ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
PENCARIAN ALEX


__ADS_3

Di sisi lain. Alex dan keluarganya mencari-cari keberadaan Mentari ke semua tempat yang dia tahu Mentari sering berkunjung. Namun sama sekali dia tidak menemukan gadis itu.


Terakhir, dia mendatangi gubuk Nini. Tetapi pintu gubuk itu pun digembok dari luar.


Alex pergi dengan wajah berang meninggalkan gubuk Nini. Dia begitu geram karena tak kunjung menemukan Mentari dimana-mana.


"Apa mungkin dia akan datang kesini, sementara aku pernah menjemput paksa dirinya dari sini? Lalu kemana dia akan pergi?" Alex bergumam marah. Wajah garangnya tampak memerah memikirkan kemana perginya Mentari.


"Bagaimana, Pak? Apa dia ada di dalam?" Lita, istri Alex turun dari mobil mereka dan menghampiri Alex.


"Tidak, Buk... Gubuk wanita tua itu digembok dari luar. Apa dia akan kabur ke kota asalnya?" Prediksi Alex.


"Bagaimana mungkin itu, Pak. Dia bahkan tidak memiliki seperser pun uang. Dan lagian, dia juga tidak punya keluarga lagi disana." Ujar Lita tidak percaya dengan dugaan-duagaan yang diucapkan suaminya.


Ketika mereka tengah berdebat, seseorang pejalan kaki melintas disana.


"Buk...Buk... Permisi..." Cegat Lita begitu cepat.


"Iya. Ada apa, Bu Lita?"


"Apa Ibuk tahu kemana Nini pergi? Sedari tadi kami mencarinya. Tapi rumahnya malah digembok dari luar."


"Owh Nini? Nini biasanya kalau siang pergi mengantar makanan ke rumahnya Kamil, Bu Lita. Tapi sudah hampir sore kok Nini belum pulang juga, ya? Mungkin masih disana Bu..." Sahutnya tanpa curiga kepada Alex dan Lita yang tiba-tiba menanyai Nini.


"Si Kamil anaknya mendiang juragan tanah itu?" Tanya Alex sedikit terkejut.

__ADS_1


"Iya, Pak Alex. Biasanya beliau memang kesana. Mungkin saja Nini mampir ke tempat lain. Saya juga tidak tahu..."


"Ya sudah, Bu. Terimakasih..." Ucap Lita mengakhiri.


"Sama-sama, Bu Lita. Kalau begitu saya pamit." Ujar orang itu seraya berlalu dari hadapan mereka.


"Apa mungkin si Nini membawanya kesana, Pak?" Tanya Lita curiga.


"Mungkin saja, Buk. Ayo kita lihat kesana." Ajak Alex segera. Mereka kembali naik ke dalam mobilnya dan bersiap menuju ke rumahnya Kamil untuk memastikan keberadaan Mentari.


"Awas saja jika ibuk menemukannya. Ibuk akan beri dia pelajaran sampai dia tidak akan pernah bisa melupakannya." Gerutu Lita. Wajahnya dipenuhi amarah yang membakar hati dan pikirannya. Sementara, Juwita tersenyum senang di kursi belakang mendengar ucapan ibunya itu.


Alex mengemudikan mobilnya dengan laju yang begitu kencang. Amarah benar-benar membuatnya mati rasa dan tak memiliki belas kasihan. Bahkan binatang yang tidak diciptakan dengan akal pikiran saja masih mampu menggunakan hatinya. Tapi entah mengapa dengan Alex dan keluarganya itu.


Mobil mereka akhirnya sampai di depan rumah sederhana yang dihuni Kamil, Ayahnya Endro. Mereka turun dengan raut tak bersahabat sama sekali.


"Niniiii.... Niniii... Keluar..." Seru Alex garang. Lita dan Juwita yang juga ikut turun dari mobilnya tampak menyeringai menyaksikan kemarahan Alex yang tidak dapat ditolerir.


Sementara itu, di dalam rumah Kamil Mentari semakin memeluk tubuh Nini dengan kuat. Dia hafal betul dengan suara ribut-ribut dari luar rumah.


"Nini... Mentari takut... Mentari takut, Ni. Mentari harus kemana? Mentari tidak mau bertemu mereka. Mentari takut, Ni..." Gadis itu benar-benar tampak ketakutan. Dia begitu gelisah saat itu.


"Kamil... Apa itu Alex?" Tanya Nini ketika Kamil kembali ke ruang makan tempat Nini dan Mentari berada.


"Sepertinya begitu, Bu..." Sahut Kamil tak kalah tegang.

__ADS_1


"Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Nini lagi. Kali itu tubuhnya ikut bergetar merasakan kepedihan dan ketakutan yang dirasakan Mentari


Kamil menggeleng pelan. Rasa takutnya akan terjadi sesuatu kepada Mentari, membuat dirinya kehabisan akal.


Dia bahkan tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Jika pun berharap dengan putranya, butuh waktu lebih kurang empat jam sampai Endro datang.


"Tolong Mentari... Tolong, Yah... Huk huk huuuu..." Isaknya mengiba. Dia ketakutan. Tubuhnya begitu lemah dan lelah. Dia semakin mempererat dekapannya ke tubuh Nini.


"Endrooo... Endrooo... Kamu dimana? Aku takut, End. Hah haaaa aaa Endrooo..." Mentari tak kuasa menahan tangisnya. Dia sungguh tidak ingin lepas, melepaskan atau dilepaskan Nini saat itu.


Suara Alex semakin mengeras. Kali itu dia menggendor pintu rumah Kamil dengan sangat kencang hingga meruntuhkan hati Mentari yang semakin ketakutan dibuatnya.


"Kamu tenang ya, Nak. Apa pun yang terjadi, Ayah tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada dirimu." Ikrar Kamil sembari mengelus lembut kepala Mentari yang berada di dalam dekapan Nini.


Kamil hendak melangkah keluar, namun dengan segera Mentari menahan lengannya. Mentari menatap lekat mata lelaki paruh baya itu. Dia menggeleng iba. Memohon agar Kamil mengurungkan niatnya untuk menemui keluarga angkatnya itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2