ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
PAMAN


__ADS_3

"Waduuh... Pak Endro... Polisi Tahun segitu sudah banyak yang pensiun mah... Ah ya... Mungkin Pak Satya tahu soal itu. Anda bisa bertanya kepada Pak Satya langsung, Pak Endro. Sayangnya beliau sudah dipindah tugaskan ke kota XXX beberapa tahun yang lalu." Ujar salah seorang polisi di sana.


Endro merasa harus menjawab pertanyaan dirinya sendiri. Dia tidak ingin marah atau pun sampai membenci keluarga ibu kandungnya karena kesalahpahaman dirinya.


Seminggu berlalu semenjak ia mendatangi kantor polisi di kotanya itu. Endro melakukan perjalanan bisnis ke kota XXX tempat Pak Satya bertugas. Ketika ada kesempatan, Endro meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Pak Satya setelah melakukan Janji temu terlebih dahulu.


Pak Satya, polisi yang sedikit lebih tua dibandingkan ayahnya, jika ayahnya itu masih hidup.


Cukup berbasa-basi, Endro pun akhirnya menanyakan perihal ayahnya kepada polisi itu.


"Sebenarnya Pak Kamil tidak benar-benar dipenjara, Nak Endro. Kami tidak punya wewenang untuk menangkap orang yang tidak bersalah.


Beberapa hari setelah Pak Kamil dipanggil ke kantor polisi, mertua Pak Kamil kembali menghubungi kami. Beliau agaknya sudah tenang kala itu, dibandingkan ketika beliau pertama kali melaporkan Pak Kamil atas tuduhan melarikan anak gadis beliau.


Beliau mengakui hanya emosi sesaat karena merasa terpukul setelah kehilangan dua orang terkasihnya sekaligus. Beliau juga mengakui bahwa Pak Kamil adalah menantunya. Beliau akhirnya mencabut gugatannya dan meminta kami membebaskan Pak Kamil.


Saya masih ingat betul kisahnya. Karena saya menyaksikan sendiri drama kesedihan yang mereka tunjukkan kala itu. Cinta Pak Kamil yang begitu besar terhadap almarhum istrinya, sehingga dia sepanjang hari merasa bersalah dan tidak ingin dibebaskan.


Setahun kemudian. Kakak ipar Pak Kamil yang mungkin tidak mengetahui bahwa ibunya telah mencabut gugatan, juga melakukan hal yang sama. Tapi sayang, Pak Kamil masih frustasi.


Yang dipikirkannya hanya istrinya sepanjang hari.


Hingga empat tahun berlalu. Seorang ibu-ibu datang dengan membawa cucu laki-lakinya untuk menemui Pak Kamil. Di saat itu kembali terjadi keharuan. Ibu-ibu itu mengatakan bahwa anak laki-laki yang dibawanya itu adalah putra Pak Kamil yang dititipkan kepadanya.


Pak Kamil memeluk anak kecil itu dengan erat. Beliau menangis sejadi-jadinya dan mengatakan 'Ibumu sudah pergi meninggalkan kita, Nak...' Kami membujuknya untuk pulang dengan beralasan, kasihan putranya tanpa orang tua." Polisi itu berurai air mata menceritakan kisah Ayah Endro yang berada di dalam penjara atas keinginan dirinya sendiri.


Dia benar-benar menghayati bagaimana ia mengenang masa lalu Ayah Endro di penjara.


"Tapi... Ngomong-ngomong, kenapa Anda begitu tertarik dengan kisah Pak Kamil, Nak Endro. Apa Anda mengenali beliau?" Tanya polisi itu terlihat penasaran.


"Anak kecil yang dibawa ibu-ibu itu adalah saya, Pak... Saya anaknya Pak Kamil..." Ungkap Endro getir. Dia menitikkan air matanya mengingat bagaimana perjuangan ayahnya dalam membesarkannya seorang diri.


Polisi itu ternganga mendengar pengakuan Endro. Dia merasa tidak percaya akan hal yang baru saja didengarnya dari mulut lelaki muda di hadapannya saat itu.


"Ja-jadi Anda anaknya Pak Kamil, Nak Endro?" Tanya polisi itu lagi masih dalam keterkejutannya.

__ADS_1


Endro mengangguk pelan. "Terimakasih, Pak. Bapak sudah meluangkan waktu untuk menceritakan semua tentang ayah saya kala itu." Ucap Endro.


"Sama-sama, Nak Endro. Lalu bagaimana kabar Ayah Anda sekarang?"


