ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
PELUANG


__ADS_3

Mentari sedikit bersungut. Hatinya masih risau untuk melepas Suaminya pergi bekerja ke kebun Ayah mertuanya sendiri.


Pagi itu, dia terlalu mengkhawatirkan suaminya yang masih tampak pucat dan lemah setelah melewati demam tinggi semalam.


Melihat wajahnya yang cemberut, Endro merangkul pinggangnya. Endro mengelus-elus perut istrinya itu untuk memberikan sedikit rasa ketenangan. Sebagai seorang suami dan calon Ayah dari kandungan Mentari, Endro Mengerti bagaimana perasaan istrinya saat itu.


"Suamimu ini tidak akan mencapai keberhasilan dan kesuksesan, jika kamu sendiri sebagai istri nggak Ridho, Sayang." Ucap Endro. Dia menepiskan sedikit senyuman tipis di bibirnya untuk membuat istrinya itu bisa mengerti.


"Aku Ridho... Hanya saja, kamu masih sakit, Sayang. Tunggulah beberapa hari, atau setidaknya hingga besok." Bantah Mentari masih tampak bersungut.


"Sayang... Aku ini cuma Bekerja di kebun..."


"Oleh karena itu... Makanya aku minta kamu istirahat saja di rumah. Di kebun itu panas, Sayang. Nanti, demam kamu kambuh lagi, atau malah bisa semakin tinggi." Potong Mentari tanpa mau mendengarkan penjelasan Endro. Dia seperti tidak habis pikir akan keras kepala suaminya itu.


"Sayang... Dengar ya... Kasihan Ayah jika aku biarkan Ayah pergi sendirian. Aku lihat, ayah akhir-akhir ini tampak lemah. Lagian, aku ini kerja di kebun kita sendiri. Jika aku lelah, aku bisa istirahat di pondok. Tidak akan ada yang marah, bukan?" Tutur Endro. Dia berbuat manja dengan menempelkan pipinya ke perut Mentari.


Mentari tampak berpikir. Bukan hanya karena sikap Endro membuat Mentari luluh. Akan tetapi, karena hatinya juga merasa gundah dengan keadaan Kamil, Ayah mertua yang sudah menyayanginya dari awal pertemuan mereka.


"Tapi kamu janji, Ya. Kamu tidak boleh kecapean dan jangan panas-panasan." Akhirnya Mentari mengalah. Dia mengapit pelan pipi suaminya itu dengan kedua telapak tangannya.


"Iya... Aku janji. Kamu juga jaga diri, jaga bayi kita dan jangan sampai kelelahan. Aku jemput Nini dulu." Endro merasa lega melihat wajah Mentari telah kembali seperti biasa, meski kekhawatiran belum sepenuhnya hilang dari sana.


"Oh iya, Sayang. Aku lupa memberitahumu. Kemarin Nini pesan, kata Beliau, hari ini tidak usah dijemput." Ujar Mentari mengingat pesan Nini kemarin sorenya.


"Kenapa?" Endro mengkerutkan alisnya tampak khawatir dengan praduga hatinya sendiri.


"Nini mau ke pasar dulu. Sepulang dari pasar, Nini langsung kesini naik ojek."

__ADS_1


"Owh begitu... Aku kira, Nini tidak bisa datang." Ujar Endro tampak lega. "Ya sudah, aku berangkat ya." Ucap Endro hendak bangkit dari duduknya. Namun, dengan kuat Mentari menahan tubuh Endro agar tetap duduk di kursi rias miliknya.


"Aku siapin bekal dulu. Tunggu sebentar ya, Sayang." Mentari melepaskan dirinya dari dekapan Endro. Dengan tergesa-gesa, Mentari keluar dari kamar hendak menuju ke dapur.


"Sayang... Hati-hati. Jangan buru-buru seperti itu, nanti kamu jatuh." Seru Endro yang merasa khawatir melihat Mentari sedikit berlari menjauh darinya.


Mentari kembali menoleh. "Aku baik-baik saja, Sayang. Kamu pasti mengkhawatirkan bayi kita, bukan?" Tanyanya sembari memperlihatkan senyuman kecil yang sempat membuat dada Endro merasa sesak.


