ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
BUNDAMU DAN MENTARI


__ADS_3

Matahari hanya menyisahkah setengah badannya senja itu. Dan sebagiannya telah temggelam di ufuk barat. Manusia-manusia yang juga berada di tepian danau, sedikit demi sedikit menghilang dari sana.


Air mata gadis tujuh belas tahunan itu mengalir tanpa bisa dihentikan. Telinganya tak lelah mendengar setiap cerita dari lelaki paruh baya di sampingnya. Dia hanyut dalam kisah perempuan yang telah almarhum di dunia, ya Mentarinya Endro.


Endro menunduk. Dia kembali menghela nafasnya sepanjang mungkin. Ingatan itu bagai perekat yang membuatnya terus menempel dengan masa lalunya.


Terasa begitu menyakitkan baginya. Hanya saja, dia tak selemah dulu lagi. Dia sudah mampu menahan air matanya agar tidak keluar begitu saja.


"Tempat ini, terlalu bersejarah untuk Om lupakan. Mentari sangat menyukai tempat ini. Bahkan dia begitu memercayai pohon ini untuk menyimpan privasinya. Ah, Om begitu iri." Sambung Endro dengan senyuman yang masih terlihat getir di bibirnya itu.


"Pantas saja ya, Om. Ayah sempat cemburu terhadap, Om" Ujar Nummi terlihat menerawang.


"Haa... Benar sekali." Endro membenarkan ucapan gadis itu.


"Ternyata, Bibi Mentari benar-benar mirip seperti Bunda. Suka menulis surat untuk ayah, tanpa mengirimkannya. Ayah bilang, Bunda juga menyimpannya di pohon yang tumbuh di tepian telaga.


Beruntung Om menemukannya, dan mempersatukan Ayah dan Bunda melalui itu.


Dan juga, kata ayah, Ayah sampai salah sangka sama Om mengenai lagu itu. Benar begitu, Om?" Tanya Nummi memastikan.


"Benar sekali... Ayahmu itu, tidak pernah jujur kepada Om. Dia hanya menyimpulkan dari apa yang dia lihat, tanpa memastikan kebenarannya terlebih dahulu." Ujar Endro menyahuti pertanyaan Nummi.


"Tapi kata Ayah lagi, Ayah cuma tidak mau merusak hubungan Om sama Bunda. Makanya Ayah tidak mau memberitahukan bahwa Bundalah perempuan yang dicari-cari Ayah." Nummi terlihat bingung dengan kisah rumit diantara orang tuanya dan lelaki paruh baya itu.


"Meski begitu, seharusnya Ayahmu tetap memberitahukan kepada Om, bahwa perempuan yang dicarinya itu adalah Bundamu. Kalau ia atau tidak Om dan Bundamu punya hubungan, kesalah pahaman tidak akan terjadi diantara kami." Endro terlihat mengucilkan Ayahnya Nummi. Lelaki yang sebenarnya tidak ada bersama mereka kala itu.

__ADS_1


Endro hanya berusaha membela diri di depan gadis yang telah mengerti bagaimana menilai kebenaran sesuatu. Dia juga tidak ingin Nummi merasa bingung dengan hubungan antara dirinya dan Desri di masa lalu.


"Hummm... Om benar. Kalau ia pun, Om punya hubungan dengan Bunda, Ayah tetap harus jujur sebelum-sebelumnya. Ayah harus berusaha menghilangkan Bunda dari hatinya, dan merelakan Bunda bersama Om. Tapi jika tidak, Ayah juga tidak akan sampai menghadapi skandal dengan Bibi Melani." Nummi mangut-mangut. Dia seolah paham akan maksud dari perkataan Endro.


"Nah, betul... Ayahmu dulu masih kekanak-kanakan di usianya segitu. Maka karena itulah Om sangat marah terhadapnya. Om kecewa, karena Om melihat dia seakan menyia-nyiakan sosok Mentari yang menjelama menjadi Bundamu.


Om sampai kewalahan melihat tingkah anehnya. Tapi, semenjak dia menikah dengan Bundamu. Om seakan menemukan Arkhan yang baru dalam dirinya." Ujar Endro. Dia tersenyum menerawang masa lalunya.


"Om baik..." Ungkap Nummi menatap wajah lelaki paruh baya di sampingnya itu.


"Hah?" Endro terpana. Ya, sosok Desri muda berada di hadapannya. Membuat jantungnya kembali berdegup mengingat pertama kali Desri mempertanyakan perasaannya. 'Endro, apa kamu menyukaiku?'.


"Om..." Nummi menghancurkan kembali lamunannya.


"Humm..." Sahut Endro gelagapan.


"Memangnya kenapa, Sayang?" Tanya Endro kembali normal.


"Jika Nummi punya usia yang panjang, Nummi ingin menikah dengan lelaki sebaik Om. Karena setiap kali Ayah bercerita. Maka Nummi akan membayangkan Om itu seperti jo jung-suk di drama Korea The King 2 Hearts. Sosok yang kalem, baik, pokoknya persis deh sama Om." Nummi terlihat begitu tergila-gila menceritakan aktor itu.


"Hmm... Kamu terlalu berlebihan." Dengus Endro tersipu.


"Ih... Beneran loh Om." Sungut Nummi.


"Sejak kapan kamu suka nonton Drama Korea, hmm?"

__ADS_1


"Baru-baru ini kok, Om. Baru dibolehin juga sama Bunda."


"Baguslah kalau begitu. Kamu masih kecil, Nak." Ujar Endro mengingatkan.


"Iya Om. Nummi mengerti. Itu pun Bibi Yuni yang pilihin kok, Om. kami nonton bareng, dan Nummi suka..." Ujarnya.


"Kamu sudah punya pacar?" Tanya Endro lagi.


"Hahh? Om ada-ada saja. Mana ada! Nummi jelas-jelas ingin seperti Bunda..." Sungutnya.


"Mana tahu saja kamu berubah pikiran." Ujar Endro menyeringai. "Ya sudah... Kalau gitu kita pulang ya, Sayang. Nanti malam akan Om lanjutkan lagi."


"Beneran, Om?" Nummi terkejut mendengar janji lelaki paruh baya itu.


"Iya, Nak. Kebetulan, besok Om hanya ke pabrik saja. Tidak terlalu banyak pekerjaan." Ujar Endro yakin.


"Kalau gitu, ayo Om. Nummi sudah tidak sabaran." Nummi bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah mobil Endro terparkir.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2