ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
TAWARAN


__ADS_3

Sesuai permintaan Endro, pada hari itu Ridwan Ghani bermalam kembali di sana.


Hari berganti, pagi-pagi sekali Ridwan Ghani telah bersiap untuk berangkat kembali ke kotanya. Pastinya setelah ia memastikan keadaan Endro dan ayahnya baik-baik saja pagi itu.


"Terima kasih, tuan. Saya benar-benar berhutang budi pada tuan." Ucap Endro merendah.


"Tidak masalah, nak. Yang harus dan wajib untuk kamu ingat adalah, kamu harus segera menghubungi saya apabila kamu butuh bantuan. Ingat...! Kamu bahkan sudah menyimpan kartu nama saya, bukan?" Ujar Ridwan wanti-wanti.


"Baik, tuan. Saya pasti akan selalu mengingat Tuan. Susah atau pun senang." Sahut Endro.


"Ya sudah. Kalau begitu, Titip salam buat ayah mu. Saya tidak enak membangunkannya, apalagi kondisi ayahmu belum cukup baik 'kan?" Ucap Ridwan lagi kepada Endro. "Bu... Saya pulang dulu. Tolong ibu Ingatkan, Nak Endro agar segera menghubungi saya Apabila ada perlu sesuatu." Pamitnya kepada Nini yang juga berdiri di sana melepas Ridwan Ghani.


"Baik, tuan. Saya juga berterima kasih atas kebaikan Tuan. Walau bagaimanapun, mereka sudah seperti keluarga saya sendiri." Ujar Nini sambil menahan tangis Haru.


"Dan juga Bu, tolong jaga mereka. Insya Allah, saya akan berkunjung kembali di lain waktu." Ucap Ridwan kemudian sambil menyalami Nini.


"Baik tuan." Angguk Nini mengiakan permintaan Ridwan.


"Assalamualaikum..." Ucap Ridwan seraya pergi meninggalkan Nini Dan Endro.


"Wa'alaikumussalam..." Sahut Mereka bersamaan.

__ADS_1


*****


Sejak saat itu, Ridwan Ghani selalu mengunjungi mereka. Meski hanya sekedar untuk melihat keadaan Kamil, Ayah Endro.


Suatu hari, Ayah Endro kembali menjalani rawat inap di rumah sakit. Penyakit jantungnya semakin parah. Dia mengalami kerusakan pembuluh koroner. Sementara itu, hasil keringat Endro tidak mampu menutupi biaya pengobatan Ayahnya.


Lagi-lagi, Ridwan membantunya. Memberikan pertolongan untuk dirinya.


"Kamu perlu berapa, Nak?" Tanya Ridwan ketika mengetahui Endro membutuhkan biaya rumah sakit Kamil.


"Sa-saya tidak bisa, Tuan. Selama ini, saya sudah banyak merepotkan Tuan." Tolak Endro merasa tidak enakan.


"Saya 'kan sudah bilang sama kamu. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu harus segera hubungi saya." Tutur Ridwan terlihat kecewa atas penolakan Endro.


"Jangan ada kata tapi-tapian. Saya tidak menyukai itu... Jika kamu merasa sungkan, sebagai gantinya kamu bekerja saja dengan saya." Potong Ridwan cepat.


"Be-benarkah, Tuan?" Tanya Endro tampak berbinar. Dia begitu senang mendengar ucapan Ridwan yang menawarkan pekerjaan untuknya sebagai ganti belas jasa yang telah diperbuat lelaki paruh baya itu.


"Iya... Kamu mau bekerja apa pun, saya akan terima kamu." Angguk Ridwan membenarkan.


"Saya tidak bisa apa-apa, Tuan. Saya bahkan tidak menyelesaikan kuliah saya." Ujar Endro kembali murung.

__ADS_1


"Putra saya satu-satunya pasti membutuhkanmu, Nak. Dia anak yang manja, sama seperti adik perempuannya. Anak saya sepasang di rumah. Mereka anak-anak yang baik juga, hanya saja mereka belum dewasa. Saya ingin putra dan putri saya sepertimu. Kamu bisa bantu mereka. Ada di samping merekalah yang saya butuhkan." Ujar Ridwan memberi solusi.


"Jadi pengawal mereka, Tuan?" Tanya Endro bingung.


"Apa pun namanya bagimu. Bagi saya, anggap mereka sebagai saudaramu. Keluargaku menjadi keluargamu." Tutur Ridwan.


"Terima kasih, Tuan. Saya akan bicarakan ini kepada Ayah dan Nini terlebih dahulu." Ujar Endro tampak kembali berbinar. Dia begitu senang seakan benar-benar memperoleh pekerjaan setelah sekian banyak mencoba melamar.


"Bicarakanlah... Saya harap mereka tidak keberatan dan menyetujuinya." Sahut Ridwan sembari menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah... Saya hari ini pamit dulu. Jika nanti keputusannya kamu menerima tawaran saya, kamu langsung saja datang ke alamat ini." Ujar Ridwan seraya menyerahkan secarik kertas yang bertuliskan alamatnya.


"Baik, Tuan... Sekali lagi, terima kasih tuan..." Ucap Endro tampak begitu senang setelah menerima kertas itu.


Ridwan kembali meninggalkan Endro sendiri di rumah sakit, karena hari itu ayahnya kembali di rawat. Endro memandangi kertas yang berisikan alamat Ridwan dengan seksama. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu, karena wajahnya tak berubah sedikit pun. Masih sama, sendu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2