"Beliau sudah meninggal tiga tahun yang lalu, pak. Beliau pernah meneriman cangkokan jantung beberapa tahun sebelumnya." Jawab Endro kembali berusaha tersenyum dengan kuatnya.


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..." Ucap Pak Polisi itu kembali terkejut mendengar kabar meninggalnya Ayah Endro.


*****


Endro memutar stirnya menuju kediaman Pak Arif. Orang yang baru-baru itu ia ketahui sebagai kakak kandung ibunya.


Di sana, di depan pagar rumah, ia menemukan Hanan, sepupunya baru saja pulang dari kantornya.


Mereka saling menatap dengan canggung untuk sesaat.


"Endro..." Akhirnya Hanan mulai menyapa terlebih dahulu.


"Hanan..." Sahut Endro membalas.


"Kamu ingin mampir?" Tanya Hanan masih terlihat canggung.


"Ada... Pasti ada... Ayo masuklah bersamaku. Dia pasti senang dengan kedatangan dirimu." Ujar Hanan mulai bersemangat. Mereka masuk ke dalam pekarangan rumah itu secara beriringan.


"Assalamu'alaikum..." Ucap Hanan ketika memasuki rumahnya. Endro masih saja dengan canggung berdiri di belakang Hanan.


"Wa'alaikumussalam... Eh... Papa udah pulang..." Sambut istri Hanan yang tengah menggandeng tangan mungil putra mereka.


"Hmm anak Papa wangi sekali, Sayang. Pasti sudah mandi ya..." Hanan mengajak putranya mengobrol kecil dengannya.


"Tudah Pappa..." Sahut si kecil.


"Kamu tahu nggak? Ada yang kangen kamu loh, Sayang." Ujar Hanan kepada putranya itu.


"Capa papa?" Putra Hanan mencoba mengintip ke belakang tubuhnya. "Pamaaan..." Teriaknya begitu girang ketika mendapati wajah Endro berdiri di belakang papanya.

__ADS_1


"Hy Nak..." Sapa Endro dengan tersenyum. Balita itu berlari menghampiri Endro dan minta digendong olehnya. "Oh ya, Sayang... Kita belum sempat kenalan, bukan? Nama kamu siapa?" Tanyanya begitu akrab.


"Al-la..." Sahutnya dengan lidah cadel khas suara balita pada umunya.


"Hah? Siapa-siapa?" Ulang Endro tidak mengerti dengan yang diucapkan anak kecil itu.


"Chandra, paman..." Mamanya, istri Hanan yang menyahut.


"Oh... Chandraaa." Endro sedikit terkekeh. Jawaban anak kecil itu jauh berbeda menurutnya.


"Paman Arif ada, Hanan?" Tanya Endro kemudian. Untuk pertama kali dirinya memanggil Paman untuk Pak Arif.


"Mungkin sebentar lagi papa pulang, End. Beliau pasti ke makam Nenek dan mamaku terlebih dahulu. Hampir sekali dalam seminggu beliau berkunjung kesana." Sahut Hanan. "Ayo duduklah..." Ajak Hanan lagi.


"Beberapa minggu semenjak kepergian Kakek dan bibi Lidya, Nenek minta pindah ke sini. Papa menurut. Papa menikah di kota ini hingga saya terlahir dan besar di sini.


Waktu itu saya terlalu sering memerhatikan foto bibi Lidya. Berpikir bahwa itu adalah foto mama saya. Karena, mama saya meninggal ketika melahirkan saya dahulunya. Kemudian ketika saya sudah SMA kala itu, Nenek menceritakan semuanya, End.


Ini semua bukan salah Nenek ataupun Papa saya. Mereka akan mencarimu dan menyayangimu jika mereka tahu bibi Lidya punya anak.


Papa akhir-akhir ini tampak tidak sehat karena terua memikirkanmu, End." Hanan bercerita panjang tanpa Endro minta. Tapi di dalam hati Endro, dia benar-benar butuh itu.


"Assalamu'alaikum..." Suara Pak Arif terdengar mengucapkan salam dari depan pintu utama.


"Wa'alaikumussalam..." Jawab mereka hampir bersamaan. Endro menurunkan Chandra kecil dari pangkuannya. Dia segera mendekat ke arah Pak Arif yang juga mendekat kepadanya.


"Endroo!" Panggil Pak Arif lirih. Matanya berkaca-kaca menatap pemuda di hadapannya saat itu.


"Paman..." Balas Endro. Pak Arif tersenyum girang mendengar Endro memanggil dirinya paman. Mereka sama-sama menghamburkan diri dan berpelukan melepas sesak di dalam dada mereka yang sempat berkecamuk beberapa minggu itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2