ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
KEPONAKAN OM


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


Masuk saja, Sayang...~ Terdengar seruan dari suara sengau Endro menyahuti ketukan pintu.


"Sayang?" Alis mata Arkhan mengkerut kesal. "Hmm... Sudah berencana mengambil Nummi dari kita dia, Sayang." Ketus Arkhan.


Desri menggeleng-geleng. Dia mengabaikan ucapan suaminya itu dan menarik gagang pintu kamar Endro.


"Kalian?" Reaksi Endro tampak terkejut ketika matanya menampaki orang tuanya Nummi sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Kenapa? Tidak suka dengan kedatangan kami? Kalau begitu, biar kami bawa saja Nummi dari sini sekarang..." Ketus Arkhan berlagak sinis.


"Hahaha..." Endro memaksakan diri untuk tertawa. "Bukan begitu, Arkh... Nummi bilang kalian akan datang pada hari Sabtu lusa." Bantah Endro.


"Memang begitu... Tapi Desriku merindukan Bidadari kami. Ya apa boleh buat!" Ujar Arkhan berbohong. Desri mendelikkan matanya ke arah Arkhan dengan wajah bersungut kecil.


"Bukankah kamu yang sangat mengkhawatirkan pengawalmu ini, Sayang?" Ledek Desri.


"Hahaha... Aku baik-baik saja, Arkh... Kamu tidak usah berlebihan begitu." Goda Endro ikut meledek Ayah Nummi.


"Aishh... Ya, Desri kan adikmu. Sudah sewajarnya aku sebagai adik ipar mengkhawatirkan keadaan kakak iparku, bukan?" Sahat Arkhan menyerah karena merasa terpojok.

__ADS_1


Desri dan Endro menyeringai. "Jadi, bagaimana keadaanmu, End? Nummi bahkan sampai sesenggukan ketika mengabari keadaanmu semalam kepada kami." Tanya Desri mulai bicara serius.


"Saya baik-baik saja, Desri. Nummi saja yang terlalu menyayangi saya melebihi sayangnya kepada ayahnya sendiri, makanya dia seperti itu." Goda Endro lagi sambil tersenyum mengejek reaksi Arkham yang berpura-pura menampakkan cemburunya sebagai seorang ayah.


"Awas saja... Aku akan membawa Nummi kami dari sini, dan tidak akan membiarkanmu bertemu lagi dengannya." Ujar Arkhan dengan emosi yang mencuat. Dia berkacak pinggang seolah-olah memang terlihat sedang marah saat itu.


Endro mengangkat kedua bahunya seakan tidak peduli dengan ancaman Arkhan. "Nummi sudah besar. Dia bisa membedakan yang baik dengan yang tidak baik. Tidak baik itu, ketika menuruti perintah ayahnya yang tidak baik seperti mu..." Ledek Endro acuh.


"Ishh.. Kau..." Arkhan berniat menarik kerah piyama yang saat itu dipakai Endro, namun dengan cepat kilat, Desri menahan lengannya.


"Jangan seperti anak kecil begini." Tegur Desri. "Coba sekali saja kalian tidak bertengkar ketika bertemu, apa salahnya sih?" Ketus Desri terlihat benar-benar kesal melihat tingkah suami bersama pengawalnya itu.


Mereka serentak menyeringai dan tertawa bersama mendengar ocehan perempuan itu.


*****


Bagaimanapun... Orang yang kesepian akan tetap merasa kesepian, meskipun sebuah keluarga utuh mengelilingi dirinya.


Endro yang belum bisa lepas dari rasa kesepian itu. Hatinya masih merasakan kepahitan sebelum dirinya sendiri yang memastikan arti perasaannya yang sebenar-benarnya terhadap bundanya Nummi.


Dilihatnya gadis tujuh belas tahun itu. Endro tersenyum menyaksikan kebahagian yang terpancar di wajah imut Nummi. Tampak sekali kebahagiaan karena kedatangan orang tuanya kesana. Hanya itu yang membuatnya benar-benar ikut bahagia. Melihat keceriaan putri Arkhan yang sudah seperti putrinya juga.

__ADS_1


"Begitukah caramu, hmm? Setelah kedatangan Ayah Bundamu, kamu kembali ke pelukan mereka. Tertawa bersama tanpa mengindahkan Om lagi..." Sungut Endro berpura-pura kesal.


Nummi sejenak menghentikan gelak tawanya. Dia terpaku menatap wajah Endro yang juga tidak mengerti arti tatapan darinya. "Hehe... Ternyata Ayah benar..." Serunya sambil menepuk telapak tangan Arkhan yang sudah menanti sedari tadi.


Endro menatap Desri karena tidak mengerti. Sementara Desri hanya meninggikan bahunya tak memberikan jawaban.


"Kenapa menatap istriku begitu, hah?" Teriak Arkhan.


"Karena dia adikku..." Sahut Endro spontan dan menimbulkan keterkejutan diantara mereka. Bahkan Endro sendiri yang mengucapkannya juga bereaksi sama dengan mereka.


"Nah itu... Itu yang membuat Nummi begitu sayang sama Om Endro. Berarti Nummi keponakannya Om 'kan, Yah?" Tanya Nummi begitu polos kepada Ayahnya.


"Tentu dong, Sayang." Sahut Arkhan sembari mengelus-elus rambut panjang putrinya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2