
Kamu pasti akan menolak rasa Terima kasih saya, Nak. Tapi saya percaya, suatu hari nanti kamu akan menepati janjimu kepada saya. Membalas semua jasa saya, bukan? Jadi, terima kasih ini untuk itu...
Pemuda sepertimu sangat berguna dan memiliki masa depan yang cerah, lagi sangat panjang. Maka dari itu saya titipkan istri dan kedua anak saya kepadamu. Karena saya yakin, ketika kamu membaca tulisan tangan saya ini, Kamu tidak akan lagi bisa mendengar suara saya.
Kamu tahu bukan? Arkhan dan Yuni adalah remaja yang manja. Mereka belum dewasa sama sekali. Saya takut, suatu hari nanti mereka akan hancur jika tanpa saya.
Entah siapa yang beruntung di antara kita. Saya yang menemukanmu? Atau kamu yang menemukan saya?. Yang jelas, Tuhan mempertemukan kita lewat skenario-Nya. Sama-sama menguntungkan.
Saya titipkan mereka kepadamu, ya. Juga... Tolong jaga istri saya. Dia ibu yang lemah meski terkadang suka memaksakan diri menjadi sosok yang kuat.
Satu lagi, saya dengan disetujui istri beserta kedua anak saya, saya telah menandatangani testimoni untuk mendonorkan jantung saya kepada ayahmu apabila saya telah tiada.
Semoga dengan ini, ayahmu dapat kembali pulih seperti biasa.
Sekali lagi terima kasih.
Ridwan Ghani.
Tangan yang sedari tadi sejajar dengan dadanya memegangi secarik kertas yang diberikan Nur ketika dirinya baru sampai di sana, terhenyak dan jatuh terkulai lemah di samping tubuhnya.
Tubuh Endro lunglai meski Kakinya masih kuat berdiri menopang tubuhnya yang lelah. Matanya menatap sendu ke onggokan tanah lembab di hadapannya. Di sana, tempat sebuah lahan pemakaman yang sudah didepositokan Ridwan untuk dirinya dan keluarganya.
__ADS_1
Tanah luas yang telah dibelinya jauh-jauh hari, hanya menyimpan jasad nya seorang diri.
Endro ingat, bahkan Ridwan juga sempat membagi tanah itu untuk sahabat lamanya yang sampai saat itu belum, berhasil ditemukan keberadaannya semenjak pertemuan dan perpisahan tak terduga mereka kala itu. Dan Endrolah sebagai saksinya.
Nur mendekatinya perlahan. "Suamiku mengalami kecelakaan hebat, End." Isak Nur tak tertahan. "Dia sempat dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan dari dokter. Dia juga sempat tersadar setelah melewati masa kritisnya. Dia memintaku untuk tidak mengabarimu, End. Hiks... Hiks... Hiks...
Penjelasan dokter mengenai kondisinya saat itu membuat dia menyerah dan menandatangani testimoni itu. Perdarahan di kepalanya yang cukup parah membuat dokter pasrah. Papa mereka tidak bisa diselamatkan lagi... Hiks... Hiks... Hiks..." Isak Nur sembari memandang iba ke putra-putrinya yang masih bersimpuh di makam Ridwan.
Tampak Yuni mengangkat wajahnya. Menatap sendu ke wajah Endro. Berharap memberinya kekuatan saat itu. Sementara Endro tidak memiliki keberanian untuk membalasnya.
"Endroooo Huuuu uuuu huuuu..." Seru Yuni mendayu mengiba. Dia berlari mengejar posisi Endro berdiri. Bergelayut manja dan menangis tersedu-sedu di dada Endro.
Semua salahku... Jika saja aku tidak membiarkan Tuan Ridwan pergi sendiri waktu itu, mungkin ini semua tidak akan terjadi.~ Maki bathin Endro terhadap dirinya sendiri.
Endro masih berdiri mematung di samping pusara malaikatnya. Ketika itu Nur, Arkhan dan Yuni telah pulang terlebih dahulu.
Hatinya begitu sakit. Meresahkan... Karena air matanya tak kunjung keluar penyiram dukanya. Berkali-kali dia memukul dadanya dengan pelan hingga ke titik terkeras sekalipun, namun air matanya tak juga mau keluar.
Aaaaaaahh.... Aaaaahhh... Aaaaahhh
Dia juga mencoba berteriak disana. Waktu yang cukup sore dan suasana yang begitu sepi mengizinkannya untuk melakukan hal itu. Tapi tetap saja air matanya begitu enggan untuk keluar, sehingga rasa sakit itu semakin menjadi-jadi dan bersarang di dalam dadanya.
__ADS_1
"Kenapa Yaa Allah...? Kenapa?" Tanyanya menengadah ke langit yang hampir gelap. "Jika tidak bisa engkau mengembalikan mereka, setidaknya kembalikan air mataku." Pinta Endro lirih. Dia meremas tanah lembab di bawah lututnya itu dengan begitu kuat, mencoba melampiaskan rasa sakitnya ke bongkahan tanah liat yang tak bersalah.
Hari terus berlalu. Sejak kepergian tuan Ridwannya. Malaikat yang sama, yang ia harapkan sebagai pendonor untuk jantung ayahnya. Semua menjadi kelam. Arkhan si manja itu pun banyak berubah. Menjadi lebih dewasa dan tak banyak bicara.
Dengan bantuan Endro, Arkhan memimpin perusahaan peninggalan papanya. Menjadi tulang punggung di keluarganya itu, dan berusaha menjadi kebanggaan mamanya, Nur.
Sesuai janjinya, Endro tidak pernah meninggalkan keluarga yang dipercayakan Ridwan terhadap dirinya. Kecuali jika untuk mengunjungi ayahnya sesekali di waktu Arkhan libur.
Bukan Enggan, tapi Endro selalu menolak permintaan keluarga Ridwan untuk ikut bersamanya berkunjung ke kota tempat ayahnya menetap.
Dia tidak ingin kembali merasakan sakit ketika melihat keluarga itu bersedih jika melihat ayahnya, orang yang telah menerima jantung dari papa mereka. Sementara, obat pereda sakit itu sendiri tak ia miliki. Bahkan air matanya pun ikut mengering, meninggalkan dirinya dalam duka di sepanjang hari.
.
.
.
.
.
__ADS_1