ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
MENUKAR


__ADS_3

Pagi setelah kepergian Mentari kemarin sorenya.


Dengan membawa beberapa orang Tetangga, Endro akhirnya melaksanakan niatnya untuk melamar Mentari ke kediaman Alex. Dia sudah harap-harap cemas pagi itu. Berharap Mentari nya baik-baik saja semalaman di rumah Alex, setelah Kejadian beberapa hari sebelumnya yang mereka lewati.


Dengan mengikuti cara di sana, dengan sabar pula Endro dan Kamil menghadapi sering-seringai halus berupa sindiran dari Alex dan Lita.


Sedari tadi, mata Endro tidak mendapati Mentari. Meski dia sudah celingak-celinguk mencari sosok gadis itu. Berbagai pikiran negatif melayang-layang dalam benaknya. Rasa cemas dan takut menjadi satu menguasai jiwanya.


Tapi, dengan tiba-tiba orang-orang disana berdecak kagum menyambut kedatangan seorang gadis. Dengan keelokannya, gadis itu malu-malu bergerak mendekat ke arah mereka.


Endro ikut terpana. Matanya tak berkedip sama sekali saat itu.


"Cantik." Gumamnya.


Gadis itu tak lain Mentarinya. Namun wajah cantiknya yang natural itu hanya memandang sayu kepada Endro. Bukan itu yang dia mau. Dia mau Endro menyerah saja untuk terus berpikir hendak melindungi dirinya.


Mata mereka saling tatap. Berkomunikasi dalam hati menyampaikan pemikiran-pemikiran di dalam benak masing-masing.


Endro terus menggeleng, meski tatapan Mentari mengisyaratkan untuk mundur. Tiada yang mengerti mengapa mereka begitu. Hanya Juwita yang mampu mengartikan mereka, dan menatap sinis tanpa pengetahuan mereka berdua.


Orang tua mereka pun juga sibuk merundingkan tentang hubungan yang akan dijalani oleh Endro dan Mentari nantinya.


Endro berhenti sesaat memerhatikan Mentarinya. Dia berusaha mencari nafas di tengah sesaknya suasana saat itu. Namun matanya tertumpu pada wajah ayahnya yang menegang.


Endro bingung. Mencoba menerka, apa sebenarnya yang telah terjadi saat dia hanya fokus kepada Mentarinya.


"Baiklah..." Sahutan berat terdengar lepas dari mulut lelaki paruh baya itu. Endro semakin bingung. Benaknya kembali bertanya, keputusan apa yang baru saja disetujui ayahnya itu.


"Hmm... Keputusan yang tepat sekali, Kamil. Jadi kapan pernikahan anak-anak kita dilangsungkan?" Tanya Alex dengan sikap manis yang dibuat-buatnya.

__ADS_1


"Secepatnya akan lebih baik, Lex. Kami telah memikirkan dengan matang keputusan yang kami ambil sedari rumah." Ujar Kamil yakin.


"Baiklah... Jadi kapan kamu akan memberikan surat tanah itu?"


"Surat Tanah?" Endro terperanjat. Dia begitu terkejut mendengar pertanyaan Alex.


"Di hari pernikahan, nanti. Bukankah Anda bilang itu adalah mahar untuk Mentari?"


"Mahar?" Endro semakin tidak percaya dengan pendengarannya saat itu. Dia segera menatap Mentari penuh tanda tanya.


Sebutir cairan bening, akhirnya lolos dari mata Mentari. Dia seakan mengerti arti tatapan lelaki itu. Dia tahu, tampak keraguan yang tersirat di wajah Endro.


Endro tertegun. Dia menatap wajah ayahnya yang mulai bernafas lega kembali. Dia tahu, Ayahnya bukan lelaki egois yang mempertahankan tanahnya tanpa memikirkan nasib Mentari di kemudian hari.


*****


"Ayah..." Endro menyapa getir Ayahnya yang tengah duduk melamun di pelataran belakang rumah mereka.


Mungkin, rasa berat itu ada. Maka disana pulalah adanya dilema. Memilih antara dua, dan kedua-duanya sama sulit untuk dilepaskan salah satunya.


Tapi baginya, Mentari yang bernyawa sebagai manusia, lebih berarti dibandingkan tanah perkebunan yang bernyawa sebagai amanat untuk dirinya.


Memang, tanah perkebunan yang dimintai Alex, saat itu tengah ditumbuhi tanaman-tanaman dengan suburnya. Maka karena itulah Alex sangat menginginkan tanah itu.


"Apa Ayah menyesal?" Tanya Endro sedikit ragu-ragu. Dia duduk di sebelah Ayahnya dan mencoba mengambil sedikit beban di pundak ayahnya itu.


"Tidak, Nak. Ayah hanya berpikir, kenapa Alex tega melakukan itu?. Dia sama saja menukar Mentari dengan tanah. Padahal, Mentari sudah diamanatkan kepada mereka." Kamil tampak sendu memikirkan gadis itu.


Dia menerawang, bukan berarti dia menyesali keputusannya.

__ADS_1


"Tanah sepetak tidak akan berarti apa-apa, jika dibandingkan memikirkan bagaimana nasib Mentari kelak. Kalau seandainya saja Ayah tidak mau mengorbankan tanah itu." Sambung Kamil lagi.


"Jadi tidak mengapa, Yah?"


"Tidak mengapa, End. Asal kamu berjanji, jaga baik-baik Mentari. Dia gadis yatim piatu, Nak. Jika suatu hari nanti kamu baik memperlakukannya, maka baik pula kehidupan yang akan menyambutmu. Kamu bagai mengemban amanah besar setelah menikahinya.


Dia perempuan yang harus dimengerti dengan lebih. Karena lukanya setelah kehilangan orang tuanya, tidak akan bisa hilang sehabis-habisnya. Ditambah lagi, luka karena penderitaan yang dialaminya semasa hidup bersama Alex dan keluarganya.


Jadi, Ayah minta kepadamu agar memperlakukan Mentari dengan baik dan bijak. Dia masih rentan dengan kesedihan yang dia rasakan selama ini." Tutur Kamil menjelaskan apa yang terbesit dari dalam hatinya. Sebuah ketulusan yang dia rasakan kepada gadis itu.


Endro terdiam. Dia mengerti tanpa mengatakan iya. Dan diam-diam pula, ia berjanji akan selalu mengingat pesan ayahnya itu.


"Kamu sudah dewasa, Nak. Ayah harap, ini adalah awal bagimu hidup dalam keseriusan. Tidak ada kebimbangan atau keraguan. Selagi itu benar dan baik, maka lakukanlah. Tidak peduli sesulit apa, dan sesakit bagaimana. Yang penting usahamu." Lanjut Kamil lagi.


Endro mengangguk pelan. Dalam hati, dia berjanji untuk itu. Menghapus keraguannya, dan memulai lagi hidupnya dengan suasana baru.


Fokus kepada Mentari dan menjadi imam gadis itu. Waktu mereka pun tidak terlalu banyak menjelang pernikahan mereka nantinya.


"Iya, Ayah. Endro berjanji. Tapi walau bagaimanapun, Endro tetaplah anak Ayah. Dan Endro akan selalu di sisi Ayah. Jadi, jika Endro salah melangkah, tegurlah Endro." Akhirnya dia buka suara. Dengan mantap, dia berikrar kepada lelaki paruh baya yang dipanggilinya ayah.


Kamil menganggu setuju. Dia sedikit tersenyum dan menepuk pelan pundak Putranya itu. "Baguslah, Nak. Ayah senang mendengarnya. Ayah juga berjanji untuk keinginanmu itu."


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2