
Alex tidak akan berani memperlihatkan kekejaman dirinya terhadap Mentari di depan orang-orang. Apalagi jika sekolah Mentari mengetahui apa yang telah dilakukannya kepada Mentari.
Dia akan selalu mempertimbangkan egonya, jika itu berurusan dengan sekolahnya Mentari.
Kamu belum mengetahui dia sepenuhnya, Nak. Maka tunggulah sampai dia memberitahumu. Nini tidak ingin, dia menjadi takut untuk bercerita lagi dengan Nini. Kasihan dia...
Langkah kaki Endro mengendap-endap masuk ke ruang mesin ketik. Disana, dia mengetik sebuah surat, atas wajibnya partisipasi para siswa dan siswi kelas dua belas untuk mengikuti program perkemahan yang diadakan Sekolah mereka.
Seusai itu, Endro kembali ke dalam kelasnya yang masih sepi. Waktu baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi kala itu.
Dia pasti senang...~ Batin Endro sambil memandangi selembar kertas yang dipeganginya semenjak keluar dari ruang mesin ketik tadi.
Waktu terus berjalan, ruang kelasnya itu pun lambat laun dipenuhi siswa siswi lainnya.
Senyuman Endro merekah, sosok perempuan yang ditunggu-tunggunya datang. Namun, dia menyembunyikan kebahagiaannya itu dengan wajah datarnya.
Seperti biasa, wajah pucat dan tubuh yang lelah terpancar di sorot matanya Mentari yang sayu.
"Ada apa denganmu?" Tanya Mentari sedikit berbisik kepada Endro dari bangkunya.
"Jangan lihat kesini, lihatlah ke depan. Sebentar lagi guru masuk..." Tegur Endro tak bermimik sama sekali.
"Siap bos..." Bisik Mentari lagi seraya memutar tubuhnya.
Mentari tampak tidak fokus saat itu. Dia merasa ada yang aneh dengan Endro. Tidak biasanya lelaki itu mengabaikannya, meski dalam jam pelajaran sekalipun.
Semenjak mereka berteman, Endro akan memulai hari mereka dengan bertanya 'Kamu baik-baik saja?' Tapi tidak untuk hari itu. Endro seakan mengabaikan dirinya.
Pada jam istirahat pun, biasanya Endro akan membiarkan kelasnya sepi terlebih dahulu. Maka, barulah dia menggenggam lengan Mentari, dan membawanya pergi ke tempat persembunyian mereka di belakang gedung sekolah itu.
Namun, berbeda dengan kali itu. Endro bahkan berlarian lebih awal meninggalkan kelas mereka ketika bunyi lonceng berdentang baru sekali saja.
"Ada apa dengannya? Apa dia sudah bosan bersamaku?" Pikir Mentari. Matanya berkaca-kaca mengenang sikap tidak acuhnya lelaki itu terhadap dirinya.
__ADS_1
Hingga jam pelajaran hari itu pun usai. Endro kembali berlarian keluar terlebih dahulu. Hal itu semakin membuat Mentari bertanya-tanya.
*****
Mentari melangkah gontai menyisiri jalanan di bawah terik matahari. Sikap acuh tak acuh Endro membuatnya tampak berpikir keras. Bahkan, tidak biasanya Mentari pulang sendirian semenjak melakukan perdamaian dengan lelaki itu.
"Heeeyyy..." Suara menggelegar dari arah belakangnya dengan tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.
"Ka-kamu?" Teriak Mentari kesal.
"Aku sudah pernah peringatkan, kalau jalan itu jangan sambil melamun. Nanti kamu kesandung bagaimana?" Ujarnya keras.
"Kamu masih ingat denganku?" Tanya mentari berusaha mengabaikan Endro.
"Memangnya aku akan melupakanmu?" Endro mengerinyitkan alisnya.
"Mana tahu?" Ketus Mentari kesal. Dia kembali melanjutkan langkahnya.
Mata gadis itu membulat seketika. Bahkan mulutnya sempat ternganga mendengar ucapan Endro. Pipinya memerah. Dia malu. Ucapan Endro bagai mengatai dirinya.
"Heeeyyyy... Maksud kamu apaa?" Teriaknya berapi-api. Mentari kembali ke belakang, dan memukuli pundak Endro berkali-kali dengan buku-bukunya.
"Ampun... Ampun... Aku hanya bercanda..." Ringis Endro seraya melindungi tubuhnya dari setiap pukulan Mentari dengan lengannya.
"Dasar... Apa kamu pikir aku ini posesif?" Dengus Mentari.
"Aku tidak mengatakannya. Kamu sendiri yang mengakuinya." Seringai Endro seraya mengambil langkah seribu.
"Eendroooo..." Teriak Mentari semakin geram.Dia berusaha lari sekencang-kencangnya mengejar lelaki itu.
"Sudah... Sudah... Hentikan..." Endro tersengal-sengal. "Aku sudah tidak kuat lagi berlari..." Akunya menyerah. Padahal, itu bukanlah yang sebenarnya. Kegigihan gadis itulah yang membuat kakinya berhenti berlari.
Dia tidak ingin Mentarinya kelelahan, sementara penderitaan menunggu gadis itu.
__ADS_1
"Masih ingin menggodaku?" Dengus Mentari.
"Tidak Mentari..." Sahutnya terlihat pasrah.
"Awas saja. Kalau kamu ulangi, aku akan membunuhmu." Mentari berlagak mengancam. Jemarinya tak henti meremas lengan baju Endro. Tangan gadis itu terlihat menggigil.
"Mentari... Kamu baik-baik saja, kan?" Endro langsung panik. Dia merangkul tubuh gadis itu, dan dengan perlahan mendudukkannya di rerumputan pinggiran jalan.
Bibir Mentari terlihat kering dan wajahnya memucat. Keringat bercucuran deras dari kulit tipisnya itu.
"A-aku minta maaf Mentari..." Ujar Endro semakin panik. Dia segera membuka tasnya, dan mengambil air minumnya yang masih sedikit tersisa. Kemudian, Endro meminumkannya ke dalam mulut Mentari sampai habis.
"Ayo Mentari. Telan..." Pintanya memohon.
Mentari berusaha untuk itu. Dia menelan habis air minum yang menggenang di dalam mulutnya dengan perlahan. Nafasnya kembali normal seketika.
"Kamu membuatku khawatir, Mentari." Ujar Endro lega.
Mentari tersenyum. "Aku bahkan bukan pacarmu..."
"Tapi kamu calon istriku." Balas Endro dengan percaya diri.
"Huuu." Sorak Mentari seraya melayangkan kepalan tangannya ke lengan Endro. Wajahnya pun berubah merona.
.
.
.
.
.
__ADS_1