
Ketika air matamu jatuh dan membasahi bajuku, aku pikir aku hanya akan menunggunya sampai ia kering. Tetapi tidak, air matamu bahkan menjelma menjadi lautan yang mengerikan.
Dia mengirim ombak yang menghempas bebatuan pantai dan menerpa tubuhku, hingga menusuk relung hatiku.
Ketika ombak yang tidak dapat berhenti dan langkahku pun sempat terhenti, bagaimana mungkin aku harus pergi?
Aku kehilangan pandanganku. Walaupun aku ingin lari darimu, namun kau tetap tinggal di dalam pikiranku, dan membuatku ingin terus bertahan di sisimu.
Aku ingin melindungimu, membebaskanmu dari belenggu neraka dunia itu. Dan aku akan memperlakukanmu dengan baik, karena aku yakin aku akan mampu mencintaimu setelah ini, tanpa karena ada rasa kasihan.
Endro memapah tubuh lemah Mentari ke dalam mobilnya. Disana telah menunggu dengan harap-harap cemas Ayahnya beserta Nini.
Kamil dan Nini begitu terharu melihat keberhasilan Endro yang telah mampu membawa Mentari keluar dari rumah itu.
Mereka juga penasaran. Apa yang dilakukan Endro sehingga Alex pun tidak mampu mencegatnya membawa Mentari.
Sesampainya mereka di dalam mobil, Nini memeluk Mentari dengan erat. Mereka menyempatkan diri untuk bertangis-tangisan terlebih dahulu sebelum mobil itu pergi meninggalkan pekarangan rumah kediaman Alex dan keluarganya.
Mereka tidak menyadari, sepasang mata Alex mengintai kepergian mereka. Ada seringai licik tergambar di wajah Alex yang garang. Entah apa yang dia pikirkan, yang paling jelas tidak menguntungkan untuk Mentari dan Endro.
Hah... Entahlah.
*****
__ADS_1
Sudah beberapa hari Alex membiarkan Mentari dibawa oleh Endro, dan itu sama sekali tidak membuat Endro curiga. Dia hanya berfikir kalau Alex dan keluarganya takut, jika ia melaporkan mereka ke kantor polisi.
Tapi dugaan Endro salah. Alex telah lebih dahulu melaporkan dirinya atas tuduhan membawa kabur anak gadis orang.
Alex datang ke kediaman Kamil dengan membawa polisi bersamanya. Kamil terperangah, hal yang ditakutkannya terjadi. Dia lebih mengenal sosok Alex yang licik, sedangkan Endro sama sekali tidak mengetahui itu.
"Bapaak... Apa-apaan ini, Pak?" Pekik Mentari ketika melihat Alex bersama polisi yang hendak membawa Endro.
"Mentari? Ternyata benar kamu disini, Nak?" Alex menghampiri Mentari dan memeluknya. Hal itu membuat Mentari mendadak heran. Dia kebingungan dengan perubahan sikap bapak angkatnya itu.
Tapi tidak dengan Endro. Dia begitu jijik melihat melodrama yang diciptakan Alex. Ya, saat itu Alex hanya berpura-pura di hadapan aparat yang berseragam coklat itu. Segala cara dia lakukan untuk mendapatkan kembali Mentari.
"Tenang ya, Nak. Kamu tidak usah khawatir. Kamu bisa pulang bersama bapak ke rumah kita. Lelaki ini akan dimasukkan ke dalam penjara karena telah berani membawa kabur kamu, Nak." Ujar Alex.
"A-apa? Kantor polisi?" Mentari kembali tercengang mendengar penuturan Alex.
Mentari tidak berkutik mendengar ancaman Alex.
"Di-dia tidak membawa kabur saya, Pak. Sa-saya yang mengejar-ngejar dia. Saya menyukai dia, Pak. Jangan tangkap dia." Meski tidak memberitahukan permasalahan yang sebenarnya, tetapi Mentari juga tidak bisa membiarkan Endro dibawa ke kantor polisi.
Alex memasang wajah geram. Dia marah dengan penuturan Mentari. Alih-alih ingin balas dendam terhadap Endro, malah dibuat gigit bibir oleh pengakuan Mentari kepada polisi.
"Mentari... Kamu tidak perlu takut kepada mereka, Nak. Apa mereka mengancammu?" Alex menekan ucapannya sambil terus meremas lengan Mentari dengan begitu kuat.
__ADS_1
"Tidak, Pak. Mentari benar-benar mencintai, Endro. Sedari dulu. Semenjak kami masih sekolah di SMA."Ujar Mentari. Dia hanya terus menahan rasa sakit di lengannya.
Endro tertegun, dia tahu yang diucapkan Mentari adalah sebuah kebenaran. Dia masih ingat bahwa gadis itu pernah mengungkapkan perasaan sukanya kala itu.
Tapi untuk kali itu, Mentari harus kehabisan harga diri demi melindungi Endro. Mengungkapkan perasaannya di depan orang banyak.
"Jangan bawa dia, Pak. Jangan..." Tangis Mentari pecah.
"Mentariii..." Hardik Alex. Dia benar-benar geram mendengar pengakuan Mentari. Acara balas dendamnya dan rencana ingin memperlihatkan bagaimana kejamnya dia di depan Endro, Kamil dan Nini pun gagal.
"Jadi ini hanya sebatas kesalah pahaman, Pak Alex?." Tanya salah seorang diantara polisi.
"Ti-tidak mungkin, Pak. Pasti putri saya diancam oleh mereka." Ujar Alex kembali meyakinkan polisi.
"Tapi kami melihat kesungguhan dari wajah putri, Bapak. Sebaiknya Bapak nikahkan saja mereka." Ujar polisi itu lagi.
"Me-menikah?" Mentari mengerinyitkan alisnya. Sesaat, dia memandang ragu ke arah Endro yang sedari tadi hanya diam di posisinya.
"Bagaimana, anak muda? Apa kamu bersedia menikahinya?" Tanya polisi itu lagi kepada Endro. "Kami tidak mungkin menangkapmu tanpa bukti bahwa kamu bersalah."
"Saya bersedia menikahinya, Pak." Sahut Endro yakin, tapi tatapannya tidak berhenti mengarah kepada wajah Mentari yang bersemu merah.
Kamil ikut terkejut mendengar jawaban Endro. Dia bahkan memutuskan tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kalau begitu tugas kami selesai. Lain kali Pak Alex, jangan bawa-bawa polisi lagi jika kasusnya percintaan seperti ini. Kami sudah tidak muda lagi." Ujar polisi. Mereka berpamitan setelah meminta maaf kepada Endro dan Ayahnya atas ketidaknyamanan mereka.
Alex kalah. Dia semakin marah karena merasa terhina oleh ucapan Polisi tentang laporannya hanya sebuah olok-olok semata.