ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
AKU KETAHUAN, YA...?


__ADS_3

Benar... Dia adalah Mentari yang sama, dengan Mentari yang dikatakan Nini kala itu.


Anak angkat? Apa maksudnya dengan Mentari hanyalah anak angkatnya Pak Alex? Tapi, Mentari memangnya anak siapa yang diangkat anak oleh Pak Alex?


Dan, apa maksudnya selama ini mengataiku anak pungut, sementara dia sendiri bukanlah anak kandungnya Pak Alex?


Apa yang dia sembunyikan, sebenarnya?


Lonceng istirahat berdentang beberapa kali. Namun suara itu tidak membuat Endro bergeming dari duduknya. Dia terus saja menatap kosong pundak Mentari yang berada di depannya.


"Aku ketahuan ya...?" Ujar Mentari memecahkan kesunyian diantara mereka berdua. Ya, hanya mereka yang terlihat di ruangan itu. Dan Endro sama sekali tidak ngeh bahwa semua teman-teman sekelasnya telah berebut keluar untuk mengambil jam istirahat, kecuali Mentari.


Pertanyaan-pertanyaan yang menguasai benaknya tentang gadis di depannya itu, membuat dia mengabaikan dunianya.


"Apa?" Tanya Endro seraya menoleh ke kiri, kanan dan belakangnya.


"Dasar penguntit..." Maki Mentari lagi. Dia tidak menoleh kepada Endro yang diajaknya bicara. Mentari juga hanya menatap nanar ke arah depannya.


"Apa kamu bicara denganku?" Tanya Endro lagi setelah dia kembali menguasai dirinya.


"Memangnya, aku akan bicara dengan siapa lagi? Di ruangan ini, tidak ada orang lain selain kita berdua. Kamu dan aku." Ketus Mentari seraya mengangkat kursinya 180 derajat dan menghadap kepada Endro.


"M-maksud kamu, mengatakan aku penguntit apa?" Endro berubah gugup. Tatapannya menciut ketika Mata sayu Mentari menatap dalam manik matanya.


"Kamu pikir aku tidak tahu, hah? Kamu pengecut... Cuma beraninya bersembunyi di balik batu besar itu." Sungut gadis itu. Wajahnya masih memucat, dan tubuhnya masih terlihat begitu lemah.


Mata Endro membulat seketika. Jantungnya berdegup kencang mendengar ucapan Mentari yang begitu tiba-tiba. Dia benar-benar tidak menyadari, bahwa Mentari mengetahui dirinya berada disana sore itu.

__ADS_1


"La-lalu... Aku harus apa?" Endro semakin gugup.


"Aku pikir, kamu akan menjadi hero untukku. Sosok malaikat berwujud, yang akan menyelamatkan aku dari kekejaman manusia-manusia itu... Ternyata, tidak... Memang benar rupanya... Berharap kepada manusia, kita hanya akan menerima kekecewaan." Tutur Mentari dengan mata memerah.


Mentari memutar kursinya dan kembali memunggungi Endro.


"Suatu hari nanti, aku akan menjadi hero bagimu. Mengeluarkan kamu dari segala deritamu... Dan jika aku bisa, aku akan terus berada di sampingmu..." Ikrar Endro lirih.


"Omong kosong..." Ketus Mentari tanpa menoleh. Dia kembali menyembunyikan air matanya.


"Tidak...Aku akan membuktikannya kepadamu. Asal kamu memenuhi syarat dariku..." Ujar Endro mengajukan persyaratan.


"Syarat apa?" Mentari mengerinyitkan kedua alisnya.


"Jangan pernah menangis di belakangku..." Pinta Endro menyampaikan syaratnya.


"Biar aku tahu, kapan waktunya aku menyelamatkan dirimu..." Sahut Endro asal.


"Kamu akan melihat sisi terjelek dari diriku..." Ujar Mentari bersungut. Dia keberatan dengan permintaan Endro yang dirasa mustahil baginya.


"Justru... Berbohong mengenai perasaanmu, adalah hal terburuk dari dirimu, Mentari. Ingatlah... Banyak orang yang masih peduli denganmu. Dan kamu tidak perlu menyembunyikan itu semua dari mereka." Tutur Endro meyakinkannya.


"Aku akan usahakan..." Nada ketus masih terdengar dari suaranya. Meski dia yang memulai pembicaraan diantara mereka, namun Mentari masih terlihat gengsi untuk bersikap santai dengan Endro.


Endro tersenyum tipis, dia maklum dengan situasi saat itu. Mentari masih malu, pikirnya.


"Kenapa kamu tidak bertanya?" Mentari kembali bersuara.

__ADS_1


"Menanyakan apa?" Endro terlihat bingung.


"Tentang aku, setelah kamu melihat semuanya kala itu." Ujar Mentari menepis kebingungan yang dia yakini saat itu menghiasi wajah Endro.


"Aku bertanya kok..."


Mentari kembali membalikkan tubuhnya, tanpa memutar lagi kursi yang dia duduki. "Kapan? Aku tidak pernah mendengarnya..." Mentari terlihat mencoba mengingat-ingat.


"Setiap hari. Semenjak aku melihatmu dipukuli..." Endro menerawang. "Kamu tidak pernah memberitahukan kepadaku, atau kepada siapa pun kecuali Nini, bukan? Dan bahkan Nini pun tidak mau membaginya denganku.


Aku terus bertanya. Ada apa? Kenapa? Dan bagaimana keadaanmu selama kamu tidak hadir tanpa keterangan. Kamu mengacaukan seluruh adrenalinku. Kamu membuatku merasa bersalah setiap waktu, jika mengingat tentangmu."


Lonceng sekolah kembali berdentang menandakan waktu istirahat telah berakhir.


Mentari masih tertegun dalam posisinya mendengar penuturan Endro. Dia berusaha menapaki kejujuran yang tersirat di wajah lelaki itu.


Sesaat, dia kembali menemui alam sadarnya. Seluruh anggota di kelasnya telah kembali memenuhi ruangan itu. Namun mereka tidak menyadari, bahwa Murai di dalam kelas mereka telah bisu untuk menyinyiri si anak pungut yang mereka kenal. Mereka tidak menyadari, bahwa dua insan itu telah berani berbicara banyak dengan baik-baik di belakang mereka.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2