
"Beberapa bulan pernikahan, kami selalu hanya diliputi dengan kebahagiaan. Hingga suatu hari, Om mendapat kabar bahwa Bibi Mentari hamil. Om sangat senang akan hal itu. Om bahagia... Bahkan, Om sampai berjanji untuk bekerja lebih giat lagi dalam menafkahi keluarga kecil yang telah Om buat bersamanya.
Bibi Mentari juga semakin menunjukkan kasih sayang-nya kepada Om. Dia selalu memperhatikan dan memenuhi segala kebutuhan Om sebagai suaminya.
Seperti biasa, walau sedang hamil sekalipun. Bibi Mentari tetaplah wanita yang kuat. Bahkan Om masih terlalu lemah dibanding dirinya.
Pernah suatu hari, Om jatuh sakit..."
Cerita Endro terputus. Perasaan itu muncul. Bahkan melebihi dari perasaan ketika dia melalui itu semua. Saat itu, rasa cinta dan bahagianya bercampur dengan rasa sakit. Sakit karena telah mengulang kembali kisah itu, tapi tidak lagi untuk kembali ke masa itu. Masa dimana masih ada mentarinya. Wanita yang dia bahagiakan dengan cinta bohongnya.
Benar, sisanya hanyalah sebuah penyesalan. Sesal karena terlambat merasakan perasaan yang sesungguhnya. Sesal karena terlambat menyadari kebahagiaan yang sebenarnya. Sesal karena membahagiakan Mentarinya dengan kebahagiaan semu semata darinya.
Air mata Endro mengalir begitu saja tanpa permisi.
"Sudah Om... Sudah. Om tidak usah lanjutkan lagi. Nummi penasaran, Om... Tapi Nummi akan kubur ke penasaran itu. Cukup Om... Nummi tidak sanggup melihat air mata om..." Cegah Nummi seraya mendekap tubuh kekar Endro.
Gadis yang baru beranjak remaja itu seakan mengerti dengan rasa sakit yang dialami Endro. Rasa iba muncul di hatinya.
Dia sungguh tahu. Pedih jika kebahagiaan di masa lalu hanya dapat dikenang tanpa bisa diulang. Karena tokoh yang memberikan kebahagiaan itu sendiri di masa itu telah tiada di sana.
Dia bahkan juga ikut merasakan luka yang dirasakan Endro saat itu.
"Tidak apa, Nak... Ini keinginan Om. Om sendiri yang ingin mengulang nya. Om ingin ada pendengar dalam cerita Om." Bantah Endro bersikukuh hendak melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
"Tapi, Om..." Protes Nummi tidak tega.
"Maukah Nummi mendengarnya?.Pleaseee!!!" Pinta Endro berharap.
Dengan berat, Nummi pun mengangguk.
*****
"Assalamualaikum..." Ucap Endro dan ayahnya hampir bersamaan ketika hendak masuk ke dalam rumah sepulang dari kebun pada senja itu.
"Waalaikumussalam..." Sahut Mentari Seraya menyambut kedatangan suami dan mertuanya itu ke depan pintu rumah. Dia menyalami tangan dua lelaki itu secara bergantian, kemudian bergegas ke dapur untuk menyiapkan minuman dan cemilan hangat untuk mereka.
Selang beberapa saat. Mentari kembali dari belakang dengan membawa sebuah nampan yang berisi dua cangkir minuman dan sepiring gorengan di dalamnya.
"Tidak kok, Yah..." Sahut Mentari lembut.
"Hmm... Baguslah kalau begitu... Tapi kalau kamu bosan sendirian di rumah, kita bisa bawa Nini tinggal disini siang harinya." Tutur kamil lagi.
"nggak apa juga, yah. Mentari malah senang jika Nini ada disini menemani Mentari." Sahutnya berbinar. Dia begitu senang mendengar usulan Ayah mertuanya itu.
"Bagaimana, End?" Tanya kamil kemudian mengarah kepada putranya yang masih diam di posisinya sedari tadi.
"Endro setuju, Yah. Lagian kasihan Nini. Beliau sudah tua, tapi masih saja menerima upah kebun orang. Mending di sini..." Endro juga ikut menyetujui ucapan Ayahnya.
__ADS_1
"Ya sudah... Nanti malam, Kalian pergilah berkunjung ke tempat Nini. Bicaralah Kepada beliau. Sampaikan maksud kalian dengan baik. Ayah juga ingin agar Mentari tidak terlalu kesulitan disaat hamil muda seperti ini. Jaga-jaga. Jika Sesuatu terjadi, sementara Mentari ada teman di rumah sepeninggal kita." Ujar Kamil melanjutkan ucapannya.
"Iya, Yah..." Sahut Endro dan Mentari hampir bersamaan.
"Ya sudah. Ayah bersih-bersih dulu. Nanti ngopinya Ayah lanjutkan..." Pamit Kamil seraya meninggalkan Endro dan Mentari di sana.
"Kamu juga bersih-bersih sana. Mandi dulu. Nanti bajumu aku siapkan di kamar..." Ujar Mentari sembari memijit lembut pundak Endro yang terasa lelah.
"Baiklah, Sayang... Tapi pijitanmu enak dan masih kurang."
"Nanti aku ulang lagi. Sekarang kamu mandi, gih. Dah bau acem gini. Kan kasihan dedek bayinya..." Sungut Mentari sambil menarik lengan Endro agar bangkit dari duduknya.
"Iya... Iya Sayang..." Akhirnya Endro menurut untuk segera pergi mandi. Namun sebelum dia ke belakang, Endro menyempatkan diri untuk mengelus dan menciunm perut Mentari yang masih terlihat datar.
Mentari tersenyum geli melihat tingkah suaminya yang terkesan kaku seperti biasanya, tapi tidak lagi untuk dirinya.
.
.
.
.
__ADS_1
.