ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
TENTANG MENTARI


__ADS_3

Kepulangan Endro dari perkemahan, tampak merubah dirinya di mata sang Ayah. Dia jadi pendiam meski berkali-kali ayahnya bertanya.


"Apa penunggu daerah perbatasan itu menegurmu, End?" Tanya Kamil serasa lelah diabaikan sang putra.


"Oh.. Eh... Memangnya kenapa, Yah?" Endro gugup, dan kembali bertanya.


"Kamu menjadi pendiam, tak berselera dan suka melamun." Ketus Kamil.


"Endro hanya kepikiran dengan Mentari, Yah." Ungkapnya.


"Mentari? Apa Mentari anaknya Alex?" Tanya Kamil bingung.


"Iya, Yah..."


"Ada apa lagi dengan dirinya? Apa dia masih suka mengataimu anak pungut?" Terka Kamil.


"Tidak, Yah... Kasihan dia."


"Kasihan? Kasihan bagaimana? Bukankah kamu suka kesal terhadap gadis usil itu?" Kamil menekan kata-katanya, agar Endro kembali mengingat bagaimana dia mengadukan kelakuan gadis itu terhadapnya pada masa sebelumnya.


"Ayah tahu, kalau Mentari hanyalah anak angkatnya Pak Alex?" Tanya Endro menatap Kamil penuh tanda tanya.


"Hahh? Anak angkat?" Kamil tercengang. "Kamu jngan asal bicara, Endro. Nanti jika ada yang dengar bagaimana?" Kamil terlihat was-was.


"Mentari sendiri yang mengakuinya, Yah." Ujar Endro. Tatapan matanya nanar. Dia kembali teringat akan waktu, dimana dia melihat gadis itu dipukuli Alex.


"Sebelumnya, Mentari pernah pingsan. Dan Endro sendiri yang membawanya ke tempat Nini. Dia dijemput oleh keluarganya kesana. Dan Nini mengatakan, bahwa Mentari hanyalah anak angkatnya Pak Alex karena tidak tahan melihat Pak Alex menarik paksa Mentari untuk pulang. Nini seakan mengetahui semua penderitaan Mentari, Yah..."


Kamil tampak terpukul mendengar cerita Endro.

__ADS_1


"Bahkan setelah itu, Endro melihat Mentari dipukuli oleh bapaknya tanpa ampun. Kasihan Mentari, Yah..." Mata Endro tampak berkaca-kaca menceritakan nasib gadis itu kepada ayahnya.


"Lalu?" Kamil semakin penasaran. Ya, karena dia adalah sosok Ayah yang sangat penyayang.


"Entahlah, Yah... Entah apa yang akan terjadi kepadanya, apalagi di musim penghujan seperti saat ini. Dia takut petir, Yah..." Ujar Endro pasrah. Namun pikirannya tak juga lepas dari bayangan gadis itu.


"Bagaimana caranya, agar Endro bisa menyelamatkannya, Ayah? Endro pikir, kisah seperti itu hanya ada di film-film saja. Tapi Endro melihatnya dengan mata kepala Endro sendiri. Dia selalu berwajah pucat. Tubuhnya sering lebam-lebam.


Dia tampak lelah, Ayah..."


"Alex itu orangnya terkenal kasar di wilayah ini, End. Tapi tidak ada yang tahu, bahwa Mentari hanyalah anak angkatnya.


Dulu dia pernah dipenjara karena perkara tanah pusaka. Keluarganya melaporkan dia atas tuduhan pemalsuan sertifikat tanah peninggalan kakeknya. Sedangkan Lita, istriya. Dia pergi bekerja jadi pembantu di kota lain. Waktu itu, Juwita masih berusia dua tahunan.


Dan sebelas tahun kemudiannya, dia kembali kesini dengan dua anak perempuan.


"Tidak, Yah. Mereka pasti berbohong demi bisa menguasai harta peninggalan orang tuanya Mentari.


Mentari bilang, Bi Lita adalah pembantunya. Karena orang tuanya meninggal saat kecelakaan, sementara ia tidak punya siapa-siapa lagi. Maka dia diasuh oleh Bi Lita. Mentari tidak ingin dimasukkan ke panti asuhan, Yah. Itulah mengapa Mentari rela disiksa oleh mereka.


Ketika Mentari genap berusia tujuh belas tahun, Mentari dipaksa untuk menandatangani pengalihan harta peninggalan orang tuanya kepada Bi Lita. Sehingga dia benar-benar tidak bisa lepas dari kekejaman mereka." Endro menceritakan apa saja yang dia ketahui tentang gadis itu kepada Ayahnya.


"Jika dia anak angkat, kenapa dia mengataimu anak pungut?" Tanya Kamil semakin bingung.


"Karena Ayah..." Sahut Endro.


"Hah?"


"Dia pernah melihat kita beberapa kali. Katanya, dia ingin punya Ayah seperti Ayah. Dia melihat Ayah begitu menyayangiku. Dia iri."

__ADS_1


"Tapi kenapa harus mengataimu seperti itu?" Kamil semakin dibuat tidak mengerti oleh penjelasan putranya.


"Dia iri, Yah. Dan dia juga gengsi. Dia berpikir, aku saja yang tidak punya ibu tapi punya Ayah yang baik. Kehidupan aku bahagia, menurutnya.


Dia ingin mengenal Ayah. Dia juga ingin merasakan kasih sayang dari Ayah." Ujar Endro. Dia kembali teringat akan keinginan Mentari malam itu.


"Kapan-kapan, bawalah dia kesini, End."


"Tidak, Yah..." Elak Endro.


"Loh, kenapa?" Kamil tampak mengerinyitkan dahinya. Dia menatap bingung dengan tingkah Endro.


"Itu sama saja dengan Endro menggali kubur untuknya..."


"Apa?" Mata Kamil terbelalak mendengar pengakuan Endro.


"Jika Pak Alex dan keluarganya tahu, dia akan menghukum Mentari, Yah. Pak Alex akan memukuli Mentari lagi tanpa ampun." Ujar Endro. Dia terlihat merinding jika mengingat itu kembali.


Kamil termangu. Dia menapaki ketulusan dari raut wajah putranya itu. Tulus dalam mencemaskan gadis yang dikenalinya sebagai putri Alex. Kamil menatap iba putranya, yang mungkin tidak hanya merasa kasihan kepada Mentari. Tetapi lebih dari itu, perasaan tulus seorang pria kepada wanita.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2