ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
JATUH KE TITIK TERENDAH


__ADS_3

Beberapa hari setelah Endro mendapatkan tawaran pekerjaan dari Ridwan, hingga ayahnya pun telah kembali diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.


Endro juga telah berusaha memikirkan keputusan terbaik apa yang akan dia ambil. Malam itu menjadi kesempatan bagi dirinya untuk berbicara dan mengutarakan niatnya kepada Kamil, Ayahnya.


"Ayah..." Panggil Endro lirih. Kala itu mereka tengah duduk di beranda depan rumah.


"Hmmm?" Sahut Kamil tenang. Kamil tidak menoleh sedikitpun kepada Endro. Matanya tak berkedip menatap percuma ke arah depannya.


"Aku mendapatkan tawaran pekerjaan dari Tuan Ridwan Ghani, Yah" Ujar Endro memulai obrolan di antara mereka. Sedikit lambat dan takut-takut.


"Benarkah?" Endro mengangguki pertanyaan Ayahnya. "Pekerjaan apa?" Tanya Kamil lagi.


"Untuk sementara, jadi pengawal beliau dan juga sepasang putra-putri beliau, Yah" Sahut Endro menjelaskan kepada ayahnya dengan jujur tanpa menyembunyikan apa pun.


Wajah Kamil tak berubah. Tetap santai dan terlihat biasa-biasa saja setelah mendengar penjelasan Endro.


"Apa Ayah tidak menyukainya?" Tanya Endro merasa bersalah karena tidak menemukan reaksi apa pun di wajah lelah Ayahnya itu.


"Tidak, nak..." Sahut Kamil seraya menoleh ke arah Endro. "Walau bagaimanapun, Tuan Ridwan telah banyak berjasa kepada kita. Terimalah pekerjaan itu. Bantulah dia..." Ujar Kamil kemudian. Dia menyetujui keinginan Endro, bahkan berharap tidak hanya sekedar setuju. Tetapi agar Endro juga harus menerima tawaran itu dengan lapang dada penuh ketulusan.


"Lalu bagaimana dengan ayah?" Tanya Endro mencemaskan keadaan ayahnya, jika dia sendiri nantinya harus pergi.


"Kamu tidak perlu mencemaskan Ayah, Nak. Ayah sudah merasa lebih baik saat ini. Lagian, ada Nini yang akan mengunjungi ayah sesekali. Nini akan selalu menyiapkan segala keperluan Ayah. Kamu kan tahu sendiri bagaimana Nini mu itu." Tutur Kamil berusaha menghapus keraguan putranya.


"Tapi bagaimana jika suatu waktu penyakit Ayah kambuh lagi? Sementara aku jauh dari ayah." Tanya Endro lagi masih mencemaskan ayahnya itu.


"Ayah kan bisa telepon kamu, Nak. Kota XXX itu tidak terlalu jauh dari sini. Palingan tiga sampai empat jam, bukan? Kamu kan dulu juga sudah pernah tinggal di sana. Tiga tahunan kamu kuliah, bukanlah waktu yang singkat. Kamu pasti sudah hapal betul seluk beluk kota itu. Syukur-syukur, kamu akan mendapatkan kebahagiaan 'mu disana." Ujar Kamil semakin berusaha membuat Endro mengerti.


"Kebahagian apa yang Ayah maksud?" Tanya Endro dingin. Pikirannya sama sekali tidak mengarah ke apa pun atau ke siapapun. Dia hanya berpikir bahwa kebahagiaan yang dimaksud ayahnya adalah pengganti Mentarinya.


"Apa pun. Terpenting... Kamu bahagia karenanya." Sahut Kamil.


"Baiklah, Ayah. Aku akan telepon Tuan Ridwan, mengabari bahwa aku menerima tawaran pekerjaan darinya." Ujar Endro.

__ADS_1


Endro bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam rumahnya itu. Dia mengambil ponsel miliknya dan menghubungi nomor Ridwan Ghani.


