ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
KERINDUAN


__ADS_3

"Kamu pasti sangat ketakutan, bukan?" Endro bertanya dengan rasa bersalahnya. Dia menyentuh pipi Nummi yang dingin. Tubuh gadis itu pun ikut kuyup seperti tubuhnya saat itu.


"Sangat..." Sahut Nummi masih bersungut kecil. "Tapi aku lebih takut jika Om kenapa-napa." Ujarnya benar-benar terlihat khawatir.


"Maafin Om, Sayang... Kamu nggak usah cemas. Om baik-baik saja, kok." Ujar Endro menenangkan gadis itu. "Sekarang kita pulang ya. Sudah maghrib..." Ajak Endro mengalihkan perasaan mereka masing-masing.


"Ayok..." Sahut Nummi sembari mengangguk-angguk kecil. Tangannya dengan sigap bergelayut di lengan Endro yang kekar. Dengan langkah yang ragu, Endro meninggalkan pusara istrinya. Air matanya kembali menderas. Hanya saja, air hujan ikut mengalir di pipinya dan menghilangkan jejak kesedihannya dari pandangan Nummi.


(Menangislah... Karena air matamu, tidak akan sampai menjatuhkan harga dirimu...


Dia adalah senjata sebelum kekuatan itu datang untuk memusnahkan kesedihanmu.)


Setelah menempuh perjalanan kaki beberapa menit, mereka akhirnya sampai di rumah minimalis sederhana kediaman Endro.


Ha ha hacieuuuhhhh.... hacieeehhh...


"Om? Om baik-baik saja, kan?" Tanya Nummi panik ketika mendengar suara bersin yang tercipta dari mulut Endro.


"Iya, Sayang... Om baik-baik saja. Hacieuuuh...." Sahut Endro dengan suaranya yang terdengar sengau dan kembali bersin.


"Yaa ampun... Suara Om bindeng gitu... Bagaimana bisa baik-baik saja..." Sungut Nummi seraya mendekat kearah Endro.


"Tidak apa-apa kok, Sayang. Nanti Om minta dibikinkan air jahe pakai madu sama Bi Hana, bisa langsung sembuh kok, Sayang. Om cuma sedikit pilek saja." Ujar Endro. "Kamu masuk gih. Ganti baju, trus keringin rambut dan badanmu. Biar nggak ikut-ikutan pilek..."


"Tapi Om beneran tidak apa-apa, kan?" Desak Nummi agar Endro tidak berbohong dan menyembunyikan kondisinya saat itu.


"Iya... Om tidak apa-apa." Tekan Endro.

__ADS_1


"Baiklah... Nummi ke kamar dulu ya, Om." Pamitnya seraya beranjak dari sana. Setelah melihat anggukan dan senyum tipis Endro, Nummi berjalan dengan sedikit menjinjitkan kakinya agar lantai yang dia lewati tidak terlalu becek karena jatuhan air dari tubuhnya yang basah kuyup.


Masih ada waktu maghrib, Nummi bergegas membersihkan dirinya agar tidak terlalu terlambat untuk menunaikan ibadah tiga rakaat di waktu itu.


Setelah kewajibannya selesai dia laksanakan, Nummi membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dia merasa tubuhnya bagai diserang ribuan semut, begitu nyeri, kram dan tidak nyaman. Beberapa kali nafasnya terdengar berat dan melenguh karenanya.


"Yaa Allah... tubuhku saja yang kena hujannya sedikit dari Om Endro, jadi pegal-pegal begini. Lalu bagaimana dengan Om Endro, ya?" Gumam Nummi memikirkan sang pemilik rumah yang saat iti ditempatinya.


Tanpa ingin berpikir-pikir lagi, Nummi segera bangkit dan keluar dari kamarnya. Dia mengarahkan langkahnya menuju kamar Endro.


Hatinya begitu gelisah ketika telah mancapai pintu kamar itu. Dia berdiri gugup di sana. Dirinya ragu-ragu hendak mengetuk pintu kamar yang berada di hadapannya saat itu.


Lama berdiri sambil mondar-mandir, Numi pun memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu kamar Endro.


Tok... Tok... Tok...


"Om... Ini Nummi, Om..." Serunya setengah berteriak. Namun tidak ada sahutan dari dalam. Hal yang sama dilakukannya ketika sore tadi. Sehingga dia berinisiatif mencari sosok Endro hingga ke pemakaman. Karena tidak sabar menunggu, Nummi berinisiatif membuka sendiri pintu kamar lelaki paruh baya itu. Dia lagi-lagi mencemaskan sosok Endro yang akhir-akhir ini berubah menjadi remaja yang baru mengakami jatuh cinta.


"Om Endrooo...!" Pekik Nummi seketika. Dia berlari mengejar Endro yang tertidur di lantai dengan posisi meringkuk seperti orang kedinginan.


"Yaa Allah, Om... Badan Om panas sekali..." Ujar Nummi tampak panik. "Bi Hanaaa... Pak Haruuun..." Teriaknya memanggil dua pekerja di rumah itu yang sudah seperti keluarga bagi Endro.


*****


Nummi membaringkan tubuhnya yang lelah dia atas tempat tidur kamarnya. Air matanya baru saja berhenti setelah Endro meyakinkan dirinya bahwa lelaki paruh baya itu sudah baik-baik saja.


Beberapa kali dia membolak-balikkan tubuhnya, namun dua bola mata miliknya tak kunjung terpejam. Dia kembali bangkit, duduk berselonjoran sambil mengacak-acak rambutnya yang panjang.

__ADS_1


Diraihnya benda pipih di atas nakas samping tempat tidurnya itu. Dia menekan tombol kontak dan menemukan nomor bundanya. Tanpa terlihat berpikir, Nummi memencet tombol hijau bergambar gagang telepon meski jarum jam dinding menunjukkan waktu sudah larut.


Tut... Tut... Tut...


Assalamu'alaikum anak, Bunda...~ Terdengar sapaan begitu cepat dari seberang.


"Wa'alaikumussalam, Bunda..." Sahutnya. Matanya tampak berkaca-kaca ketika mendengar suara bundanya menyapa. Seperti meluahkan kerinduan yang teramat dalam.


Iya, Sayang... Kenapa, Nak? Kok Tumb...~ Pertanyaan bundanya menggantung ketika mendengar suara isaknya.


"Bu un daaa..." Panggilnya lirih.


Sayang... kamu menangis, Nak?~ Bundanya bertanya dengan cemas dan suara yang terdengar panik.


"Hiks... Hiks... Hiks... Nummi rindu, Bundaaa..." Ucapnya sesenggukan. Sepertinya dia memang sudah menahan sesak dalam waktu yang cukup lama, dan ketika mendengar suara Bundanyalah dia langsung menangis.


Dengan desakan Bundanya dari seberang, Nummi bercerita panjang mengenai uneg-uneg dan perasaan di dalam dadanya, hingga air matanya berhenti dan dadanya kembali terasa lapang.


"Makasih, Bunda... Maaf sudah mengganggu Bunda dan Ayah malam-malam. Assalamu'alaikum..." Ucapnya tampak begitu lega.


Setelah mendapatkan jawaban salamnya dari seberang, Nummi mengakhiri panggilan mereka. Dia kembali membaringkan tubuhnya dan tertidur dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2