
"Sayang... Sudah malam, Nak. Hujannya juga sudah mulai reda. Kita istirahat, ya." Endro mengakhiri ceritanya. Ada tarikan nafas berat yang terdengar dari dalam dirinya.
Mungkin dia masih bisa merasakan waktu itu. Waktu dimana Mentarinya masih ada dan menjadi gadis yang selalu dilindunginya.
"Om Endro..." Suara Nummi lirih memanggil namanya. Ada kesenduan di balik itu. Mungkin gadis itu juga merasakan apa yang dia rasakan.
"Hmmm?" Endro menggumam, dia menyahut singkat panggilan Nummi.
"Apa Nummi terlalu lancang untuk mengetahui kisahnya, Om?" Perasaan tidak enak, muncul dengan begitu tiba-tiba di hati gadis itu. Apalagi dia tahu bagaimana endingnya Mentari.
"Apa kamu sudah bosan mendengarkan cerita Om?" Endro balik bertanya tanpa menyahuti pertanyaan Nummi.
"Bukan begitu, Om. Nummi hanya merasa tidak enak. Om kembali bersedih, karena Nummi membuka lagi luka Om yang sudah mengering sedari lama." Sela Nummi semakin merasa tidak enak.
"Om senang jika ada yang mau mendengar cerita Om bersama Mentari. Apalagi kamu..." Tutur Endro sembari mengelus-elus kepala Nummi. "Om juga tidak ingin melupakan sedikit pun tentang Mentari. Dan bercerita, akan membuat Om selalu ingat." Ujar Endro berusaha menghapus kesungkanan di hati gadis yang sudah seperti anak kandungnya.
"Jadi... Kapan lagi Om akan melanjutkannya?" Tanya Nummi pada akhirnya. Dia sebenarnya ingin tahu lebih, hanya saja Endro terlihat sedih setiap kali bercerita.
"Besok pagi bagaimana? Setelah Om pulang dari pabrik."
"Kalo Om ke pabrik, lalu bagaimana?" Tannya Nummi bingung.
"Om ke pabrik hanya sebentar, sayang. Pukul sembilanan, Om jemput kamu. Kamu harus siap-siap ya..." Pinta Endro.
__ADS_1
"Memangnya kita akan kemana, Om?" Nummi terlihat penasaran.
"Ke Suatu tempat, dimana kamu sudah mengetahuinya, tapi kamu belum mengenalnya." Ujar Endro seakan memberi teka-teki di balik jawabannya.
"Tapi dimana?" Gumam Nummi bertanya-tanya. Dia tampak tengah berpikir keras untuk itu.
"Kamu akan tahu besok. Anggap saja kejutan untukmu besok."
"Haahhh... Om tidak asik... Pakai main rahasia-rahasiaan segala." Sungut Nummi seraya melipat tangannya ke dada.
"Tapi akan menjadi hal yang paling menyenangkan untukmu besok. Sekarang kamu tidur, dan jangan lupa baca do'a biar mimpi indah." Perintah Endro begitu lembut.
"Ok Om... Selamat malam, Om." Ujar Nummi seraya bangkit meninggalkan Endro menuju ke kamarnya.
******
Benar saja, pukul sembilan pas, deru mesin beroda empat yang sering dibawa kemana-mana oleh Endro telah terdengar di depan rumah sederhana itu.
Itu untuk kepulangannya setelah pergi sedari pagi buta tadi. Mungkin, dia telah menyelesaikan pekerjaannya di pabrik.
"Bi Hana..." Seru Nummi yang berlarian dari kamarnya memanggili asisten rumah itu.
"Iya, Neng..." Sahut Bi Hana. Dia tampak tergopoh-gopoh menemui Nummi yang memanggil hanya dengan satu kali saja.
__ADS_1
"Bi Hana... Hari ini Nummi mau pergi lagi sama Om Endro." Ujarnya tampak begitu antusias.
"Iyakah Neng? Kemana?" Tanya Bi Hana ikut penasaran mendengar cerita Nummi.
"Entahlah Bi.. Itu yang bikin Nummi bersemangat. Kata Om, kejutan untuk Nummi. Biasanya Om ngajakin ke tempat yang menyenangkan terus, Bi. Kira-kira hari ini Om Endro ngajakin kemana ya, Bi?" Nummi semakin bersemangat.
"Aduuuh... Kalau Bibi mah, nggak tau juga Neng. Tapi, sepulang dari situ. Neng kasih tau Bibi yak..." Pinta Bi Hana ikut bersemangat.
"Yah... Bibi... Ya udah deh, Nummi pergi dulu. Bibi hati-hati ya di rumah. Kan Pak Harun masih di pasar." Pamit Nummi.
"Iya Neng. Neng juga hati-hati..." Sahut Bi Hana senang.
"Assalamu'alaikum Bibii..." Ucap Nummi sembari mencium punggung tangan Bi Hana.
"Wa'alaikumussalam Neng..." Sahut Bi Hana. Matanya tak berhenti memandangi Nummi yang setengah berlari meninggalkan dia, hingga tubuh Nummi sudah tak terlihat lagi dari pandangannya.
"Kira-kira, tuan Endro akan membawa Neng Nummi kemana ya hari ini?" Gumam Bi Hana yang masih diliputi rasa kepenasaranan.
.
.
.
__ADS_1
.
.-