ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
HUBUNGAN HALAL


__ADS_3

Hari kebebasan, itulah yang dirasakan oleh Mentari semenjak dia Shah menjadi istrinya Endro. penderitaan itu benar-benar telah lenyap dari hidupnya.


Sesuai janji, malam itu Endro tidak membiarkan Mentari tertidur lebih dahulu. Meskipun Mentari telah berusaha untuk Berpura-pura tidur sebelum kedatangan Endro ke dalam kamar mereka.


"Mentari..." Panggil Endro setengah berbisik sambil menggoyangkan tubuh istrinya itu. "Kita main yuk..."


"Ummm... Main apa sih malam-malam begini?" Sungut Mentari tanpa mau membuka matanya.


"Main bola..." Jawab Endro asal.


"Haah... Main bola? Bagaimana caranya?" Mentari terduduk. Dia menatap bingung wajah Endro yang tampak menyeringai karena telah berhasil membangunkannya.


"Kamu gawangnya... Aku bolanya..." Sahut Endro tampak begitu nakal malam itu.


"Jangan aneh-aneh deh, kamu. Main bola itu ada sebelas orang satu timnya. Dan kita cuma berdua. Di kamar lagi..." Ujar Mentari menggeleng-gelengkan kepalanya menolak ajakan Endro.


"Mentari..." Panggil Endro lagi.


"Jangan aneh-aneh..." Ujar Mentari sembari melambai-lambaikan jemari telunjuknya ke depan wajah Endro. Dia kembali membaringkan tubuhnya dan bersiap untuk pura-pura tidur lagi sampai benar-benar ketiduran, pikirnya.


Endro tak kehabisan akal. Dia mencoba cara lain untuk membuat Mentari tidak tertidur.


" Ya ampun Bagaimana mungkin tikus bisa masuk ke kamar ini, ya?" Gumam Endro dengan sengaja mengeraskan suaranya agar Mentari bangkit dari tidurnya. sayangnya Mentari tidak mudah terbangun dari kepura-puraannya, karena memang dia sendiri tidak takut dengan tikus.


A**pa??? Dia bahkan tidak bergeming sama sekali. Apa mungkin dia sungguh telah tertidur?


Ah tidak... tidak... tidak... Dia kan baru saja berbaring.


Mungkin saja, dia tidak takut tikus. Secara... dia kan sudah terbiasa tidur di kandang dan pergi ke kebun.

__ADS_1


Ide jahil muncul di benak Endro. Dia melihat sebuah lentera kaleng yang sudah lama tidak terpakai di atas lemari kamar itu. Dengan mengendap-endap, Endro mengambil lentera untuk dihempaskannya ke lantai.


Dia berniat mengejutkan Mentari yang dia tahu begitu takut dengan petir.


Belum saja dia melakukan aksinya, ternyata alam semakin mempermudah pekerjaannya. Tiba-tiba guruh datang dan terdengar menggelegar.


"Aaaaa..." Mentari menjerit. Dia bangkit dan berlari kearah Endro.


Meski Mentari telah menyerah, namun Endro malah ternganga dibuatnya. Dia juga ikut terkejut dengan apa yang terjadi.


Apa langit tahu?~ Batin Endro bergidik ngeri merasakan suasana yang sebenarnya terlihat menggelikan.


Dia tidak menyangka, keinginannya sukses tanpa usaha kali itu.


"Sudah ku bilang, kan. Kamu tidak boleh tidur dulu." Goda Endro setelah dirasa hatinya mulai tenang.


"Loh... Kok aku yang genit? Bukannya kamu yang tiba-tiba datang buat meluk aku?" Balas Endro sambil terkekeh.


"Iya... Itu kan karena ada petir. Lagian kamu ngomongnya kayak gitu."


"Kayak gimana emang?"


"Genit..." Mentari Bersungut hendak kembali ke tempat tidur. Namun cahaya kilat kembali menembus kaca jendela kamar mereka.


Karena melihat itu, Endro berinisiatif sendiri menarik lengan Mentari dan mendekap tubuh istrinya agar tidak terlalu ketakutan jika mendengar suara guruh lagi.


"Sudah ku bilang. Kalau takut, dalam pelukan aku saja. Untuk apa Allah kasih aku kepadamu, jika kamu sia-siakan saja tempat ternyaman mu ini?" Bisik Endro pelan ke telinga Mentari.


"Dasar genit..." Ujar Mentari semakin mempererat dekapannya.

__ADS_1


"Hemm... Bilangnya aku genit, tapi kok pelukannya semakin kencang ya?" Ledek Endro.


"Endro..." Panggil Mentari lirih mengabaikan godaan suaminya itu.


"Humm?" Sahutan Endro tampak mulai serius mengikuti nada suara istrinya. Dia menempelkan pipinya ke kepala Mentari, membiarkan istrinya tetap merasakan kenyamanan bersamanya.


"Apa kamu ingat? Dulu aku menyukaimu, kan?"


Endro terdiam. Dia ingat, bahkan ketika itu dia hanya diam mendengar pengakuan Mentari kepadanya.


"Dan sekarang, perasaan itu menjelma menjadi sesuatu yang lebih besar. Hanya saja, aku tidak yakin dengan sebutan apa yang cocok untuk perasaan ini. Apakah mungkin, ini yang namanya cinta?" Mentari takut menatap wajah Endro setelah mengungkapkan perasaannya. Dia semakin menyembunyikan wajahnya ke dalam dada suaminya yang bidang.


Dan kali itu pun, Endro tetap tidak bergeming sekalipun. Namun, sikapnya jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Bukan dia berniat memberikan kebahagiaan kepada istrinya dengan cara kebongan. Hanya saja, dia lebih memilih untuk belajar mencintai yang satu di hadapannya beriring melupakan yang lain di belakang istrinya.


Endro mengeluarkan tubuh Mentari dari dalam dekapannya. Dia mengambil dagu Mentari dan menghadapkan wajah cantik istrinya itu ke wajahnya.


Pelan-pelan, Endro mendekatkan bibirnya ke bibir tipis Mentari. Dan istrinya yang polos itu menerima dengan keluguannya.


Perasaan Mentari semakin tak tergambarkan. Dia benar-benar berada dalam surganya malam itu. Hujan petir bagai tak terdengar olehnya. Menyatu dalam teriakan pertama Mentari dan desahan halus dari mulut mereka, ketika tubuhnya telah menjadi santapan percintaan dalam hubungan halal mereka untuk yang pertama kalinya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2