Tut... Tut... Tut...


Nada menyambung.


"Assalamu'alaikum..." Suara yang sudah tidak asing lagi di telingannya terdengar menyapa dari seberang.


"Wa'alaikumussalam, Tuan. Ini saya, Endro..."


"Iya, Nak. Saya tahu..."


"Tuan... Apa tawaran beberapa hari yang lalu, masih berlaku untuk saya?" Tanya Endro bernada sungkan.


"Tawaran?" Nada bingung terdengar menyahuti pertanyaan Endro.


"Iya, tuan... Tawaran pekerjaan untuk saya." Ujar Endro kembali membuat lelaki paruh baya di seberangnya mengingat obrolan mereka beberapa hari yang lalu di rumah sakit.


"Masih, Tuan..." Sahut Endro tampak berbinar. Dia begitu senang mendengar ketulusan dari suara Ridwan dari balik layar ponsel yang digenggamnya itu.


"Ya sudah... Saya tunggu kamu. Jadi, kapan kamu akan datang?"


"Saya akan berangkat siang besok, Tuan. Mungkin akan sampai sore harinya."


"Baiklah... Saya tunggu kamu.Istri dan Anak-anak saya sekarang ada di samping saya. Dia sangat senang mendengar rencana kedatangan kamu, Nak. Mereka juga menunggu..." Ujar Ridwan terdengar gembira.


Endro tersipu. Dia tidak mengerti kenapa? Tapi yang paling jelas, hatinya begitu senang mendengar pernyataan Ridwan.


"Terima kasih, Tuan. Sampaikan salam saya kepada mereka. Ayah saya juga titip salam untuk tuan..."


"Iya... Mereka mendengar dan menganggukinya. Salam balik untuk ayahmu..."


"Baik, Tuan... Kalau begitu, saya tutup dulu. Selamat beristirahat, Tuan. Assalamu'alaikum..." Pamit Endro dari obrolan mereka lewat telepon.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam..." Sahutan Ridwan terdengar sebelum sambungan terputus.


Endro menatap sendu wajah ayahnya. Rasa iba kembali bersarang dan memenuhi dadanya. Hatinya begitu perih jika membayangkan hari esok. Pergi dan meninggalkan ayahnya seorang diri.


"Jangan nenatap ayah seperti itu." Seru Kamil yang menangkap tatapan putranya dari sela-sela matanya. Meski dia tidak melihat Endro secara langsung.


Endro gelagapan. Dia memalingkan wajahnya dan mengedip-ngedipkan matanya yang tiba-tiba terasa perih.


"Sudah malam, Yah... Ayo kita masuk. Terlalu lama, angin malam tidak baik untuk kesehatan Ayah." Ajak Endro berusaha mengalihkan pertanyaan ayahnya.


Kamil terdengar membuang nafas kasar. "Baiklah..." Sahutnya seraya bangkit dari duduknya dan bergerak melangkah ke dalam rumah.


Endro mengikuti dari belakang. Matanya tak berhenti menatap sayu punggung ayahnya yang terlihat.


Sesaat, Kamil membalikkan tubuhnya dan membalas tatapan Endro. Kembali, dia dibuat gelagapan dan gugup oleh ayahnya itu.


"Jangan risaukan ayah, Nak. Bukankah kamu pergi juga demi ayah?" Ujar kamil terdengar memelas.


"Apa salah jika seorang anak mencemaskan ayahnya senidiri, Yah?" Tanya Endro menyerah untuk bersembunyi lagi dari ayahnya itu.


"Tidak. Tidak ada yang salah, Nak. Hanya saja, jangan terlalu larut dan berlebihan. Kamu juga harus memikirkan hidupmu." Tutur Kamil berusaha membuat anaknya mengerti.


Endro terdiam. Dia tidak pernah rasanya berafa di titik terendah seperti itu ketika dia terjatuh. Namun kali itu, dia benar-benar berada disana. Dan sulit baginya untuk bangkit kembali.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2