Dia menyukai senyuman itu. Tapi dia begitu yakin, bahwa dalam senyuman istrinya itu penuh dengan tanda tanya yang sulit untuk ia terka.


Endro tak menjawab. Dia hanya ternganga memikirkan jawaban dari pertanyaan yang dibuatnya sendiri. Matanya lekat memandang ke arah Mentari yang kembali pergi dan menghilang dari tatapannya.


Setelah itu, pandangannya kosong. Dia hanya mampu menghempas kasar nafasnya yang berat dan menyerah.


Ada isyarat yang dia tidak mengerti sama sekali dari sikap istrinya itu.


Setelah kedatangan Nini, Endro dan Ayahnya berangkat ke kebun mereka dengan mengendarai mobil tua milik Ayahnya.


Ketika Endro dan Kamil hendak ke kebun yang baru beberapa bulan itu mereka garap, mereka melewati kebun yang telah diberikan Kamil kepada Alex.


Disana, mereka melihat keramaian. Suasananya cukup heboh. Mereka mendengar Alex dan Lita bersitegang dengan sekelompok orang.


"Ada apa disana, Yah?" Tanya Endro dengan perasaan ingin tahunya.


"Entahlah, End. Ayah kan sama dengan kamu, sama-sama dari rumah. Bagaimana Ayah bisa tahu?" Sahut Kamil ikut heran menyaksikan kehebohan di luar mobil mereka.


Jika Anda tidak juga membayar hutang-hutang Anda, maka Anda harus tinggalkan tanah perkebunan ini, Pak Alex.~ Kamil dan Endro tercengang mendengar teriakan dari salah seorang diantara mereka disana.

__ADS_1


Tidak bisa begitu dong, Pak. Ini satu-satunya lahan yang bisa kami andalkan untuk membayar hutang-hutang kami. Kalau bapak ambil, lalu bagaimana caranya kami membayar hutang-hutang itu?~ Lita tampak membela suaminya. Mulutnya yang biasa tajam, tampak ciut dan takut.


Akh... Saya anggap impas. Bukankah kalian sudah menggadaikan tanah ini kepada saya?~Jawab orang itu lagi tak ambil peduli.


Tapi, Pak.~ Protes Lita lagi. Sedangkan Alex hanya mampu diam tanpa bisa berupaya apa-apa. Dia seakan pasrah dengan keadaannya saat itu.


Tidak ada tapi-tapian. Kalau kalian masih saja tidak meninggalkan lahan ini, maka dengan terpakasa, saya akan lapor Anda ke kantor polisi, Pak Alex.~ Tegur orang itu dengan tegas. Sementara Algojo-Algojo di belakangnya hanya tampak bersiap menyerang, apabila Alex melawan.


Endro melajukan mobilnya dengan pelan untuk terus memastikan apa penyebab adu mulut yang terjadi antara keluarga angkatnya Mentari dengan orang-orang disana.


"Apa kita mesti turun, Yah?." Tanya Endro kepada Ayahnya yang ikut terlihat gusar menyaksikan itu dari dalam mobil mereka.


"Tidak usah, End. Ayah khawatir kita kena imbas dari permasalahan mereka. Sudah cukup bagi Ayah kehilangan sepetak tanah itu. Ayah tidak ingin lagi keserakahan Alex membuat Ayah tidak berdaya. Kamu kan tahu, walau bagaimanapun, Mentari secara hukum merupakan anaknya Alex dan Lita." Tutur Kamil mencegah Endro untuk memberhentikan mobilnya disana.


"Iya, Yah..." Sahut Endro mangut-mangut. Dia mengerti, saat itu Ayahnya terlihat kecewa sekali. Harusnya tanah itu milik mereka, akan tetapi Alex malah menggadaikannya ke orang lain.


Aku janji, Yah. Aku akan lebih giat lagi. Suatu hari nanti, lahan itu akan jadi milik kita lagi.~ Batin Endro.


Endro kembali menginjak pedal gas mobilnya lebih cepat lagi, untuk menuju ke perkebunan mereka yang baru.


Dia sudah mengerti dengan apa yang terjadi kepada Alex barusan. Itu bahkan bisa menjadi peluang untuknya. Dan dia hanya perlu memikirkan cara lain, agar tanah Ayahnya itu kembali kepada mereka lagi.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2