
Malam itu, Endro dan regunya telah berbaring di dalam tenda yang sama. Hanya saja, dirinyalah yang tampak gelisah kala itu. Dengkuran teman-temannya mengusik rasa damainya, bahkan sampai mengalahkan suara jangkrik sekalipun.
Matanya sulit terpejam, meski berkali-kali dia mencoba untuk memejamkannya. Dia begitu sesak dan merasa kesempitan oleh ulah teman di sisi kiri dan kanannya itu.
Endro akhirnya bangkit. Dia berpikir untuk mencari angin di luar tenda.
"Mentari? Dia Mentari, bukan?" Matanya mendapati sesosok gadis yang tengah duduk menatap langit. "Tidak salah lagi, dia benar Mentari." Gumam Endro seraya mendekat dan duduk di samping gadis itu.
"Mentari..." Panggil Endro.
"Kamu? Mengagetkanku saja..." Dengus Mentari sedikit terperanjat.
"Kenapa kamu ada disini?" Tanya Endro mengabaikan kekesalan di wajah Mentari.
"Aku ingin melihat bulan. Cuacanya begitu cerah malam ini..." Sahutnya santai. Mentari tersenyum ketika kembali menatap bulan penuh di atas sana. "Kamu sendiri ngapain ada disini? Apa kamu juga ingin melihat bulan?" Mentari balik bertanya kepada Endro.
"Tidak..." Sahut Endro tanpa memalingkan tatapannya dari wajah pucat gadis itu.
"Lalu?" Mentari mengerinyitkan alisnya.
"Kenapa aku harus melihat bulan? Sementara di sampingku, ada Mentari yang lebih bersinar..." Ujar Endro menggoda.
Mentari tersipu. Wajahnya terlihat merah merona. Tidak satu kata lagi pun terdengar dari mulutnya.
"Kamu tidak percaya?" Tanya Endro semakin menajamkan tatapannya.
"Entahlah..." Sahut Mentari.
"Lihatlah... Bulan bahkan tidak mampu menerangi bumi seperti matahari. Tapi, kamu mampu menerangi hidupku, Mentari." Ujarnya meyakinkan gadis itu.
"Apa iya?"
__ADS_1
"Hu'um"
"Apa istimewanya aku bagimu? Sedangkan aku hanyalah anak angkat." Terlihat kegetiran dari wajah polosnya, ketika ia mengucapkan kata-kata itu.
"Aku tidak tahu... Yang aku tahu, Cinta tidak butuh alasan kemana dia membawa hati untuk berlabuh, bukankah begitu?" Perasaannya yang begitu dalam terhadap Mentari, membuatnya benar-benar sulit untuk berhenti menatap gadis itu.
Baginya, wajah polos dan pucat itu teramat mendamaikan.
"Jika aku boleh, aku ingin mengenal ayahmu, End. Aku ingin merasakan kasih sayang juga darinya..." Mentari mengalihkan pembicaraan mereka. Dia takut, cara tatapan Endro membuatnya kalah dalam menahan perasaannya itu.
"Esok, sepulang dari perkemahan ini, aku akan menceritakan kamu kepada ayahku. Dia tidak butuh melihat rupamu, mendengar suaramu, berada di dekatmu... Tapi dia akan mengenalmu, hanya dengan mendengar cerita dariku tentangmu." Ikrar Endro menjanjikannya.
"Benarkah? Sebegitu percayanya ayahmu terhadap ucapanmu?" Tanya Mentari antara senang atau sedih.
"Hu'um..." Sahut Endro sembari menganggukkan kepalanya. "Tapi... Aku tidak tahu dari mana aku akan menceritakanmu kepada Beliau." Endro memasang wajah bingung.
Mentari tersenyum getir. "Ceritakan saja dari mana kamu tahu tentang aku. Aku hanya anak angkat, kemudian hidup bersama mereka yang kejam." Ungkapnya lirih. Dimatanya, tampak cairan bening itu menggenang.
"Maafkan aku Mentari... Apa kamu tersinggung?" Endro tampak menyesal.
"Aku pikir... Kehidupanku disini, lebih baik dibandingkan hidup di panti." Mentari memulai ceritanya.
"Semenjak ayah dan ibuku meninggal, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain mereka, End.
Tujuh tahun yang lalu, orang tuaku mengalami kecelakaan. Mereka sama sekali tidak terselamatkan. Mobil yang membawa ayah dan ibuku pergi untuk selama-lamanya itu, masuk ke dalam jurang.
Aku hanya punya Bi Lita, asisten di rumahku. Dulu Bi Lita tidak sekejam itu, yang aku tahu. Tapi ternyata, dia begitu kejam. Dia menguasai seluruh harta peninggalan kedua orang tuaku, dan membawa aku ke sini.
Pak Alex juga begitu, jika bukan karena hasutan Kak Juwita, dia tidak terlalu kejam. Tapi dia memang kejam.
Beberapa minggu lalu, waktu aku bolos selama enam hari. Aku pergi ke rumah peninggalan orang tuaku. Notaris menyerahkan seluruh harta peninggalan orang tuaku, karena usiaku sudah genap tujuh belas tahun.
__ADS_1
Namun aku sama sekali tidak mendapatkan apa-apa dari itu, mereka juga memintaku menandatangani surat pengalihan harta kepada Bi Lita. Karena dia yang selama ini bertanggung jawab atas diriku.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi, setidaknya aku masih bisa menamatkan sekolahku hingga SMA. Mereka sudah menjanjikan itu sebelumnya.
Selama ini aku selalu mereka siksa, End. Aku tidak dibiarkan mengerjakan PR. Kamu ingat? Waktu itu kita masih SMP. Aku pernah dihukum gara-gara tidak mengerjakan PR?.
Ya, itu alasannya mengapa aku selalu mengerjakan PR lebih awal. Apalagi jika tidak terlalu sulit. Tidak ada kesempatan bagiku mengerjakan pekerjaan lain, selain dari yang mereka perintahkan jika aku berada di rumah.
Suatu hari, aku bertemu Nini. Beliau melihatku dipukuli oleh Bapak. Diam-diam, Beliau sering mengunjungiku. Tapi lama-kelamaan, Kak Juwita mengetahuinua dan melaporkannya kepada Bapak.
Makanya aku ketahuan, waktu itu. Sebenarnya aku malu, jika kamu mengetahui semuanya tentang hidupku. Aku tidak ingin dikasihani, End. Tapi jika itu kamu, maka aku akan haramkan yang lain lagi.
Cukup kamu..."
Air mata Mentari mengalir dengan deras. Dia lebih tau bagaimana caranya menceritakan hidupnya itu kepada Endro.
Banyak kali dia tersenyum, meski terlihat pedar di wajahnya.
Endro tidak tahu harus berkata apa lagi. Baginya, mengetahui itu sudah lebih dari cukup. Nini benar, bahkan derita Mentari lebih besar dari apa yang dia rasakan.
Dia tidak semenderita itu. Dia masih punya ayah yang sangat menyayanginya dengan penuh kasih. Dia juga memiliki Nini yang sudah menganggapnya sebagai cucu.
Mentari... Jangan redup. Meski hendak hujan, namun mendung tidak akan mampu mengubah kodrat siang. Dia tidak akan segelap malam.
Percayalah... Aku akan mengeluarkanmu dari kegelapan. Karena kamu adalah Mentari. Kamu tidak akan terus bersembunyi di balik kesengsaraan itu...
.
.
.
__ADS_1
.
.