ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
SEBUAH KEBOHONGAN


__ADS_3

"Itulah hari terakhir, OM melihat wajahnya setelah perpisahan sekolah dan sebelum pernikahan Om dengan dirinya." Mata Endro tampak berkaca-kaca mengenang masa lalunya bersama Mentari.


"Bukannya Om bilang, Om tidak kuliah? Tapi kenapa Om mengatakan kepada Bibi Mentari, Kalau Om mau kuliah?" Nummi terheran-heran. Dia masih ingat betul bahwa kemarin-kemarin nya lelaki itu mengatakan kalau dirinya Bukankah lulusan sarjana.


"Ceritanya masih panjang, nak. Sekarang kita pulang dulu, ya. Sudah masuk waktu Zuhur." Ujar Endro. Dia tidak mengurangi rasa penasaran dibenak Nummi terhadap kisahnya.


"Hmm... Baiklah, tapi Nummi menunggu kelanjutannya loh Om." Ujar Nummi terlihat pasrah meski tak rela.


" Iya sayang. Lusa insya Allah akan Om lanjutkan lagi. Untuk hari ini kita istirahat dulu ya. Soalnya, besok Om ada pekerjaan. Dan akan memakan waktu seharian penuh." Tutur Endro kembali meyakinkan Nummi. Jelas sekali raut kekecewaan tergambar di wajah gadis itu.


"Yaaah... Hemm... Apa boleh buat kalau begitu" Sahutnya cemberut.


" Jangan cemberut begitu dong. Nanti cantikmu hilang." Endro mencubit kecil pipi tembem yang dibuat-buat gadis itu. "Ayo senyum."


"Iya Om. Maaf. Dan terimakasih untuk hari ini, Om. Nummi senang sekali... Jadi rindu suasana sekolah." Nummi kembali menampakkan senyumannya.


"Belum sampai seminggu liburnya, sudah rindu saja. Ada yang spesialkah?" Tanya Endro menggodanya.


"Maksud, Om?" Nummi sedikit tercengang. Dia gadis tujuh belas tahunan yang sudah mulai mengerti ke arah mana Endro bertanya. Hanya saja, dia berpura-pura tidak paham untuk menutupi rasa keterkejutannya.


"Nggak usah gitu ekspresinya. Om kan cuma nanya..." Endro tertawa geli.

__ADS_1


"Ih... Om ini. Nggak ada..." Elaknya.


"Memangnya kamu tahu maksud Om, apa?"


"Iiiih... Tadi kata Om kita mau pulang. Ayo kita pulang." Nummi bangkit dari duduknya, dan meninggalkan Endro yang masih menyeringai geli melihat tingkah Nummi. Wajah gadis itu terlihat memerah karna godaannya.


Semoga saja kamu mendapatkan cinta sejati, Nak.


Endro ikut bangkit menyusul Nummi yang sudah terlihat jauh darinya.


*****


Endro duduk di balkon kamarnya yang menghadap langsung ke kebun sebelah rumah. Kebun yang berisi berbagai macam sayuran dan bunga-bunga hiasan taman. Sesuatu yang menjadi hobinya Pak Harun untuk mengisi waktu luangnya di rumah sederhana namun memiliki pekarangan luas.


Malam itu, gerimis melukis kaca pembatas ruangannya dengan alam terbuka disana. Dengan tatapan sayu, dia kembali memandang masa lalunya. Masa yang hanya bisa dikuburnya sendiri.


Baginya, cukup dia dan tuhan yang tahu. Karena hatinya, murni milik yang kuasa. Dia bahkan tak bisa menetapkan, meski dia memintanya.


Maafkan Om, Nummi. Ada sesuatu yang tidak bisa Om ceritakan terhadapmu.


Sesuatu yang hanya akan menyakiti banyak orang yang Om sayangi. Termasuk kamu, Nak. Karena, hanya Om dan Dia-lah yang mengerti ini.

__ADS_1


Ketika Om kuliah. Om menemukan sesuatu yang beda pada perasaan, Om. Berbeda dengan yang Om rasakan terhadap Mentari.


Om tidak melihat dari sisi lukanya saja. Tapi Om melihat dari semua pada dirinya. Senyumnya, rupanya, hati dan kebaikannya.


Kala itu, dia tidak mengenal Om. Tapi hati Om terus menemukannya, tanpa mencarinya. Dia tidak pernah melihat, Om. Tapi Om selalu melihat dirinya.


Ternyata, Om hanya ditaqdirkan sebagai jalan dan jembatan untuk dirinya menuju kebahagiaannya.


Ada rasa sakit yang tak kunjung pulih. Yaitu, mencintainya dalam diam. Sebuah kebohongan, yang mengatur pertemuannya kepada lelaki lain. Dialah Desri Winandra. Bundamu.


.


.


.


.


.


Jangan salah paham ya... Cerita Endro belum berakhir disini.

__ADS_1


__ADS_2