ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
PENYELAMAT


__ADS_3

Endro berjalan tertatih-tatih mengikuti tanda yang telah dibuatnya sebelum menemukan Mentari tadi.


Di kuduknya yang kekar, Mentari terkapar nyaman disana. Memang tidak terlalu berat tubuh gadis itu. Tapi untuk tubuh Endro yang lelah dan tanah licin yang ditempuhnya, membuat dia terlihat sempoyongan malam itu.


Hujan memang telah berhenti sedari tadi, sayangnya matahari tidak akan pernah muncul lagi untuk beberapa saat. Ya, kala itu sudah malam. Dengan mengandalkan senter batrey, Endro mampu melihat tanda yang tertancap di sepanjang hutan belantara itu.


"Mentari..." Panggil Endro dengan nafas tersengal.


"Hmmm..." Sahut Mentari yang sudah mulai tenang.


"Kamu kenapa bisa tertinggal oleh yang lainnya tadi?" Tanya Endro.


"Ini semua karena tali sepatuku... Dia sama sekali tidak bisa diajak bersahabat. Beberapa kali aku mencoba mengikatnya, namun dia terus saja terlepas. Sampai pada akhirnya, semua teman-teman tidak lagi terlihat. Aku tidak menyadari, bahwa mereka telah pergi meninggalkan aku yang sedang mengikat tali sepatuku ini. Berkali-kali aku mengumpat karenanya... Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, disaat hujan tiba-tiba saja langsung menderas." Sungutnya.


"Owh begitu ceritanya... Mungkin karena kamu juga tidak bilang-bilang kepada mereka untuk memperbaiki tali sepatumu terlebih dahulu. Maka dari itu mereka meninggalkanmu. Tadi mereka juga terkejut karena tidak melihatmu bersama mereka di posko tiga." Ujar Endro menenangkan Mentari lagi.


"Iya... Soalnya aku sudah terlanjur kesal sama tali sepatu nih..."


"Sekarang kamu sudah aman... Jadi jangan menangis lagi." Pinta Endro.


"Iya... Kalau tidak ada kamu End, mungkin aku sudah mati karena ketakutan di hutan ini." Ujar Mentari semakin mengeratkan lengannya di bahu Endro.


"Kamu tidak akan mati karena ketakutan, Mentari. Kamu gadis kuat yang aku kenal. Jadi... Jangan pernah bicara seperti itu lagi." Pinta Endro. Dia tidak suka mendengar ucapan Mentari yang terdengar pasrah di telinganya.


"Mentariii.... Endroooo..." Terdengar suara sahut-bersahutan memanggil nama mereka. Berulang kali. Semakin lama, semakin terdengar jelas.


"Endro, mereka mencari kita." Ujar Mentari melemah.


"Iya, Mentari. Kamu bertahan, ya." Sahut Endro. Dia berusaha memperkuat tungkainya, agar langkahnya kembali cepat.

__ADS_1


"Endro... Turunkan saja aku. Kamu usahain buat menyahuti panggilan dari mereka. Aku tahu, kamu sudah kelelahan." Pinta Mentari.


"Tidak Mentari... Aku tidak apa-apa." Elak Endro bersikukuh kuat.


"Endro... Aku mohon. Mereka lebih bertenaga saat ini. Kamu jangan terlalu memaksakan diri..." Pinta Mentari semakin memelas.


Akhirnya Endro menurut. Apa yang dikatakan Mentari adalah kebenarannya. Dia terlalu memaksakan diri dalam keadaannya saat itu.


Dengan perlahan, Endro menurunkan Mentari dari gendongan punggungnya.


"Kami disiniiii?" Seru Endro berusaha menyahuti panggilan teman-teman dan pengawas yang mencari mereka.


Karena mereka sudah tidak terlalu jauh dari tim pencari, maka dengan mudahnya mereka di temukan.


Tubuh Endro dan mentari benar-benar terlihat lemah. Ditambah, baju mereka yang masih lembab dan kotor. Mereka segera diangkut dengan menggunakan tandu darurat yang dibuat dari tongkat dan tali Pramuka.


Aku bahkan juga takut tadinya.... Tapi karena aku menemukanmu, keberanianku kembali muncul...


Kuat dan bersabarlah Mentari...


*****


Pagi membangunkan Endro dari lelahnya semalam. Dia kembali menatap dunia yang terang di hari itu. Dengan bergegas, dia bangkit dari posisi tidurnya.


"Mentari... Bagaimana dengan Mentari?" Gumamnya.


Endro menyibakkan selimut yang membaluti tubuhnya dan keluar dari tenda itu. Matanya, tanpa sengaja langsung menampaki wajah Mentari yang tengah tersenyum di sudut tenda paling ujung bersama teman-teman wanita lainnya.


Endro tersenyum melihat pemandangan yang indah di depan matanya. Mentarinya seperti tidak memiliki masalah pagi itu. Raut wajah ceria yang ditemuinya pada Mentari, membuatnya kembali lega.

__ADS_1


"Endro..." Panggil salah seorang pengawas. Pengawas itu tidak lain adalah Pak Dio, yang menjadi pemimpin regunya dalam pencarian Mentari kemarin.


Endro dan Mentari sama-sama menoleh ke arah Pak Dio. "Selamat pagi, Pak." Sapa Endro terlihat gugup.


Mentari yang juga telah melihat Endro dalam keadaan baik-baik saja, menyunggingkan senyuman di bibirnya. Dia menyapa Endro dengan isyarat itu. Ya, senyuman adalah caranya saling bersapa di depan orang-orang.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Pak Dio mengalihkan pandangan Endro.


"Baik, Pak..." Ujarnya menyahuti.


"Huuuhhh... Bapak salut denganmu, End. Kamu tidak hanya menyelamatkan Mentari. Tapi, kamu juga telah menyelamatkan sekolah kita." Tutur Pak Dio terlihat bangga terhadap Endro.


Endro hanya tersenyum. Padahal saya hanya memikirkan Mentari saat itu kok, Pak...~ Batin Endro.


"Tapi... Ngomong-ngomong, kamu dan Mentari terlihat cocok..." Bisik Pak Dio menggoda Endro.


"Hahhh?" Wajah Endro memerah seketika.


Pak Dio hanya tersenyum dengan seringai nakalnya. Dia berlalu meninggalkan Endro yang masih terperangah oleh ucapannya, setelah menepuk pelan pundak Endro.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2