
Endro tampak melamun di pelataran belakang rumahnya. Senja itu, pikiran yang ada dalam benaknya, tidak senada dengan perasaan yang ada di dalam hatinya. Dan mungkin, pikirannya kosong kala itu.
Hatinya begitu perih jika mengingat semua kata-kata Mentari ketika di sekolahnya tadi. Namun, hal yang paling membuatnya kacau saat itu hanyalah rasa kepenasaranannya.
Kenapa gadis itu bersikap seperti itu kepadanya, dan kenapa gadis itu seakan tidak menyukai dirinya?.
Rasa-rasanya, aku tidak pernah mengganggu dia sebelumnya. Tetapi kenapa dia begitu kepadaku?
Dan selama ini, aku tidak pernah menapaki kejujuran di hatinya. Tapi tadi... Kenapa aku seakan melihat, ada duka yang tersuruk di dalam manik matanya. Mata yang tiba-tiba menjadi sayu seketika...
Apa mungkin, Mentari yang dikatakan Nini adalah dirinya? Tapi dia menderita kenapa? Bukankah teman-teman mengatakan, dia begitu dimanja oleh orang tuanya?
Orang tua Mentari, kan termasuk orang yang terpandang di wilayah ini.
Endro menggeleng. Dia mengusap kasar kepalanya. "Aku bisa saja salah. Mentari yang Nini katakan, mungkin bukan dia." Pikirnya begitu kacau.
"Dan lagian, kenapa aku memikirkan dirinya?"
__ADS_1
"Endro..." Kamil mendekat kearah putranya yang sedikit terperanjat karena seruannya. "Ada apa kamu melamun, End?" Tanyanya seraya ikut duduk di samping Endro.
"Ayah mengejutkan aku saja..." Ujarnya sedikit bersungut.
"Itu untung saja ayah cepat datang. Kalau tidak, ayah tidak bisa menjamin jika jin jahat merasuki tubuhmu itu." Kamil seakan membela dirinya. "Apa kamu masih kepikiran tentang cerita ibumu?." Tanyanya mulai serius.
"Tidak ayah, bukan begitu... Aku senang sudah mampu membekap mulut teman-temanku tadi di sekolah. Aku sudah menjelaskan kepada mereka, kalau aku bukanlah anak pungut seperti yang mereka katakan, Yah." Tutur Endro.
Kamil merasa lega mendengarnya.
"Iya ayah, Endro juga pernah mendengarnya. Tapi, tadi Mentari benar-benar keterlaluan. Hingga Endro terpaksa memberitahukan tentang ibu kepada mereka semua." Adunya.
"Mentari?" Kamil mengerinyitkan dahinya. "Apa Mentari yang kamu maksud, putrinya Alex?" Tanyanya lagi.
"Iya, Yah... Dia benar-benar sangat usil. Dan itu dilakukannya hanya kepadaku saja. Aku bahkan tidak tahu, kenapa dia begitu tidak menyukaiku..." Ujarnya.
"Mungkin kamu ada salah..." Terka Kamil.
__ADS_1
"Tidak... Aku rasa, aku tidak pernah mengganggunya." Sahut Endro yakin. Namun dia tampak berpikir karena itu.
"Atau mungkin dia menyukai kamu..." Ceplos Kamil.
"Haahh..." Endro tercengan mendengar pernyataan ayahnya itu. "Mana mungkin begitu, Ayah? Ayah ini, ada-ada saja." Ketusnya. Tapi hal itu mampu membuat dirinya merasa gugup dan kepikiran. Debaran yang dia rasakan ketika menatap lekat wajah Mentari tadi, membuat dirinya jelas-jelas terlihat salah tingkah di depan Ayahnya itu.
Wajahnya sedikit memerah dibuatnya.
Tapi dia hanyalah pelajar yang belum mengerti bagaimana perasaannya saat itu. Yang dirinya tahu, dia sangat tidak menyukai keusilan Mentari terhadap dirinya.
"Tidak mungkin bagaimananya? Bisa jadi, kan? Secara, anak ayah begitu tampan dan baik... Pintar lagi..." Ujar Kamil meyakinkan putranya.
"Ah terserah Ayah. Sudah mau maghrib, aku masuk dulu..." Pamit Endro mengelak.
Kamil menyeringai menatap punggung anaknya yang hilang begitu cepat dari pandangan matanya.
"Ayah heran, Nak... Apa mungkin, sebenarnya kamulah yang tengah jatuh cinta kepadanya?" Gumamnya. Kamil ikut bangkit dan menyusul putranya itu untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1