah..." Tangan mungil gadis itu melambai-lambai ke arahnya. Membuat dia semakin merasakan sesak karenanya.
"Mentari... Aku mohon jangan pergi, Mentari... Biarkan aku memeluk putri kita sebentar... Aku mohon..." Pinta Endro semakin mengiba. Kekuatannya lenyap seketika. Dia begitu kacau dengan mulutnya masih saja terus memanggil-manggil nama istrinya itu.
.
.
.
__ADS_1
.
.